قَالَ الْمَلَاُ مِنْ قَوْمِهٖٓ اِنَّا لَنَرٰىكَ فِيْ ضَلٰلٍ مُّبِيْنٍ
Qālal mala'u min qaumihī innā lanarāka fī ḍalālim mubīn(in).
Pemuka-pemuka dari kaumnya berkata, “Sesungguhnya kami benar-benar melihatmu (berada) dalam kesesatan yang nyata.”
Kaum Nabi Nuh tidak menghiraukan perkataan Nabi Nuh, bahkan pemuka-pemuka atau pembesar kaumnya berkata dengan nada menghina, “Sesungguhnya kami tidak mempercayai apa yang kamu sampaikan, malah kami memandang kamu benar-benar berada dalam kesesatan yang nyata karena kamu memusuhi tuhan-tuhan kami dan menyalahkan cara ibadah kami.”
Allah dalam ayat ini menerangkan bahwa para pemimpin kaum Nuh berpendapat sesungguhnya Nabi Nuh, itulah yang berada dalam kesesatan, disebabkan Nabi Nuh melarang mereka menyembah berhala, yang mereka anggap sebagai penolong mereka di hadapan Allah dan sebagai perantara untuk mendekatkan mereka kepada-Nya. Demikianlah tingkah laku orang-orang kafir itu, bahkan mereka sering menuduh bahwa orang-orang yang beriman kepada Allah itu adalah orang yang sesat, sebagaimana tersebut dalam firman Allah yaitu:
وَاِذَا رَاَوْهُمْ قَالُوْٓا اِنَّ هٰٓؤُلَاۤءِ لَضَاۤلُّوْنَۙ ٣٢
Dan apabila mereka melihat (orang-orang mukmin), mereka mengatakan, “Sesungguhnya mereka benar-benar orang-orang sesat”. (al-Muṭaffifīn/83: 32)
Firman Allah:
وَقَالَ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا لِلَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَوْ كَانَ خَيْرًا مَّا سَبَقُوْنَآ اِلَيْهِۗ وَاِذْ لَمْ يَهْتَدُوْا بِهٖ فَسَيَقُوْلُوْ نَ هٰذَآ اِفْكٌ قَدِيْمٌ ١١
Dan orang-orang yang kafir berkata kepada orang-orang yang beriman, “Sekiranya Al-Qur′an itu sesuatu yang baik, tentu mereka tidak pantas mendahului kami (beriman) kepadanya.” Tetapi karena mereka tidak mendapat petunjuk dengannya, maka mereka akan berkata, “Ini adalah dusta yang lama.” (al-Ahqāf/46: 11).
1. al-Mala’ الَمَلَأ (al-A‘rāf/7: 62)
Artinya pemuka-pemuka satu kaum atau kelompok masyarakat. Akar kata (م- ل- ء) berarti penuh. Pemuka kaum dinamakan mala’ karena mereka bisa memenuhi mata dan hati masyarakat umum karena kedudukan dan pengaruh mereka, atau karena mereka penuh dengan hal-hal yang dibutuhkan kaumnya. Terkadang kata ini digunakan juga untuk kelompok masyarakat tertentu bukan pemimpin-pemimpin mereka saja. Sebutan al-mala’ al-a’la untuk para Malaikat yang sangat dekat dengan Allah atau Malaikat secara umum.
2. Anṣaḥu اَنْصَحُ(al-A‘rāf /7: 62)
Artinya aku memberi nasihat. Akar kata yang terdiri dari (ن- ص- ح) artinya berkisar pada arti menyerasikan dua hal dan memperbaikinya, atau usaha secara sungguh-sungguh disertai dengan ketulusan, melakukan hal yang semestinya dan seyogyanya dilakukan oleh yang dinasihati dan keinginan untuk memperbaikinya. Seorang penjahit dinamakan al-naṣiḥ karena dia berusaha agar jahitannya serasi sehingga kelihatan baik. Orang yang menasihati orang lain berarti dia berharap agar orang lain tersebut mendapatkan kebaikan dan terhidar dari keburukan. Menasihati diri sendiri berarti menjauhkan diri dari hal yang merugikan baik di dunia maupun akhirat. Nasihat kepada Allah berarti menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Nasihat kepada Nabi berarti membenarkannya, meniru akhlaknya, menerapkan ajarannya.














































