وَّاُخْرٰى لَمْ تَقْدِرُوْا عَلَيْهَا قَدْ اَحَاطَ اللّٰهُ بِهَا ۗوَكَانَ اللّٰهُ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرًا
Wa ukhrā lam taqdirū ‘alaihā qad aḥāṭallāhu bihā, wa kānallāhu ‘alā kulli syai'in qadīrā(n).
(Allah menjanjikan pula rampasan perang) lain yang kamu belum dapat menguasainya, tetapi sungguh Allah telah menguasainya. Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.
Dan Allah telah menjanjikan pula harta rampasan yang lain yang kamu peroleh dari kemenangan-kemenangan atas negeri-negeri lain yang tidak dapat kamu perkirakan, seperti kemenangan atas negeri Persia dan Romawi, tetapi sesungguhnya Allah telah menentukannya dengan ilmu-Nya dan kekuasaan-Nya. Dan Allah Mahakuasa atas segala sesuatu, tidak ada yang menghalangi kehendak-Nya.
Di samping kemenangan dan jaminan keamanan, Allah juga menjanjikan bahwa kaum Muslimin akan menaklukkan negeri-negeri lain yang belum dapat ditaklukkan. Negeri-negeri itu telah dipastikan Allah akan dapat dikuasai oleh kaum Muslimin dan dijaga dari kemungkinan untuk ditaklukkan oleh orang lain. Kebenaran janji Allah itu terbukti di kemudian hari, dengan ditaklukkannya negeri-negeri di sekitar Jazirah Arab seperti Persia, dan sebagian kerajaan Romawi.
Pada akhir ayat ini, Allah menegaskan bahwa Dia mempunyai kekuasaan yang tidak dapat ditandingi oleh siapa pun, dan tidak ada sesuatu yang sukar bagi-Nya. Seakan-akan dengan ayat ini, Allah menyatakan bahwa memenangkan kaum Muslimin atas kaum kafir itu bukanlah suatu hal yang sukar bagi-Nya. Jika Dia menghendaki yang demikian, pasti terjadi.
1. Baṭni Makkah بَطْنِ مَكَّةَ (al-Fatḥ/48: 24)
Baṭni (jamak: buṭūn) untuk manusia dan hewan berarti perut, lambung, dan berarti dataran rendah atau lembah untuk tempat dan daerah. Sepotong ayat, bi baṭni Makkata berarti “di dataran rendah pusat kota Mekah.” Mekah adalah kota suci bagi semua orang Arab, jauh sejak sebelum Islam, dan di kota ini terletak Ka‘bah. Bagian yang menjadi pusat kota dikelilingi oleh dataran tinggi atau perbukitan di sekitarnya.
2. Aẓfarakum اَظْفَرَكُمْ (al-Fatḥ/48: 24)
Ungkapan aẓfarakum artinya: Ia (Allah) telah memberikan kemenangan kepada kamu. Ungkapan lengkapnya ba‘da an aẓfarakum ‘alaihim, artinya “setelah Allah memenangkan kamu atas mereka.” Ungkapan tersebut berhubungan dengan kemenangan kaum mukmin yang memenangkan beberapa kali peperangan sebelum Perdamaian Hudaibiyyah. Kaum kafir Mekah telah menyerang kota Medinah sebanyak tiga kali, masing-masing dengan pasukan yang kuat untuk menghancurkan Islam, tetapi setiap serangan dipukul mundur oleh kaum mukmin dengan kekalahan besar di pihak musuh. Hal tersebut diungkapkan dalam kalimat ba‘da an aẓfarakum ‘alaihim (setelah Allah memenangkan kamu atas mereka). Namun mereka menyodorkan kalimat-kalimat perjanjian yang merendahkan martabat kaum Muslimin, walaupun itu diterima oleh Nabi demi menghindari pertumpahan darah dan kecintaan beliau kepada perdamaian. Beberapa hadis sahih menerangkan bahwa Sayyidina ‘Umar bin Khaṭṭāb secara terbuka mengemukakan sakitnya perasaan beliau waktu itu.








































