وَلَوْ قَاتَلَكُمُ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا لَوَلَّوُا الْاَدْبَارَ ثُمَّ لَا يَجِدُوْنَ وَلِيًّا وَّلَا نَصِيْرًا
Wa lau qātalakumul-lażīna kafarū lawallawul-adbāra ṡumma lā yajidūna waliyyaw wa lā naṣīrā(n).
Sekiranya orang-orang yang kufur itu memerangi kamu, pastilah mereka akan berbalik melarikan diri (kalah), kemudian mereka tidak akan mendapatkan pelindung dan penolong.
Dan sekiranya orang-orang yang kafir itu yakni kaum musyrik Mekah yang telah menandatangani perjanjian Hudaibiyah memerangi kamu, pastilah mereka akan berbalik melarikan diri karena takut kepadamu dan mereka tidak akan mendapatkan pelindung yang melindungi mereka dari kebinasaan dan penolong dapat menolong mereka dari kekalahan.
Dalam ayat ini, Allah memberikan kabar gembira kepada kaum Muslimin bahwa sekiranya orang-orang Quraisy menyerang kaum Muslimin di Hudaibiyyah, pasti Ia akan menolong mereka, dan menghancurkan pasukan musyrikin. Allah juga menyatakan bahwa kaum Muslimin akan dapat menaklukkan Mekah dalam waktu yang dekat. Hal itu tergambar dalam firman-Nya, “Hai kaum Muslimin, sekiranya orang-orang Mekah memerangimu dan tidak mau menerima Perjanjian Hudaibiyyah, pastilah Kami dapat mengalahkan mereka dan mereka akan mundur dan lari tunggang-langgang, karena tidak mempunyai pembantu dan pelindung yang akan membela mereka mempertahankan diri. Tetapi kamu, hai kaum Muslimin, mempunyai pembantu dan pelindung untuk memperoleh kemenangan.”
1. Baṭni Makkah بَطْنِ مَكَّةَ (al-Fatḥ/48: 24)
Baṭni (jamak: buṭūn) untuk manusia dan hewan berarti perut, lambung, dan berarti dataran rendah atau lembah untuk tempat dan daerah. Sepotong ayat, bi baṭni Makkata berarti “di dataran rendah pusat kota Mekah.” Mekah adalah kota suci bagi semua orang Arab, jauh sejak sebelum Islam, dan di kota ini terletak Ka‘bah. Bagian yang menjadi pusat kota dikelilingi oleh dataran tinggi atau perbukitan di sekitarnya.
2. Aẓfarakum اَظْفَرَكُمْ (al-Fatḥ/48: 24)
Ungkapan aẓfarakum artinya: Ia (Allah) telah memberikan kemenangan kepada kamu. Ungkapan lengkapnya ba‘da an aẓfarakum ‘alaihim, artinya “setelah Allah memenangkan kamu atas mereka.” Ungkapan tersebut berhubungan dengan kemenangan kaum mukmin yang memenangkan beberapa kali peperangan sebelum Perdamaian Hudaibiyyah. Kaum kafir Mekah telah menyerang kota Medinah sebanyak tiga kali, masing-masing dengan pasukan yang kuat untuk menghancurkan Islam, tetapi setiap serangan dipukul mundur oleh kaum mukmin dengan kekalahan besar di pihak musuh. Hal tersebut diungkapkan dalam kalimat ba‘da an aẓfarakum ‘alaihim (setelah Allah memenangkan kamu atas mereka). Namun mereka menyodorkan kalimat-kalimat perjanjian yang merendahkan martabat kaum Muslimin, walaupun itu diterima oleh Nabi demi menghindari pertumpahan darah dan kecintaan beliau kepada perdamaian. Beberapa hadis sahih menerangkan bahwa Sayyidina ‘Umar bin Khaṭṭāb secara terbuka mengemukakan sakitnya perasaan beliau waktu itu.














































