وَهُوَ الَّذِيْ كَفَّ اَيْدِيَهُمْ عَنْكُمْ وَاَيْدِيَكُمْ عَنْهُمْ بِبَطْنِ مَكَّةَ مِنْۢ بَعْدِ اَنْ اَظْفَرَكُمْ عَلَيْهِمْ ۗوَكَانَ اللّٰهُ بِمَا تَعْمَلُوْنَ بَصِيْرًا
Wa huwal-lażī kaffa aidiyahum ‘ankum wa aidiyakum ‘anhum bibaṭni makkata mim ba‘di an aẓfarakum ‘alaihim, wa kānallāh bimā ta‘malūna baṣīrā(n).
Dialah (Allah) yang menahan tangan (mencegah) mereka dari (upaya menganiaya) kamu dan menahan tangan (mencegah) kamu dari (upaya menganiaya) mereka di tengah (kota) Makkah setelah Dia memenangkan kamu atas mereka. Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.
Dan Dialah yang mencegah tangan mereka yakni orang-orang musyrik Mekah yang berangkat untuk menyerbu tentara Rasulullah di Hudaibiyah, dari membinasakan kamu dan mencegah tangan kamu dari membinasakan mereka ketika kamu berada di tengah kota Mekah setelah Allah memenangkan kamu atas mereka, yakni menjadikan kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dari mereka melalui Perjanjian Hudaibiyah. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.
Diriwayatkan oleh Aḥmad, Ibnu Abī Syaibah, ‘Abd bin Ḥumaid, Muslim, Abū Dāwud, dan an-Nasā'ī, dari Anas bin Mālik, bahwa ia berkata, “Pada Perang Hudaibiyyah, 80 orang musyrik Mekah dengan bersenjata lengkap telah menyerbu perkemahan Rasulullah dan para sahabat dari bukit Tan‘īm. Berkat doa Rasulullah saw, serangan itu dapat dipatahkan dan semua penyerbu itu dapat ditawan. Kemudian Rasulullah saw membebaskan dan memaafkan mereka maka turunlah ayat ini.”
Allah yang menahan dan menghambat serbuan orang-orang musyrik yang menyerbu perkemahan Rasulullah di Hudaibiyyah dan Allah pula yang menjanjikan kemenangan bagi Rasulullah saw dan kaum Muslimin. Kemudian Dia pula yang menimbulkan dalam hati Rasulullah saw rasa iba dan kasih sayang sehingga beliau membebaskan orang-orang kafir yang ditawan. Tidak seorang pun di antara mereka yang dibunuh, sekalipun kaum Muslimin telah berhasil memperoleh kemenangan.
Pada akhir ayat ini, Allah menegaskan bahwa Dia Maha Mengetahui semua yang dikerjakan oleh makhluk-Nya, tidak ada suatu apa pun yang tersembunyi bagi-Nya. Oleh karena itu, Dia akan memberi balasan segala amal perbuatan mereka dengan balasan yang setimpal dan adil.
1. Baṭni Makkah بَطْنِ مَكَّةَ (al-Fatḥ/48: 24)
Baṭni (jamak: buṭūn) untuk manusia dan hewan berarti perut, lambung, dan berarti dataran rendah atau lembah untuk tempat dan daerah. Sepotong ayat, bi baṭni Makkata berarti “di dataran rendah pusat kota Mekah.” Mekah adalah kota suci bagi semua orang Arab, jauh sejak sebelum Islam, dan di kota ini terletak Ka‘bah. Bagian yang menjadi pusat kota dikelilingi oleh dataran tinggi atau perbukitan di sekitarnya.
2. Aẓfarakum اَظْفَرَكُمْ (al-Fatḥ/48: 24)
Ungkapan aẓfarakum artinya: Ia (Allah) telah memberikan kemenangan kepada kamu. Ungkapan lengkapnya ba‘da an aẓfarakum ‘alaihim, artinya “setelah Allah memenangkan kamu atas mereka.” Ungkapan tersebut berhubungan dengan kemenangan kaum mukmin yang memenangkan beberapa kali peperangan sebelum Perdamaian Hudaibiyyah. Kaum kafir Mekah telah menyerang kota Medinah sebanyak tiga kali, masing-masing dengan pasukan yang kuat untuk menghancurkan Islam, tetapi setiap serangan dipukul mundur oleh kaum mukmin dengan kekalahan besar di pihak musuh. Hal tersebut diungkapkan dalam kalimat ba‘da an aẓfarakum ‘alaihim (setelah Allah memenangkan kamu atas mereka). Namun mereka menyodorkan kalimat-kalimat perjanjian yang merendahkan martabat kaum Muslimin, walaupun itu diterima oleh Nabi demi menghindari pertumpahan darah dan kecintaan beliau kepada perdamaian. Beberapa hadis sahih menerangkan bahwa Sayyidina ‘Umar bin Khaṭṭāb secara terbuka mengemukakan sakitnya perasaan beliau waktu itu.

