لَقَدْ صَدَقَ اللّٰهُ رَسُوْلَهُ الرُّءْيَا بِالْحَقِّ ۚ لَتَدْخُلُنَّ الْمَسْجِدَ الْحَرَامَ اِنْ شَاۤءَ اللّٰهُ اٰمِنِيْنَۙ مُحَلِّقِيْنَ رُءُوْسَكُمْ وَمُقَصِّرِيْنَۙ لَا تَخَافُوْنَ ۗفَعَلِمَ مَا لَمْ تَعْلَمُوْا فَجَعَلَ مِنْ دُوْنِ ذٰلِكَ فَتْحًا قَرِيْبًا
Laqad ṣadaqallāhu rasūlahur-ru'yā bil-ḥaqq(i), latadkhulunnal-masjidal-ḥarāma in syā'allāhu āminīn(a), muḥalliqīna ru'ūsakum wa muqaṣṣirīn(a), lā takhāfūn(a), fa‘alima mā lam ta‘lamū faja‘ala min dūni żālika fatḥan qarībā(n).
Sungguh, Allah benar-benar akan membuktikan kepada Rasul-Nya tentang kebenaran mimpinya dengan sebenar-benarnya, (yaitu) bahwa kamu pasti akan memasuki Masjidilharam, jika Allah menghendaki, dalam keadaan aman, dengan mencukur rambut kepala,696) dan memendekkannya, sedang kamu tidak merasa takut. Allah mengetahui apa yang tidak kamu ketahui dan sebelum itu Dia telah memberikan kemenangan yang dekat.697)
Sungguh, Allah akan membuktikan kepada Rasul-Nya yaitu Nabi Muhammad tentang kebenaran mimpinya yang diwahyukan Allah bahwa kamu, wahai sahabat-sahabat Nabi yang turut serta ke Hudaibiyah, pasti akan memasuki Masjidilharam pada tahun yang akan datang, jika Allah menghendaki dalam keadaan aman, yakni pada saat memasukinya kamu tidak dihalangi orang siapa pun. Sebagian dari kamu memasuki Masjidilharam dengan menggundul rambut kepala dan sebagian dari kamu dengan memendekkannya, sedang kamu tidak merasa takut kepada siapa pun. Maka Allah mengetahui apa yang tidak kamu ketahui dan selain itu Dia telah memberikan kemenangan yang dekat, yakni kemenangan di Hudaibiyah ini atau kemenangan di Khaibar segera sesudah terjadinya Perjanjian Hudaibiyah.
Allah menerangkan bahwa mimpi Rasulullah yang melihat dirinya dan para sahabatnya memasuki kota Mekah dengan aman dan tenteram serta beliau melihat pula di antara para sahabat ada yang menggunting dan mencukur rambutnya adalah mimpi yang benar dan pasti akan terjadi dalam waktu dekat.
1. Ar-Ru’yā bil-Ḥaqq الرُّءْيَا بِالْحَقِّ (al-Fatḥ/48: 27)
Kata atau ungkapan tersebut adalah maf‘ūl bih (objek penderita) dari fi‘il (kata kerja) dan fā‘il (subjek) sebelumnya, yaitu: laqad ṣadaqallāhu rasūlahu, yang artinya sungguh, Allah akan membuktikan kepada rasul-Nya. Ar-ru’yā bil-ḥaqq, artinya “akan kebenaran mimpinya.” Keberangkatan Nabi Muhammad ke Mekah untuk melaksanakan ibadah umrah pada tahun ke-6 Hijrah, yang diiringi oleh 1400 sahabat, itu dilakukan atas dasar mimpi yang diuraikan dalam ayat ini. Dalam mimpi, Nabi saw melihat dirinya dan para sahabat menunaikan ibadah umrah. Tetapi kaum kafir Mekah merintangi beliau di Hudaibiyyah, dan di sini dibuatlah suatu perjanjian perdamaian yang menurut bunyi perjanjian Nabi saw harus kembali ke Medinah tanpa melakukan ibadah umrah. Oleh karena itu, kebenaran mimpi Rasulullah saw ditekankan Allah di sini, hal ini agar dimaklumi bahwa keberangkatan beliau bersama sejumlah sahabat untuk menunaikan ibadah ke Mekah adalah benar atas dasar mimpi beliau yang juga benar dan dibenarkan Allah. Jadi, mimpi Rasulullah yang menjadi dasar keberangkatan beliau bersama sejumlah sahabat untuk menunaikan ibadah umrah ke Mekah merupakan mimpi yang benar (ar-ru’yā bil-ḥaqq), yakni suatu mimpi yang berasal dari Allah.
2. Muḥalliqīn مُحَلِّقِيْنَ (al-Fatḥ/48: 27)
Muḥalliqīn adalah bentuk isim fā‘il dari ḥallaqa-yuḥalliqu-muḥa lliqun. Akar katanya adalah ḥa-lam-qaf artinya berkisar pada tiga hal yaitu pertama, mencukur rambut sebagaimana yang dimaksud pada ayat ini. Jika dikatakan ra'sun ḥalīq artinya rambut kepala yang dicukur habis. Kedua, alat yang melingkar. Cincin raja disebut juga al-ḥilq dan ketiga, ketinggian sesuatu. Jika dikatakan ḥallaqa aṭ-ṭā'ir artinya burung itu terbang tinggi.
3. Muqaṣṣirīn مُقَصِّرِيْنَ (al-Fatḥ/48: 27)
Muqaṣṣirīn merupakan bentuk isim fā‘il dari qaṣṣara-yuqaṣṣiru-mu qaṣṣirun. Akar katanya qaf-ṣad-ra' artinya berkisar pada dua hal, yaitu pertama, tidak tercapainya sesuatu ke batas akhir. Kedua, tertahan, terkekang, dan yang sejenisnya. Arti “pendek” lawan dari panjang juga termasuk dalam kategori ini. Salat yang di-qaṣar adalah salat yang diringkas, diperpendek, semestinya empat rakaat menjadi dua rakaat. Orang yang tidak melaksanakan pekerjaan sesuai dengan yang diharapkan disebut juga muqaṣṣir. Al-Qaṣr artinya istana, karena orang yang tinggal di dalamnya tertahan di sana. Orang yang memangkas rambutnya sedikit atau memendekkannya disebut muqaṣṣir sebagaimana pada ayat ini.

