اَصْحٰبُ الْجَنَّةِ يَوْمَىِٕذٍ خَيْرٌ مُّسْتَقَرًّا وَّاَحْسَنُ مَقِيْلًا
Aṣḥābul-jannati yauma'iżin khairum mustaqarraw wa aḥsanu maqīlā(n).
Para penghuni surga pada hari itu paling baik tempat tinggalnya dan paling indah tempat istirahatnya.
Sementara itu, penghuni-penghuni surga, yaitu orang yang ketika di dunia beriman kepada Allah dan beramal salih, pada hari itu yaitu pada hari Kiamat, merekalah yang paling baik tempat tinggalnya dan paling indah tempat istirahatnya, yang sulit digambarkan dengan kata-kata. Mereka berada di surga yang sangat indah, yang di bawahnya mengalir sungai-sungai dan berbagai hidangan yang beraneka macam rasanya. Mereka mendapatkan kebahagiaan abadi. Dan pada puncaknya adalah mereka memandang wajah Allah dengan penuh ketakjuban, Tuhan yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang.
Berbeda dengan nasib orang-orang yang disebut di atas, orang-orang yang beriman menjadi penghuni surga di akhirat. Mereka mendapatkan tempat tinggal yang jauh lebih baik dibandingkan dengan tempat kediaman kaum musyrikin di dunia yang selalu mereka jadikan lambang kemegahan dan kemewahan. Tempat kediaman ahli surga merupakan tempat istirahat yang paling nyaman. Kenikmatan di dunia hanya sementara karena hanya dapat dirasakan selama hidup di dunia dan kesenangannya pun bisa memperdaya, seperti tersebut dalam firman Allah.
كُلُّ نَفْسٍ ذَاۤىِٕقَةُ الْمَوْتِۗ وَاِنَّمَا تُوَفَّوْنَ اُجُوْرَكُمْ يَوْمَ الْقِيٰمَةِ ۗ فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَاُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ ۗ وَمَا الْحَيٰوةُ الدُّنْيَآ اِلَّا مَتَاعُ الْغُرُوْرِ ١٨٥
Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Dan hanya pada hari Kiamat sajalah diberikan dengan sempurna balasanmu. Barang siapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, sungguh, dia memperoleh kemenangan. Kehidupan dunia hanyalah kesenangan yang memperdaya. (Āli ‘Imrān/3: 185).
1. ‘Utuwwan Kabīran عُتُوًّا كَبِيْرًا (al-Furqān/25: 21)
‘Utuwwan kabīran adalah maf’ūl muṭlaq, yaitu maf’ūl yang memper-gunakan maṣdar dari fi’il (kata kerja) yang dipergunakan. Fi’il yang di-pergunakan dalam kalimat ini yaitu ‘atā-ya’tū-’utuwwan artinya: sombong, bertindak sewenang-wenang, melampaui batas. Maf’ūl muṭlaq dapat berarti: (1) ta’kīd (memperkuat), (2) keterangan kuantitas (berapa kali dilakukan), (3) keterangan tentang jenis atau bentuk perbuatan, dan (4) keterangan bahwa hal itu betul-betul dilakukan. Kalimat lengkap dalam ayat 21 Surah al-Furqān ini ialah: ﻛﺒﻴﺮﺍ ﻭﻋﺘﻮﻋﺘﻮﺍ, artinya: dan mereka telah berbuat sombong dengan kesombongan yang besar, yaitu yang telah melampaui batas dalam melakukan kezaliman. Kalimat ini sebagai akhir ayat dan memberikan kesimpulan tentang perilaku orang-orang yang tidak percaya pada hari kebangkitan dan sama sekali tidak mengharapkan bertemu dengan Tuhan, maka mereka bicara yang bukan-bukan seperti nabi haruslah malaikat, atau ingin melihat Tuhan di dunia, dan sebagainya. Mereka sungguh amat sombong dengan kesombongan yang besar.
2. Ḥijran Maḥjūran حِجْرًا مَحْجُوْرًا (al-Furqān/25: 22)
Ḥijran maḥjūran berasal dari fi’il ﺣﺠﺮ - ﻳﺤﺠﺮ - ﺣﺠﺮﺍ artinya: mencegah, melarang, atau mengharamkan. Ḥijran adalah bentuk maṣdar dan maḥjūran bentuk isim maf’ūl. Ungkapan yang diucapkan orang-orang yang berdosa dalam ayat 22 Surah al-Furqān/25 ini yaitu ḥijran maḥjūran berarti diharamkan bagi mereka, mereka dilarang menerima kabar baik yaitu ampunan dari Allah dan memperoleh tempat bahagia di surga karena ampunan dan pahala surga hanya untuk orang yang beriman dan beramal saleh. Ungkapan ini menunjukkan keputusan buruk bagi mereka, yaitu orang-orang kafir yang tidak percaya pada hari kebangkitan, karena hidupnya di dunia mengingkari kebenaran yang dibawa dan ditunjukkan rasul, maka di akhirat mereka tertutup dari menerima berita gembira tentang kehidupan di surga dan mereka sama sekali tidak memperoleh ampunan dan kasih sayang Allah.
3. Habā’an Manṡūran هَبَاءً مَنْثُوْرًا (al-Furqān/25: 23)
Habā’an manṡūran artinya debu yang beterbangan. Berasal dari fi‘il: habā-yahbū-habwan artinya: naik, beterbangan, berhamburan. Al-Habā’ artinya debu. Sedangkan manṡūr adalah isim maf’ūl dari fi’il ﻧﺜﺮﻳﻨﺜﺮﻧﺜ ﺍ artinya: bertebaran, bertaburan, berhamburan. Jadi manṡūr artinya yang ditebarkan, yang ditaburkan, yang dihamburkan. Segala amal perbuatan orang kafir selama di dunia, yang baik-baik sekalipun, tidak akan memperoleh balasan dari Allah, tetapi hanya akan diperlihatkan saja kepada mereka seperti debu yang beterbangan. Orang kafir yang tidak percaya kepada Allah dan tidak mengikuti petunjuk rasul meskipun telah berbuat baik tidak akan memperoleh manfaat apa-apa dari kebaikannya itu di akhirat nanti, karena mereka memang tidak beriman kepada Allah. Mereka hanya dapat melihat dengan penuh penyesalan.














































