وَقَدِمْنَآ اِلٰى مَا عَمِلُوْا مِنْ عَمَلٍ فَجَعَلْنٰهُ هَبَاۤءً مَّنْثُوْرًا
Wa qadimnā ilā mā ‘amilū min ‘amalin fa ja‘alnāhu habā'am manṡūrā(n).
Kami perlihatkan segala amal529) yang mereka kerjakan, lalu Kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang beterbangan.
Kemudian Allah menjelaskan tentang nasib dari amal kebajikan yang telah diperbuat oleh orang kafir di akhirat nanti. Dan Kami akan perlihatkan segala amal kebajikan yang mereka kerjakan, seperti membantu orang miskin dan amal sosial lainnya. lalu Kami akan jadikan amal itu bagaikan debu yang beterbangan. Sebab, perbuatan baik tidak akan diterima Allah jika pelakunya kafir. Hasil dari kebajikan itu hanya bermanfaat di dunia saja seperti mendapat pujian dan penghargaan dari masyarakat.
Dalam ayat ini, Allah menjelaskan sebab-sebab kemalangan dan kerugian orang kafir. Allah akan memperlihatkan segala perbuatan yang mereka anggap baik yang pernah dikerjakan selama hidup di dunia, seperti silatur-rahim, menolong orang yang menderita, memberikan derma untuk meri-ngankan bencana alam, memberi bantuan kepada rumah sakit dan yatim piatu, membebaskan atau menebus tawanan, dan sebagainya. Sebanyak apa pun kebaikan mereka, tidak akan memperoleh imbalan apa pun di sisi Allah. Mereka hanya dapat memandang kebaikan itu tanpa dapat mengambil manfaatnya sedikit pun. Kebaikan-kebaikan mereka itu lalu dijadikan Allah bagaikan debu yang beterbangan di angkasa karena tidak dilandasi iman yang benar kepada Allah. Mereka hanya bisa duduk termenung penuh dengan penyesalan. Itulah yang mereka rasakan sebagai akibat kekafiran dan kesombongan mereka.
1. ‘Utuwwan Kabīran عُتُوًّا كَبِيْرًا (al-Furqān/25: 21)
‘Utuwwan kabīran adalah maf’ūl muṭlaq, yaitu maf’ūl yang memper-gunakan maṣdar dari fi’il (kata kerja) yang dipergunakan. Fi’il yang di-pergunakan dalam kalimat ini yaitu ‘atā-ya’tū-’utuwwan artinya: sombong, bertindak sewenang-wenang, melampaui batas. Maf’ūl muṭlaq dapat berarti: (1) ta’kīd (memperkuat), (2) keterangan kuantitas (berapa kali dilakukan), (3) keterangan tentang jenis atau bentuk perbuatan, dan (4) keterangan bahwa hal itu betul-betul dilakukan. Kalimat lengkap dalam ayat 21 Surah al-Furqān ini ialah: ﻛﺒﻴﺮﺍ ﻭﻋﺘﻮﻋﺘﻮﺍ, artinya: dan mereka telah berbuat sombong dengan kesombongan yang besar, yaitu yang telah melampaui batas dalam melakukan kezaliman. Kalimat ini sebagai akhir ayat dan memberikan kesimpulan tentang perilaku orang-orang yang tidak percaya pada hari kebangkitan dan sama sekali tidak mengharapkan bertemu dengan Tuhan, maka mereka bicara yang bukan-bukan seperti nabi haruslah malaikat, atau ingin melihat Tuhan di dunia, dan sebagainya. Mereka sungguh amat sombong dengan kesombongan yang besar.
2. Ḥijran Maḥjūran حِجْرًا مَحْجُوْرًا (al-Furqān/25: 22)
Ḥijran maḥjūran berasal dari fi’il ﺣﺠﺮ - ﻳﺤﺠﺮ - ﺣﺠﺮﺍ artinya: mencegah, melarang, atau mengharamkan. Ḥijran adalah bentuk maṣdar dan maḥjūran bentuk isim maf’ūl. Ungkapan yang diucapkan orang-orang yang berdosa dalam ayat 22 Surah al-Furqān/25 ini yaitu ḥijran maḥjūran berarti diharamkan bagi mereka, mereka dilarang menerima kabar baik yaitu ampunan dari Allah dan memperoleh tempat bahagia di surga karena ampunan dan pahala surga hanya untuk orang yang beriman dan beramal saleh. Ungkapan ini menunjukkan keputusan buruk bagi mereka, yaitu orang-orang kafir yang tidak percaya pada hari kebangkitan, karena hidupnya di dunia mengingkari kebenaran yang dibawa dan ditunjukkan rasul, maka di akhirat mereka tertutup dari menerima berita gembira tentang kehidupan di surga dan mereka sama sekali tidak memperoleh ampunan dan kasih sayang Allah.
3. Habā’an Manṡūran هَبَاءً مَنْثُوْرًا (al-Furqān/25: 23)
Habā’an manṡūran artinya debu yang beterbangan. Berasal dari fi‘il: habā-yahbū-habwan artinya: naik, beterbangan, berhamburan. Al-Habā’ artinya debu. Sedangkan manṡūr adalah isim maf’ūl dari fi’il ﻧﺜﺮﻳﻨﺜﺮﻧﺜ ﺍ artinya: bertebaran, bertaburan, berhamburan. Jadi manṡūr artinya yang ditebarkan, yang ditaburkan, yang dihamburkan. Segala amal perbuatan orang kafir selama di dunia, yang baik-baik sekalipun, tidak akan memperoleh balasan dari Allah, tetapi hanya akan diperlihatkan saja kepada mereka seperti debu yang beterbangan. Orang kafir yang tidak percaya kepada Allah dan tidak mengikuti petunjuk rasul meskipun telah berbuat baik tidak akan memperoleh manfaat apa-apa dari kebaikannya itu di akhirat nanti, karena mereka memang tidak beriman kepada Allah. Mereka hanya dapat melihat dengan penuh penyesalan.









































