يَوْمَ يَرَوْنَ الْمَلٰۤىِٕكَةَ لَا بُشْرٰى يَوْمَىِٕذٍ لِّلْمُجْرِمِيْنَ وَيَقُوْلُوْنَ حِجْرًا مَّحْجُوْرًا
Yauma yaraunal-malā'ikata lā busyrā yauma'iżil lil-mujrimīna wa yaqūlūna ḥijram maḥjūrā(n).
(Ingatlah) hari (ketika) mereka melihat para malaikat. Pada hari itu tidak ada kabar gembira bagi para pendosa dan mereka (para malaikat) berkata, “Sungguh terlarang bagi kamu (kabar gembira).”528)
Ingatlah pada hari ketika mereka melihat para malaikat, yang dahulu mereka mintakan kepada Nabi Muhammad didatangkan, ternyata yang datang kepada mereka adalah malaikat penyiksa. Pada hari itu tidak ada kabar gembira bagi orang-orang yang berdosa sementara kaum mukmin mendapatkan kabar gembira itu dari para malaikat bahwa dosa-dosa mereka diampuni oleh Allah, dan mereka akan dimasukkan ke dalam surga. Dan mereka para malaikat itu berkata, kepada orang kafir “Hijran mahjura”. yang berarti: terlarang bagi kalian mendapatkan berita gembira itu.
Pada ayat ini dijelaskan keadaan orang-orang kafir dan musyrik ketika berjumpa dengan malaikat di akhirat. Malaikat yang mereka inginkan sebagai rasul di dunia, atau sebagai saksi dari kebenaran kenabian Muhammad, akan mereka temui di akhirat. Namun demikian, pertemuan itu tidak seperti yang mereka harapkan karena mereka tidak akan mendengar kabar gembira dari para malaikat itu, baik berupa ampunan dari dosa, atau perintah masuk surga. Mereka hanya mendengar perkataan yang sangat menyakitkan hati, yaitu ḥijran maḥjūran, yang berarti “(surga) haram dan diharamkan bagi mereka”. Ucapan malaikat itu dianggap sangat menyakitkan, karena biasa diucapkan orang Arab ketika mendapatkan kesulitan.
Adapun orang-orang mukmin disambut baik oleh para malaikat yang datang menyongsong mereka dan memberi kabar gembira untuk masuk surga. Hal ini digambarkan dalam firman Allah:
اِنَّ الَّذِيْنَ قَالُوْا رَبُّنَا اللّٰهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوْا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلٰۤىِٕكَة ُ اَلَّا تَخَافُوْا وَلَا تَحْزَنُوْا وَاَبْشِرُوْا بِالْجَنَّةِ الَّتِيْ كُنْتُمْ تُوْعَدُوْنَ ٣٠
Sesungguhnya orang-orang yang berkata, “Tuhan kami adalah Allah,” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat-malaikat akan turun kepada mereka (dengan berkata), “Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu bersedih hati; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan kepadamu.” (Fuṣṣilat/41: 30)
1. ‘Utuwwan Kabīran عُتُوًّا كَبِيْرًا (al-Furqān/25: 21)
‘Utuwwan kabīran adalah maf’ūl muṭlaq, yaitu maf’ūl yang memper-gunakan maṣdar dari fi’il (kata kerja) yang dipergunakan. Fi’il yang di-pergunakan dalam kalimat ini yaitu ‘atā-ya’tū-’utuwwan artinya: sombong, bertindak sewenang-wenang, melampaui batas. Maf’ūl muṭlaq dapat berarti: (1) ta’kīd (memperkuat), (2) keterangan kuantitas (berapa kali dilakukan), (3) keterangan tentang jenis atau bentuk perbuatan, dan (4) keterangan bahwa hal itu betul-betul dilakukan. Kalimat lengkap dalam ayat 21 Surah al-Furqān ini ialah: ﻛﺒﻴﺮﺍ ﻭﻋﺘﻮﻋﺘﻮﺍ, artinya: dan mereka telah berbuat sombong dengan kesombongan yang besar, yaitu yang telah melampaui batas dalam melakukan kezaliman. Kalimat ini sebagai akhir ayat dan memberikan kesimpulan tentang perilaku orang-orang yang tidak percaya pada hari kebangkitan dan sama sekali tidak mengharapkan bertemu dengan Tuhan, maka mereka bicara yang bukan-bukan seperti nabi haruslah malaikat, atau ingin melihat Tuhan di dunia, dan sebagainya. Mereka sungguh amat sombong dengan kesombongan yang besar.
2. Ḥijran Maḥjūran حِجْرًا مَحْجُوْرًا (al-Furqān/25: 22)
Ḥijran maḥjūran berasal dari fi’il ﺣﺠﺮ - ﻳﺤﺠﺮ - ﺣﺠﺮﺍ artinya: mencegah, melarang, atau mengharamkan. Ḥijran adalah bentuk maṣdar dan maḥjūran bentuk isim maf’ūl. Ungkapan yang diucapkan orang-orang yang berdosa dalam ayat 22 Surah al-Furqān/25 ini yaitu ḥijran maḥjūran berarti diharamkan bagi mereka, mereka dilarang menerima kabar baik yaitu ampunan dari Allah dan memperoleh tempat bahagia di surga karena ampunan dan pahala surga hanya untuk orang yang beriman dan beramal saleh. Ungkapan ini menunjukkan keputusan buruk bagi mereka, yaitu orang-orang kafir yang tidak percaya pada hari kebangkitan, karena hidupnya di dunia mengingkari kebenaran yang dibawa dan ditunjukkan rasul, maka di akhirat mereka tertutup dari menerima berita gembira tentang kehidupan di surga dan mereka sama sekali tidak memperoleh ampunan dan kasih sayang Allah.
3. Habā’an Manṡūran هَبَاءً مَنْثُوْرًا (al-Furqān/25: 23)
Habā’an manṡūran artinya debu yang beterbangan. Berasal dari fi‘il: habā-yahbū-habwan artinya: naik, beterbangan, berhamburan. Al-Habā’ artinya debu. Sedangkan manṡūr adalah isim maf’ūl dari fi’il ﻧﺜﺮﻳﻨﺜﺮﻧﺜ ﺍ artinya: bertebaran, bertaburan, berhamburan. Jadi manṡūr artinya yang ditebarkan, yang ditaburkan, yang dihamburkan. Segala amal perbuatan orang kafir selama di dunia, yang baik-baik sekalipun, tidak akan memperoleh balasan dari Allah, tetapi hanya akan diperlihatkan saja kepada mereka seperti debu yang beterbangan. Orang kafir yang tidak percaya kepada Allah dan tidak mengikuti petunjuk rasul meskipun telah berbuat baik tidak akan memperoleh manfaat apa-apa dari kebaikannya itu di akhirat nanti, karena mereka memang tidak beriman kepada Allah. Mereka hanya dapat melihat dengan penuh penyesalan.













































