Geligi Animasi
Geligi Semua Satu Platform
Ayat 21 - Surat Al-Furqān (Pembeda)
الفرقان
Ayat 21 / 77 •  Surat 25 / 114 •  Halaman 362 •  Quarter Hizb 37 •  Juz 19 •  Manzil 4 • Makkiyah

۞ وَقَالَ الَّذِيْنَ لَا يَرْجُوْنَ لِقَاۤءَنَا لَوْلَآ اُنْزِلَ عَلَيْنَا الْمَلٰۤىِٕكَةُ اَوْ نَرٰى رَبَّنَا ۗ لَقَدِ اسْتَكْبَرُوْا فِيْٓ اَنْفُسِهِمْ وَعَتَوْ عُتُوًّا كَبِيْرًا

Wa qālal-lażīna lā yarjūna liqā'anā lau lā unzila ‘alainal-malā'ikata au narā rabbanā, laqadistakbarū fī anfusihim wa ‘atau ‘utuwwan kabīrā(n).

Orang-orang yang tidak mengharapkan pertemuan dengan Kami (di akhirat) berkata, “Mengapa tidak diturunkan kepada kita malaikat atau (mengapa) kita (tidak) melihat Tuhan kita?” Sungguh, mereka benar-benar telah menyombongkan diri dan melampaui batas (kezaliman) yang sangat besar.

Makna Surat Al-Furqan Ayat 21
Isi Kandungan oleh Tafsir Wajiz

Ayat ini menjelaskan tentang alasan lainnya yang dibuat-buat kaum musyrik Mekah karena keengganan mereka beriman kepada Nabi Muhammad. Dan orang-orang yang tidak mengharapkan pertemuan dengan Kami di akhirat karena keingkaran mereka terhadap adanya hari akhir, atau karena ketidaktakutan mereka terhadapnya, mereka berkata, “Mengapa bukan para malaikat yang diturunkan kepada kita dalam wujudnya yang nyata, yang memberitahukan tentang kebenaran Nabi Muhammad, atau mengapa kita tidak melihat Tuhan kita dengan mata kepala kita yang juga memberitahukan tentang kebenaran Nabi Muhammad?.” Permintaan-permintaan tersebut jelas mengada-ada, sama dengan apa yang dilakukan Bani Israil dahulu. Hal itu jelas muncul dari hati mereka yang penuh kedengkian. Sungguh, mereka telah me-nyombongkan diri mereka karena terbujuk oleh hawa nafsu. Mereka menganggap bahwa merekalah yang lebih mulia, baik karena kekayaan atau kedudukan mereka di masyarakat. Dan mereka benar-benar telah melampaui batas dalam melakukan kezaliman. Demikianlah jika hati telah tertutup oleh kekafiran, semua kebenaran yang ada di hadapan, walau sudah terang benderang, tidak diacuhkan sama sekali.

Isi Kandungan oleh Tafsir Tahlili

Orang-orang yang tidak percaya hari kebangkitan atau mengingkari hari Kiamat, di mana mereka akan dihadapkan ke hadirat Allah untuk diadili segala perbuatannya di dunia, dengan penuh kesombongan bertanya kenapa tidak diturunkan kepada mereka malaikat yang menjadi saksi atas kebenaran Muhammad sebagai nabi, untuk menghilangkan keraguan mereka tentang kebenaran wahyu yang diturunkan kepadanya. Jika hal itu sulit untuk dilaksanakan, mengapa mereka tidak langsung saja melihat Tuhan yang akan menerangkan kepada mereka bahwa Muhammad itu benar-benar diutus oleh-Nya untuk menyampaikan kabar gembira dan memberi peringatan. Jika yang demikian itu terlaksana, mereka mengatakan akan beriman kepada Muhammad. Ucapan demikian itu tidak lain hanyalah karena kesombongan mereka sendiri, dan karena kezaliman mereka dengan mendustakan seorang utusan Allah.

Mereka sama sekali tidak menghiraukan mukjizat nyata yang telah diperlihatkan oleh Rasulullah kepada mereka. Setiap orang yang berakal sehat pasti akan tercengang mendengar ucapan-ucapan mereka itu dan menganggapnya sebagai ucapan orang yang tidak berakal. Seandainya Allah mengabulkan keinginan itu, mereka tetap tidak akan beriman kepada Allah dan rasul-Nya, sebagaimana tercantum dalam firman Allah:

وَلَوْ اَنَّنَا نَزَّلْنَآ اِلَيْهِمُ الْمَلٰۤىِٕكَة َ وَكَلَّمَهُمُ الْمَوْتٰى وَحَشَرْنَا عَلَيْهِمْ كُلَّ شَيْءٍ قُبُلًا مَّا كَانُوْا لِيُؤْمِنُوْٓا اِلَّآ اَنْ يَّشَاۤءَ اللّٰهُ وَلٰكِنَّ اَكْثَرَهُمْ يَجْهَلُوْنَ ١١١

Dan sekalipun Kami benar-benar menurunkan malaikat kepada mereka, dan orang yang telah mati berbicara dengan mereka dan Kami kumpulkan (pula) di hadapan mereka segala sesuatu (yang mereka inginkan), mereka tidak juga akan beriman, kecuali jika Allah menghendaki. Tapi kebanyakan mereka tidak mengetahui (arti kebenaran). (al-An‘ām/6: 111)

Isi Kandungan Kosakata

1. ‘Utuwwan Kabīran عُتُوًّا كَبِيْرًا (al-Furqān/25: 21)

‘Utuwwan kabīran adalah maf’ūl muṭlaq, yaitu maf’ūl yang memper-gunakan maṣdar dari fi’il (kata kerja) yang dipergunakan. Fi’il yang di-pergunakan dalam kalimat ini yaitu ‘atā-ya’tū-’utuwwan artinya: sombong, bertindak sewenang-wenang, melampaui batas. Maf’ūl muṭlaq dapat berarti: (1) ta’kīd (memperkuat), (2) keterangan kuantitas (berapa kali dilakukan), (3) keterangan tentang jenis atau bentuk perbuatan, dan (4) keterangan bahwa hal itu betul-betul dilakukan. Kalimat lengkap dalam ayat 21 Surah al-Furqān ini ialah: ﻛﺒﻴﺮﺍ ﻭﻋﺘﻮﻋﺘﻮﺍ, artinya: dan mereka telah berbuat sombong dengan kesombongan yang besar, yaitu yang telah melampaui batas dalam melakukan kezaliman. Kalimat ini sebagai akhir ayat dan memberikan kesimpulan tentang perilaku orang-orang yang tidak percaya pada hari kebangkitan dan sama sekali tidak mengharapkan bertemu dengan Tuhan, maka mereka bicara yang bukan-bukan seperti nabi haruslah malaikat, atau ingin melihat Tuhan di dunia, dan sebagainya. Mereka sungguh amat sombong dengan kesombongan yang besar.

2. Ḥijran Maḥjūran حِجْرًا مَحْجُوْرًا (al-Furqān/25: 22)

Ḥijran maḥjūran berasal dari fi’il ﺣﺠﺮ - ﻳﺤﺠﺮ - ﺣﺠﺮﺍ artinya: mencegah, melarang, atau mengharamkan. Ḥijran adalah bentuk maṣdar dan maḥjūran bentuk isim maf’ūl. Ungkapan yang diucapkan orang-orang yang berdosa dalam ayat 22 Surah al-Furqān/25 ini yaitu ḥijran maḥjūran berarti diharamkan bagi mereka, mereka dilarang menerima kabar baik yaitu ampunan dari Allah dan memperoleh tempat bahagia di surga karena ampunan dan pahala surga hanya untuk orang yang beriman dan beramal saleh. Ungkapan ini menunjukkan keputusan buruk bagi mereka, yaitu orang-orang kafir yang tidak percaya pada hari kebangkitan, karena hidupnya di dunia mengingkari kebenaran yang dibawa dan ditunjukkan rasul, maka di akhirat mereka tertutup dari menerima berita gembira tentang kehidupan di surga dan mereka sama sekali tidak memperoleh ampunan dan kasih sayang Allah.

3. Habā’an Manṡūran هَبَاءً مَنْثُوْرًا (al-Furqān/25: 23)

Habā’an manṡūran artinya debu yang beterbangan. Berasal dari fi‘il: habā-yahbū-habwan artinya: naik, beterbangan, berhamburan. Al-Habā’ artinya debu. Sedangkan manṡūr adalah isim maf’ūl dari fi’il ﻧﺜﺮﻳﻨﺜﺮﻧﺜ ﺍ artinya: bertebaran, bertaburan, berhamburan. Jadi manṡūr artinya yang ditebarkan, yang ditaburkan, yang dihamburkan. Segala amal perbuatan orang kafir selama di dunia, yang baik-baik sekalipun, tidak akan memperoleh balasan dari Allah, tetapi hanya akan diperlihatkan saja kepada mereka seperti debu yang beterbangan. Orang kafir yang tidak percaya kepada Allah dan tidak mengikuti petunjuk rasul meskipun telah berbuat baik tidak akan memperoleh manfaat apa-apa dari kebaikannya itu di akhirat nanti, karena mereka memang tidak beriman kepada Allah. Mereka hanya dapat melihat dengan penuh penyesalan.

Penelusuran

  • Pos
  • Akun
  • Baru
  • Film
  • Musik
  • Berita
  • KBBI
  • Kripto