وَقَالَ الرَّسُوْلُ يٰرَبِّ اِنَّ قَوْمِى اتَّخَذُوْا هٰذَا الْقُرْاٰنَ مَهْجُوْرًا
Wa qālar-rasūlu yā rabbi inna qaumittakhażū hāżal-qur'āna mahjūrā(n).
Rasul (Nabi Muhammad) berkata, “Wahai Tuhanku, sesungguhnya kaumku telah menjadikan Al-Qur’an ini (sebagai) sesuatu yang diabaikan.”
Nabi Muhammad sendiri mengeluhkan lingkungan masyarakat Quraisy yang buruk. Mereka lalai terhadap kitab suci Al-Qur’an yang berisi peringatan-peringatan. Dan Rasul Muhammad berkata, dengan segala keluh kesahnya, “Ya Tuhanku Yang Maha Rahman dan Rahim! Sesungguhnya kaumku telah menjadikan Al-Qur’an ini diabaikan. Mereka tidak mau mendengarkan, apalagi mengamalkannya.” Ayat ini mengisyaratkan bahwa lingkungan ikut mempengaruhi jalan hidup seseorang. Allah lalu ingin menenangkan hati Nabi Muhammad, bahwa setiap nabi dari masa lalu adalah sama. Selalu saja berhadapan dengan para pengingkar.
Pada ayat ini, Rasulullah mengadu kepada Allah dengan berkata, “Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku menjadikan Al-Qur’an ini sesuatu yang tidak perlu dihiraukan. Mereka tidak beriman kepadanya, tidak memperhatikan janji dan peringatannya. Bahkan mereka berpaling darinya dan menolak mengikutinya. Kemudian Allah menyuruh rasul-Nya berlaku sabar dan tabah menghadapi kaumnya.
Mahjūran مَهْجُوْرًا (al-Furqān/25: 30)
Mahjūran adalah isim maf’ūl yang berasal dari fi’il hajara-yahjuru-hujran wa hujrānan yang artinya memutuskan, meninggalkan, mengabaikan. Lafal mahjūran dalam ayat 30 Surah al-Furqān ini berarti diabaikan atau ditinggalkan. Pernyataan yang menunjukkan tanda-tanda zaman yang dikatakan Rasulullah dalam ayat ini ialah: “sesungguhnya kaumku telah menjadikan Al-Qur’an ini menjadi terabaikan dan ditinggalkan banyak orang”. Ini adalah peringatan bagi kita semua jangan sampai keadaan kita menjadi seperti yang diungkapkan ayat tersebut. Oleh karena itu, kita perlu menjaga Al-Qur’an supaya selalu dibaca, dipahami makna dan petunjuknya, serta diamalkan dalam kehidupan kita sehari-hari.













































