اِنْ كَادَ لَيُضِلُّنَا عَنْ اٰلِهَتِنَا لَوْلَآ اَنْ صَبَرْنَا عَلَيْهَاۗ وَسَوْفَ يَعْلَمُوْنَ حِيْنَ يَرَوْنَ الْعَذَابَ مَنْ اَضَلُّ سَبِيْلًا
In kāda layuḍillunā ‘an ālihatinā lau lā an ṣabarnā ‘alaihā, wa saufa ya‘lamūna ḥīna yaraunal-‘ażāba man aḍallu sabīlā(n).
Sesungguhnya hampir saja dia (Nabi Muhammad) menyesatkan kita dari sesembahan kita seandainya kita tidak tetap bertahan (menyembah)-nya.” Kelak mereka akan mengetahui pada saat melihat azab, siapa gerangan yang paling sesat jalannya.
Padahal mereka tahu bahwa Nabi Muhammad tidak pernah berdusta. Mereka merasa bahwa Nabi Muhammad telah melakukan upaya maksimal dalam berdakwah, sehingga di antara mereka saling berbisik, “Sungguh, hampir saja dia yakni Nabi Muhammad, menyesatkan, membelokkan kita dari sesembahan kita, seandainya kita tidak tetap bertahan menyembah-nya.”Mereka tetap dengan sesembahannya walaupun dengan dalih yang dibuat-buat, mengelabui orang lain, atau dengan jalan menakut nakuti. Dan kelak mereka akan mengetahui pada saat mereka melihat azab, baik di dunia maupun di akhirat siapa yang paling sesat jalannya, apakah Nabi Muhammad yang berada pada jalur kebenaran atau mereka sendiri. Pada waktu perang Badar, hal tersebut terbukti.
Ucapan orang-orang musyrik bahwa Muhammad hampir saja menyesatkan mereka dari sembahan-sembahannya, seandainya mereka tidak tekun dan sabar menyembahnya, menunjukkan bahwa Nabi Muhammad telah menyampaikan dakwahnya dengan sungguh-sungguh disertai dengan hujah-hujah yang nyata. Nabi saw juga memperlihatkan berbagai mukjizat sehingga mereka hampir-hampir meninggalkan agama nenek moyangnya dan memasuki agama Islam. Ucapan mereka itu menunjukkan pula adanya pertentangan yang hebat dalam hati sanubari mereka, dari satu sisi mereka mencemoohkan Nabi saw, dan dari sisi lain mereka merasa khawatir akan terpengaruh oleh dakwah Nabi saw yang sangat kuat dan logis itu.
Selanjutnya, ayat ini menerangkan bahwa mereka akan mengetahui tentang siapa yang sesat jalannya pada saat mereka melihat azab. Menurut riwayat, ayat ini terkait dengan ulah yang dilakukan Abu Jahal pada setiap kali ia bertemu dengan Rasulullah. Cara serupa itu dilakukan oleh umat terdahulu kepada para rasul Allah seperti tersebut dalam firman Allah:
وَلَقَدِ اسْتُهْزِئَ بِرُسُلٍ مِّنْ قَبْلِكَ فَحَاقَ بِالَّذِيْنَ سَخِرُوْا مِنْهُمْ مَّا كَانُوْا بِهٖ يَسْتَهْزِءُوْ نَ ࣖ ١٠
Dan sungguh, beberapa rasul sebelum engkau (Muhammad) telah diperolok-olokkan, sehingga turunlah azab kepada orang-orang yang mencemoohkan itu sebagai balasan olok-olokan mereka. (al-An‘ām/6: 10)
Ittakhaża Ilāhahū Hawāhu اِتَّخَذَ اِلَهَهُ هَوَاهُ (al-Furqān/25: 43)
Ittakhaża terambil dari kata akhaża, artinya “mengambil”. Mengambil itu adakalanya dalam arti “menangkap” seperti dalam firman-Nya Surah Yūsuf/12: 79, Ma’āża Allāhi an na’khuża illā maw wajadnā matā’anā ‘indah (Aku memohon perlindungan kepada Allah dari menahan (seseorang), kecuali orang yang kami temukan harta kami padanya). Ada pula dalam arti “menyerang”, seperti dalam Surah al-Baqarah/2: 255, Lā ta’khużuhū sinatuw wa lā naum (tidak mengantuk dan tidak tidur).
Dari akhaża dibentuk ittakhaża, artinya menjadikan atau memperlakukan (ja’ala). Akibatnya kata ini menghendaki dua objek, biasanya berasal dari subjek dan predikat. Misalnya firman Allah, “Afara’aita man ittakhaża ilāhahu hawāhū,” (Sudahkah engkau (Muhammad) melihat orang yang menjadikan keinginannya sebagai tuhannya) (al-Furqān/25: 43). Asal kalimat itu adalah “Tuhannya nafsu (keinginan)-nya”. Lalu ketika digunakan kata ittakhaża ‘menjadikan’, ‘memperlakukan’, bunyi kalimat menjadi “menjadikan Tuhannya nafsu (keinginan)-nya”. Maksudnya adalah “menjadikan nafsu atau keinginannya sebagai Tuhan”. Orang yang dimaksud adalah orang yang memandang kenikmatan jasmaniah sebagai segala-galanya sehingga sama kedudukannya dengan Tuhan. Seluruh hidupnya dicurahkan untuk mencari kesenangan jasmaniah itu. Tentu saja itu menyesatkan karena kenikmatan jasmaniah tidak abadi. Yang abadi hanyalah kenikmatan di akhirat, yang diperoleh dengan menjalankan kehidupan yang sesuai dengan ajaran Allah di dunia.














































