وَاِذَا رَاَوْكَ اِنْ يَّتَّخِذُوْنَكَ اِلَّا هُزُوًاۗ اَهٰذَا الَّذِيْ بَعَثَ اللّٰهُ رَسُوْلًا
Wa iżā ra'auka iy yattakhiżūnaka illā huzuwā(n), ahāżal-lażī ba‘aṡallāhu rasūlā(n).
Apabila melihat engkau (Nabi Muhammad), mereka tidak menjadikan engkau selain sebagai ejekan (dengan mengatakan), “Inikah orangnya yang diutus Allah sebagai rasul?
Ayat ini menjelaskan tentang sikap orang musyrik terhadap Nabi Muhammad. Dan karena kedengkian mereka terhadap engkau Muhammad, apabila mereka melihat engkau, mereka hanyalah menjadikan engkau sebagai ejekan dengan berbagai cara. Ada yang menuduhmu sebagai orang gila, tukang tenung, atau penyair. Mereka terus mengejek mu dengan mengatakan, “Inikah orangnya yang diutus Allah sebagai Rasul?”
Pada ayat ini, Allah menegaskan kepada Nabi Muhammad bahwa orang kafir selalu mengejeknya dengan mengatakan, “Apakah ini orang yang diutus sebagai rasul?” Itulah ejekan kaum kafir setiap kali mereka melihat Nabi Muhammad saw.
Ittakhaża Ilāhahū Hawāhu اِتَّخَذَ اِلَهَهُ هَوَاهُ (al-Furqān/25: 43)
Ittakhaża terambil dari kata akhaża, artinya “mengambil”. Mengambil itu adakalanya dalam arti “menangkap” seperti dalam firman-Nya Surah Yūsuf/12: 79, Ma’āża Allāhi an na’khuża illā maw wajadnā matā’anā ‘indah (Aku memohon perlindungan kepada Allah dari menahan (seseorang), kecuali orang yang kami temukan harta kami padanya). Ada pula dalam arti “menyerang”, seperti dalam Surah al-Baqarah/2: 255, Lā ta’khużuhū sinatuw wa lā naum (tidak mengantuk dan tidak tidur).
Dari akhaża dibentuk ittakhaża, artinya menjadikan atau memperlakukan (ja’ala). Akibatnya kata ini menghendaki dua objek, biasanya berasal dari subjek dan predikat. Misalnya firman Allah, “Afara’aita man ittakhaża ilāhahu hawāhū,” (Sudahkah engkau (Muhammad) melihat orang yang menjadikan keinginannya sebagai tuhannya) (al-Furqān/25: 43). Asal kalimat itu adalah “Tuhannya nafsu (keinginan)-nya”. Lalu ketika digunakan kata ittakhaża ‘menjadikan’, ‘memperlakukan’, bunyi kalimat menjadi “menjadikan Tuhannya nafsu (keinginan)-nya”. Maksudnya adalah “menjadikan nafsu atau keinginannya sebagai Tuhan”. Orang yang dimaksud adalah orang yang memandang kenikmatan jasmaniah sebagai segala-galanya sehingga sama kedudukannya dengan Tuhan. Seluruh hidupnya dicurahkan untuk mencari kesenangan jasmaniah itu. Tentu saja itu menyesatkan karena kenikmatan jasmaniah tidak abadi. Yang abadi hanyalah kenikmatan di akhirat, yang diperoleh dengan menjalankan kehidupan yang sesuai dengan ajaran Allah di dunia.














































