Geligi Animasi
Geligi Semua Satu Platform
Ayat 40 - Surat Al-Furqān (Pembeda)
الفرقان
Ayat 40 / 77 •  Surat 25 / 114 •  Halaman 363 •  Quarter Hizb 37 •  Juz 19 •  Manzil 4 • Makkiyah

وَلَقَدْ اَتَوْا عَلَى الْقَرْيَةِ الَّتِيْٓ اُمْطِرَتْ مَطَرَ السَّوْءِۗ اَفَلَمْ يَكُوْنُوْا يَرَوْنَهَاۚ بَلْ كَانُوْا لَا يَرْجُوْنَ نُشُوْرًا

Wa laqad atau ‘alal-qaryatil-latī umṭirat maṭaras-sau'(i), afalam yakūnū yaraunahā, bal kānū lā yarjūna nusyūrā(n).

Sungguh, mereka (kaum musyrik Makkah) benar-benar telah melalui negeri (Sodom) yang (dahulu) dijatuhi hujan yang buruk (hujan batu). Tidakkah mereka menyaksikannya? Bahkan, mereka itu sebenarnya tidak mengharapkan adanya kebangkitan.

Makna Surat Al-Furqan Ayat 40
Isi Kandungan oleh Tafsir Wajiz

Dan sungguh, mereka, yaitu kaum musyrik Mekah pada saat me-reka berniaga ke tanah Syam telah melalui negeri kaum nabi Lut, yakni Sodom yang dulu karena perbuatan mereka yang diluar batas, yaitu melakukan sodomi, dijatuhi hujan batu yang buruk. Negeri mereka dijungkirbalikkan. Tidakkah mereka menyaksikannya? Mereka pasti melalui negeri itu. Bahkan mereka itu sebenarnya tidak mengharapkan hari kebangkitan. Mereka menganggap bahwa hari kebangkitan adalah omong kosong belaka.

Isi Kandungan oleh Tafsir Tahlili

Sesungguhnya kaum musyrikin Mekah sering melewati negeri Sodom yang dahulu pernah dihujani dengan batu dan bekas kediaman kaum Nabi Lut yang terkenal dengan perbuatan homoseksual. Apakah mereka tidak menyaksikan bekas reruntuhan itu sebagai azab akibat mendustakan seorang utusan Allah. Kemudian Allah menjelaskan bahwa sebab utama yang menutup mata hati mereka terhadap sebab-sebab turunnya azab itu bukan karena mereka tidak melihat, tetapi karena mereka tidak percaya akan adanya hari kebangkitan pada hari Kiamat, sesudah mereka mati.

Isi Kandungan Kosakata

Tabbarnā Tatbīran تَبَّرْنَا تَتْبِيْرًا (al-Furqān/25: 39)

Akar katanya adalah tabara, artinya “menghancurkan sampai lumat sehancur-hancurnya” (ihlāk). Dalam Surah al-Furqān/25: 39 dinyatakan, “Wa kullan ḍarabnā lahul-amṡāl wa kullan tabbarnā tatbīrā (Dan masing-masing telah Kami jadikan perumpamaan dan masing-masing telah Kami hancurkan sehancur-hancurnya). Maksudnya, kepada umat-umat yang disebutkan dalam ayat-ayat sebelumnya itu, yaitu umat-umat Nabi Nuh, Nabi Hud, Nabi Saleh, dan Nabi Syuaib, Allah telah menjelaskan bukti-bukti bahwa Ia ada dan Mahakuasa, tetapi mereka tidak mempercayainya dan mematuhinya. Oleh karena itu, Allah menghancurkannya sehancur-hancurnya sampai lumat, sehingga tidak bersisa lagi. Peristiwa-peristiwa itu hendaknya jadi pelajaran bagi kaum Quraisy dan siapa saja sesudahnya agar mereka beriman.

Juga terdapat bentuk-bentuk lain dari kata itu. Misalnya kata mutabbar dalam Surah al-A‘rāf/7: 139, Innā hā’ulā’i mutabbarun mā hum fīh (Sesungguhnya mereka akan dihancurkan (oleh kepercayaan) yang dianutnya). Mutabbar adalah ism maf’ūl dari kata tabbara. Ayat itu mengisahkan Bani Israil setelah lepas dari kejaran Fir‘aun. Mereka melewati satu komunitas yang menyembah berhala. Maka Bani Israil meminta agar bagi mereka dibuatkan pula tuhan yang dapat dilihat secara jelas seperti itu. Nabi Musa menjelaskan bahwa apa saja yang disembah selain Allah akan hancur lebur, dan yang akan kuasa hanyalah Allah. Juga terdapat bentuk maṣdarnya, yaitu kata tabār dalam Nūh/71: 28, wa lā tazidiẓ-ẓālimīna illā tabārā (Dan janganlah Engkau tambahkan bagi orang-orang yang zalim itu selain kehancuran). Itu adalah ucapan Nabi Nuh berkenaan kaumnya yang tidak mau beriman, yaitu bahwa mereka hancur lebur ditelan air bah amat besar.

Penelusuran

  • Pos
  • Akun
  • Baru
  • Film
  • Musik
  • Berita
  • KBBI
  • Kripto