Geligi Animasi
Geligi Semua Satu Platform
Ayat 34 - Surat Al-Furqān (Pembeda)
الفرقان
Ayat 34 / 77 •  Surat 25 / 114 •  Halaman 363 •  Quarter Hizb 37 •  Juz 19 •  Manzil 4 • Makkiyah

اَلَّذِيْنَ يُحْشَرُوْنَ عَلٰى وُجُوْهِهِمْ اِلٰى جَهَنَّمَۙ اُولٰۤىِٕكَ شَرٌّ مَّكَانًا وَّاَضَلُّ سَبِيْلًا ࣖ

Allażīna yuḥsyarūna ‘alā wujūhihim ilā jahannam(a), ulā'ika syarrum makānaw wa aḍallu sabīlā(n).

Orang-orang yang dikumpulkan ke (neraka) Jahanam dengan diseret wajahnya itulah yang paling buruk tempatnya dan paling sesat jalannya.

Makna Surat Al-Furqan Ayat 34
Isi Kandungan oleh Tafsir Wajiz

Ayat berikut ini berisi peringatan keras kepada orang kafir tentang nasib mereka di akhirat nanti. Orang-orang yang dikumpulkan ke nera-ka Jahanam dengan diseret wajahnya secara hakiki. Wajah adalah anggota badan yang paling mulia. Pada hari Kiamat diputarbalikan oleh Allah sehingga berada di bawah dan dengan kondisi seperti itu mereka berjalan, sebagai balasan atas dosa-dosa mereka. Mereka itulah yang paling buruk tempatnya dibanding dengan tempat mana pun dan paling sesat jalannya. Kemudian Allah kembali menghibur nabi dengan menceritakan nasib kaum yang durhaka di masa lalu.

Isi Kandungan oleh Tafsir Tahlili

Ayat ini menjelaskan bahwa orang-orang yang digiring ke neraka Jahanam, dengan cara menyeret wajah mereka dengan rantai-rantai dan belenggu, adalah orang-orang yang paling buruk tempatnya dan paling sesat jalannya. Nabi Muhammad diperintahkan oleh Allah untuk mengucapkan kata-kata ini kepada orang-orang kafir yang mengemukakan beberapa sifat yang ganjil untuk menodai kerasulannya, dengan maksud seolah-olah beliau ini menyuruh mereka untuk mengadakan perbandingan siapakah di antara mereka yang mendapat petunjuk dan siapa yang berada dalam kesesatan. Sesuai dengan firman Allah:

وَاِنَّآ اَوْ اِيَّاكُمْ لَعَلٰى هُدًى اَوْ فِيْ ضَلٰلٍ مُّبِيْنٍ

Dan sesungguhnya kami atau kamu (orang-orang musyrik), pasti berada dalam kebenaran atau dalam kesesatan yang nyata. (Saba’/34: 24)

Juga tersebut dalam hadis Rasulullah saw:

يُحْشَرُ النَّاسُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ثَلَاثَةَ أَصْنَافٍ صِنْفًا مُشَاةً وَصِنْفًا رُكْبَانًا وَصِنْفًا عَلَى وُجُوْهِهِمْ قِيْلَ يَا رَسُوْلَ اللّٰهِ كَيْفَ يَمْشُوْنَ عَلَى وُجُوْهِهِمْ؟ قَالَ إِنَّ الَّذِيْ أَمْشَاهُمْ عَلَى أَقْدَامِهِمْ قَادِرٌ عَلَى أَنْ يُمْشِيَهُمْ عَلَى وُجُوْهِهِمْ أَمَا إِنَّهُمْ يَتَّقُوْنَ بِوُجُوْهِهِمْ كُلَّ حَدَبٍ وَشَوْكٍ. (رواه الترمذي عن أبي هريرة)

Akan dikumpulkan manusia pada hari Kiamat dalam tiga golongan, segolongan berjalan kaki, segolongan lagi berkendaraan, dan segolongan lagi berjalan dengan wajahnya. Rasulullah ditanya, “Bagaimana mereka berjalan dengan wajahnya?” Beliau menjawab, “Sesungguhnya Tuhan yang dapat memperjalankan mereka dengan kedua kakinya mampu pula memperjalankan mereka dengan wajahnya. Ingatlah, mereka menjaga wajah mereka dari benda-benda yang tajam dan berduri.” (Riwayat at-Tirmiżī dari Abū Hurairah).

Yang dimaksud di sini bahwa malaikat menyeret wajah orang-orang kafir ke dalam neraka.

Isi Kandungan Kosakata

Linuṡabbita Bihī لِنُثَبِّتَ بِهِ (al-Furqān/25: 32)

Akar katanya adalah ṡabata-yaṡbutu-ṡubūt, artinya “kukuh”, baik secara fisik maupun dalam pandangan/pikiran. Secara fisik, misalnya, seseorang yang gagah berani dalam peperangan disebut rajul ṡabt atau rajul ṡābīt. Orang itu dengan demikian memang kukuh secara fisik. Dalam pandangan, misalnya ungkapan, nubuwwatun-nabiyy ṡābitah ‘kenabian Nabi (Muhammad) kukuh’, artinya “jelas”, tidak diragukan dalam pandangan/pikiran. Lawan ṡubūt adalah zawāl ‘miring’, tidak kukuh. Dari akar kata ṡabata itu dibentuk kata ṡabbata-yuṡabbitu-taṡb īt artinya “mengukuhkan”. Dengan demikian yuṡabbitu adalah muḍāri’ (bentuk kata kerja masa kini) dari ṡabbata itu. Dalam Al-Qur’an terdapat ayat, yuṡabbitu Allāhu al-lażīna āmanū bil-qauli aṡ-ṡābit ‘Allah mengokohkan orang yang beriman dengan ucapan yang kukuh’ (Ibrāhīm/14: 27), yaitu dengan dalil-dalil atau bukti-bukti yang tak terbantahkan.

Nuṡabbit artinya “Kami kukuhkan”. Dalam Al-Qur’an terdapat ayat: każālika linuṡabbita bihī fu’ādaka ‘Demikianlah, supaya Kami kukuhkan dengannya hatimu’ (al-Furqān/25: 32). “Kami” di sini maksudnya adalah Allah, “dengannya” adalah dengan Al-Qur’an, dan “hatimu” adalah hati Nabi Muhammad. Allah mengukuhkan hati Nabi saw dengan Al-Qur’an maksud-nya adalah dengan menurunkan Al-Qur’an itu kepada beliau secara berangsur-angsur sedikit demi sedikit. Dengan seringnya ayat-ayat turun dan datangnya Jibril akan memudahkan Al-Qur’an dicerna dan diimplementasi-kan, serta akan menggairahkan semangat Nabi saw dalam berdakwah. Perlu ditambahkan bahwa kata ganti orang pertama nā ( نا ) yang berarti “Kami” pada ayat ini dinisbahkan kepada Allah untuk menunjukkan bahwa ketika Allah mengokohkan hati Nabi, terlibat pula pihak lain yaitu malaikat Jibril, karena Allah melakukan pengokohan itu melalui petugas-Nya itu.

Penelusuran

  • Pos
  • Akun
  • Baru
  • Film
  • Musik
  • Berita
  • KBBI
  • Kripto