قُلْ اَنْزَلَهُ الَّذِيْ يَعْلَمُ السِّرَّ فِى السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۗ اِنَّهٗ كَانَ غَفُوْرًا رَّحِيْمًا
Qul anzalahul-lażī ya‘lamus-sirra fis-samāwāti wal-arḍ(i), innahū kāna gafūrar raḥīmā(n).
Katakanlah (Nabi Muhammad), “(Al-Qur’an) itu diturunkan oleh (Allah) yang mengetahui rahasia di langit dan di bumi. Sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
Mengajari Nabi Muhammad untuk menjawab tuduhan kaum kafir itu, Allah berfirman, “Katakanlah, wahai Nabi Muhammad, kepada mereka bahwa Al-Qur’an itu diturunkan oleh Allah yang mengetahui segala rahasia di langit dan di bumi." Sungguh, Dia Maha Pengampun, Maha Penyayang, sehingga dia menunda turunnya azab kepada manusia yang durhaka.
Oleh karena orang-orang kafir itu keterlaluan mengadakan tuduhan-tuduhan yang tidak masuk akal, sedang mereka sudah ditantang sedemikian rupa dan tidak dapat menjawab tantangan itu, maka Allah memerintahkan Nabi Muhammad saw supaya menyatakan kepada mereka dengan tegas bahwa Al-Qur’an itu bukanlah sebagaimana yang mereka tuduhkan. Al-Qur’an itu benar-benar diturunkan oleh Allah yang mengetahui segala rahasia yang tersembunyi di langit dan di bumi. Oleh karena itu terdapat di dalamnya hukum-hukum syariat dan peraturan yang sangat baik dan dalam bahasa yang amat tinggi nilai sastranya sehingga tidak ada seorang pun di antara mereka yang bisa menirunya. Al-Qur’an banyak yang mengandung hal-hal yang tidak dapat diketahui kecuali oleh Allah Yang Mahaluas Ilmu-Nya.
Sesungguhnya Tuhan yang menurunkan Al-Qur’an itu, Maha Pengampun dan Penyayang kepada hamba-Nya. Sebenarnya mereka harus bersyukur dan berterima kasih atas rahmat dan kasih sayang-Nya kepada mereka dengan menurunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk dan pembimbing mereka ke jalan yang benar. Tetapi mereka tetap ingkar dan durhaka dan menentang ajaran-ajaran-Nya. Kalau tidaklah karena rahmat dan kasih sayang-Nya tentulah telah ditimpakan kepada mereka azab yang pedih.
1. Wazūrā وَزُوْرًا(al-Furqā n/25: 4)
Kata zūr adalah maṣdar (kata jadian) dari kata zāra-yazūru-zūran. Kata ini terambil dari kalimat zawwara aṣ-ṣadra yang berarti melengkungkan dada. Menurut istilah, kata zūr berarti penyimpangan dari dalil, seperti syirik yang mengimplikasikan keyakinan akan ketidak berdayaan Allah. Kata zūr disebutkan di dalam Al-Qur’an sebanyak empat kali. Penggunaannya di dalam Al-Qur’an menunjuk kepada arti dusta dan palsu. Tetapi, menurut salah satu pendapat ulama tafsir, kata zūr yang disebutkan di dalam Surah al-Ḥajj ayat 30 berarti tempat-tempat lahwu (permainan).
2. Tumlā تُمْلَى (al-Furqān/25: 5)
Kata tumlā adalah kata yang mengikuti pola majhūl (tidak disebut pelakunya). Kata ini terbentuk dari kata amlā-yumlī-imlā’an, yang berarti menangguhkan. Kalimat amlāhullāh berarti Allah memberi waktu tangguh kepadanya dan memanjangkan umurnya. Makna ini sesuai dengan firman Allah Ta’ala, “Dan janganlah sekali-kali orang-orang kafir itu mengira bahwa tenggang waktu yang Kami berikan kepada mereka lebih baik baginya…” (Āli ‘Imrān/3: 178) Kalimat amlā al-ba’īra fil-qaidi berarti melonggarkan ikatan unta. Darinya terambil kata maliyyan yang berarti waktu yang lama, sebagaimana yang disebutkan di dalam ayat, “maka tinggalkanlah aku untuk waktu yang lama.” (Maryam/19: 46). Jadi, kata tumlā di dalam ayat yang sedang dibahas ini berarti dibacakan dan diberi waktu tangguh untuk mengingat dan merekam bacaan itu, atau dengan kata lain didiktekan.








































