Geligi Animasi
Geligi Semua Satu Platform
Ayat 2 - Surat Al-Ḥadīd (Besi)
الحديد
Ayat 2 / 29 •  Surat 57 / 114 •  Halaman 537 •  Quarter Hizb 54.5 •  Juz 27 •  Manzil 7 • Madaniyah

لَهٗ مُلْكُ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۚ يُحْيٖ وَيُمِيْتُۚ وَهُوَ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ

Lahū mulkus-samāwāti wal-arḍ(i), yuḥyī wa yumīt(u), wa huwa ‘alā kulli syai'in qadīr(un).

Milik-Nyalah kerajaan langit dan bumi. Dia menghidupkan dan mematikan. Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.

Makna Surat Al-Hadid Ayat 2
Isi Kandungan oleh Tafsir Wajiz

Allah adalah Pencipta semua makhluk, karena itu hanya milik-Nyalah kerajaan langit dan bumi serta semua yang ada di antara keduanya. Dia berkuasa menghidupkan dan mematikan apa saja sesuai kehendak-Nya, dan Dia Mahakuasa untuk menentukan apa yang Dia inginkan atas segala sesuatu.

Isi Kandungan oleh Tafsir Tahlili

Pada ayat ini diterangkan bahwa kepunyaan Allah kerajaan langit dan bumi. Dia-lah yang berkuasa melakukan sesuatu atas makhluk-Nya, menciptakan, menghidupkan dan mematikan, memberikan rezeki kepada siapa saja yang kehendaki-Nya, sesuai dengan keadaan yang dikehendaki-Nya. Dia-lah Yang Mahakuasa atas segala sesuatu. Apa yang dikehendaki-Nya pasti terjadi dan apa yang tidak dikehendaki-Nya tidak akan terjadi. Hal ini mengharuskan manusia beribadah dan meminta pertolongan kepada-Nya.

Isi Kandungan Kosakata

1. Al-Awwalu wal-Ākhiru اَلأَوَّلُ وَاْلآخِرُ (al-Ḥadīd/57: 3)

Kata al-awwal terambil dari kata āla-ya'ūlu-aulan yang berarti kembali. Kata awwal berarti yang pertama, dan ia disebut demikian karena seluruh bilangan itu kembali atau bermula darinya. Dari kata tersebut diambil kata awwala yang berarti menakwili. Kata al-awwal ini adalah salah satu dari Asmā'ullāh al-Ḥusnā. Sedangkan kata al-ākhir secara harfiah berarti yang terakhir. Darinya diambil kata akhkhara yang berarti menangguhkan, atau mengakhirkan. Kedua kata ini disebutkan secara beriringan di dua tempat dalam Al-Qur’an. Ada beberapa riwayat mengenai nama al-awwal dan al-ākhir. Imam Aḥmad meriwayatkan dari Abū Hurairah tentang doa Rasulullah ketika hendak tidur, yang di dalamnya disebutkan, “Engkaulah Yang Mahaawal, tiada sesuatu sebelum-Mu, dan Engkaulah Yang Mahaakhir, tiada sesuatu sesudah-Mu.”

2. Aẓ-Ẓāhiru wal-Bāṭinu اَلظَّاهِرُ وَالْبَاطِنُ (al-Ḥadīd/57: 3)

Kata aẓ-ẓāhir adalah isim fā‘il dari kata ẓahara-yaẓharu-ẓuhūra n yang berarti muncul, tampak, terang, dan lahir. Darinya diambil kalimat ẓahara ‘alas sirri yang berarti ia mengetahui rahasia. Dan kalimat ẓaharal-jabala berarti ia mendaki gunung. Dan dari kata ini diambil kata aẓ-ẓāhir, salah satu Asmā'ullah al-Ḥusna, yang berarti Yang Mahatampak. Allah aẓ-Ẓāhir berarti Allah Mahanyata. Dialah yang nyata keberadaan-Nya sesuai tanda-tanda kekuasaan-Nya. Dia Mahanyata dibanding segala sesuatu selain-Nya. Sedangkan kata al-bāṭin terambil dari kata baṭana-yabṭunu-baṭnan yang berarti samar dan tersembunyi. Kata baṭnun berarti bagian dalam sesuatu. Dari kata tersebut diambil kalimat baṭanal-wadiya yang berarti ia masuk ke dalam lembah. Dari kata ini diambil kata biṭānah yang berarti teman pemegang rahasia, sebagaimana dalam firman Allah, “Hai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu menjadikan teman orang-orang yang di luar kalanganmu (seagama) sebagai teman kepercayaanmu.” (Āli ‘Imrān/3: 118)

Mengenai makna nama Allah aẓ-Ẓāhir dan al-Bāṭin, Imam al-Bukhārī meriwayatkan dari Yahya, ia berkata, “Allah adalah aẓ-Ẓāhir, yang Mahanyata di atas segala sesuatu dari segi pengetahuan, dan juga al-Bāṭin, Yang Maha Tersembunyi di atas segala sesuatu dari segi pengetahuan.” Imam Aḥmad juga meriwayatkan hadis dari Abū Hurairah tentang doa Rasulullah hendak tidur, yang di dalamnya disebutkan, “Engkaulah Yang Maha Ẓāhir, tiada sesuatu di atasmu-Mu, dan Engkaulah Yang Maha Bāṭin, tiada sesuatu di bawah-Mu.”

Penelusuran

  • Pos
  • Akun
  • Baru
  • Film
  • Musik
  • Berita
  • KBBI
  • Kripto