Geligi Animasi
Geligi Semua Satu Platform
Ayat 1 - Surat Al-Ḥadīd (Besi)
الحديد
Ayat 1 / 29 •  Surat 57 / 114 •  Halaman 537 •  Quarter Hizb 54.5 •  Juz 27 •  Manzil 7 • Madaniyah

سَبَّحَ لِلّٰهِ مَا فِى السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۚ وَهُوَ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُ

Sabbaḥa lillāhi mā fis-samāwāti wal-arḍ(i), wa huwal-‘azīzul-ḥakīm(u).

Apa yang ada di langit dan di bumi bertasbih kepada Allah. Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.

Makna Surat Al-Hadid Ayat 1
Isi Kandungan oleh Tafsir Wajiz

Apa yang di langit, baik makhluk hidup seperti burung maupun makhluk mati semisal planet, bintang, bulan, dan matahari, dan demi-kian juga makhluk di bumi; mereka bertasbih kepada Allah untuk mengakui kebesaran dan kesucian-Nya. Dialah yang Mahaperkasa atas semua makhluk, lagi Mahabijaksana dalam menetapkan ketentuan dan hukum bagi mereka.

Isi Kandungan oleh Tafsir Tahlili

Pada ayat ini dijelaskan bahwa semua yang diciptakan Allah, baik yang berada di langit maupun yang berada di bumi seperti binatang, tumbuh-tumbuhan, batu dan lain-lain yang bernyawa atau pun tidak, seharusnya setiap waktu dengan tulus dan ikhlas bertasbih kepada-Nya, menyatakan kebesaran-Nya, dan mengakui bahwa Dia-lah yang Mahakuasa. Semuanya tunduk menyembah serta mematuhi segala perintah-Nya. Jika demikian, manusia sebagai makhluk yang dikaruniai akal seharusnya mensucikan Allah, melaksanakan perintah dan menjauhi larangan-Nya.

Dalam ayat lain yang menunjukkan kedudukan makhluk, Allah berfirman:

تُسَبِّح ُ لَهُ السَّمٰوٰتُ السَّبْعُ وَالْاَرْضُ وَمَنْ فِيْهِنَّۗ وَاِنْ مِّنْ شَيْءٍ اِلَّا يُسَبِّحُ بِحَمْدِهٖ وَلٰكِنْ لَّا تَفْقَهُوْنَ تَسْبِيْحَهُمْ ۗ اِنَّهٗ كَانَ حَلِيْمًا غَفُوْرًا ٤٤

Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tidak ada sesuatu pun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu tidak mengerti tasbih mereka. Sungguh, Dia Maha Penyantun, Maha Pengampun. (al-Isrā’/17: 44)

Dia pulalah Yang Mahaperkasa, tidak ada sesuatu pun yang dapat menyaingi-Nya. Dia Mahabijaksana menciptakan, memerintah dan mengatur makhluk-Nya dengan peraturan yang sudah ditentukan-Nya, yang sesuai dengan kehendak-Nya.

Isi Kandungan Kosakata

1. Al-Awwalu wal-Ākhiru اَلأَوَّلُ وَاْلآخِرُ (al-Ḥadīd/57: 3)

Kata al-awwal terambil dari kata āla-ya'ūlu-aulan yang berarti kembali. Kata awwal berarti yang pertama, dan ia disebut demikian karena seluruh bilangan itu kembali atau bermula darinya. Dari kata tersebut diambil kata awwala yang berarti menakwili. Kata al-awwal ini adalah salah satu dari Asmā'ullāh al-Ḥusnā. Sedangkan kata al-ākhir secara harfiah berarti yang terakhir. Darinya diambil kata akhkhara yang berarti menangguhkan, atau mengakhirkan. Kedua kata ini disebutkan secara beriringan di dua tempat dalam Al-Qur’an. Ada beberapa riwayat mengenai nama al-awwal dan al-ākhir. Imam Aḥmad meriwayatkan dari Abū Hurairah tentang doa Rasulullah ketika hendak tidur, yang di dalamnya disebutkan, “Engkaulah Yang Mahaawal, tiada sesuatu sebelum-Mu, dan Engkaulah Yang Mahaakhir, tiada sesuatu sesudah-Mu.”

2. Aẓ-Ẓāhiru wal-Bāṭinu اَلظَّاهِرُ وَالْبَاطِنُ (al-Ḥadīd/57: 3)

Kata aẓ-ẓāhir adalah isim fā‘il dari kata ẓahara-yaẓharu-ẓuhūra n yang berarti muncul, tampak, terang, dan lahir. Darinya diambil kalimat ẓahara ‘alas sirri yang berarti ia mengetahui rahasia. Dan kalimat ẓaharal-jabala berarti ia mendaki gunung. Dan dari kata ini diambil kata aẓ-ẓāhir, salah satu Asmā'ullah al-Ḥusna, yang berarti Yang Mahatampak. Allah aẓ-Ẓāhir berarti Allah Mahanyata. Dialah yang nyata keberadaan-Nya sesuai tanda-tanda kekuasaan-Nya. Dia Mahanyata dibanding segala sesuatu selain-Nya. Sedangkan kata al-bāṭin terambil dari kata baṭana-yabṭunu-baṭnan yang berarti samar dan tersembunyi. Kata baṭnun berarti bagian dalam sesuatu. Dari kata tersebut diambil kalimat baṭanal-wadiya yang berarti ia masuk ke dalam lembah. Dari kata ini diambil kata biṭānah yang berarti teman pemegang rahasia, sebagaimana dalam firman Allah, “Hai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu menjadikan teman orang-orang yang di luar kalanganmu (seagama) sebagai teman kepercayaanmu.” (Āli ‘Imrān/3: 118)

Mengenai makna nama Allah aẓ-Ẓāhir dan al-Bāṭin, Imam al-Bukhārī meriwayatkan dari Yahya, ia berkata, “Allah adalah aẓ-Ẓāhir, yang Mahanyata di atas segala sesuatu dari segi pengetahuan, dan juga al-Bāṭin, Yang Maha Tersembunyi di atas segala sesuatu dari segi pengetahuan.” Imam Aḥmad juga meriwayatkan hadis dari Abū Hurairah tentang doa Rasulullah hendak tidur, yang di dalamnya disebutkan, “Engkaulah Yang Maha Ẓāhir, tiada sesuatu di atasmu-Mu, dan Engkaulah Yang Maha Bāṭin, tiada sesuatu di bawah-Mu.”

Penelusuran

  • Pos
  • Akun
  • Baru
  • Film
  • Musik
  • Berita
  • KBBI
  • Kripto