Geligi Animasi
Geligi Semua Satu Platform
Ayat 3 - Surat Al-Ḥadīd (Besi)
الحديد
Ayat 3 / 29 •  Surat 57 / 114 •  Halaman 537 •  Quarter Hizb 54.5 •  Juz 27 •  Manzil 7 • Madaniyah

هُوَ الْاَوَّلُ وَالْاٰخِرُ وَالظَّاهِرُ وَالْبَاطِنُۚ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيْمٌ

Huwal-awwalu wal-ākhiru waẓ-ẓāhiru wal-bāṭin(u), wa huwa bikulli syai'in ‘alīm(un).

Dialah Yang Maha Awal, Maha Akhir, Maha Zahir, dan Maha Batin.709) Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.

Makna Surat Al-Hadid Ayat 3
Isi Kandungan oleh Tafsir Wajiz

Sebagai Pencipta, Dialah Yang Awal tanpa permulaan, dan Dia pula Yang Akhir karena Dia abadi tanpa batas akhir bagi eksistensinya. Selain itu, Dia adalah Yang Zahir dan mengetahui apa saja yang tampak, dan Yang Batin dan mengetahui apa saja yang disembunyikan atau yang tersirat dalam hati. Dia lebih dekat kepada makhluk daripada dirinya sendiri, dan Dia Maha mengetahui segala sesuatu di alam semesta.

Isi Kandungan oleh Tafsir Tahlili

Pada ayat ini, Allah menyatakan bahwa Dialah Yang Awal, yang telah ada sebelum segala sesuatu ada, karena Dia-lah yang menjadikannya, dan yang menciptakannya.

Dia-lah Yang Ẓāhir, yang nyata adanya, karena banyaknya bukti-bukti tentang adanya. Dialah Yang Mahatinggi dari apa saja, tidak ada sesuatu pun yang lebih tinggi daripada-Nya.

Dia-lah Yang Batin, Yang hakikat Zat-Nya tidak dapat digambarkan oleh akal. Dia mengetahui semua yang tersimpan, yang tidak nyata dan segala yang tersembunyi. Dia yang paling dekat kepada apa yang telah diciptakan-Nya. Tidak ada sesuatu pun yang lebih dekat kepada makhluk-Nya selain Dia; sebagaimana firman-Nya:

وَلَقَد خَلَقْنَا الْاِنْسَانَ وَنَعْلَمُ مَا تُوَسْوِسُ بِهٖ نَفْسُهٗ ۖوَنَحْنُ اَقْرَبُ اِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الْوَرِيْدِ ١٦

Dan sungguh, Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya. (Qāf/50: 16)

Dalam hadis riwayat Aḥmad dan Muslim dari Abū Hurairah:

جَاءَتْ فَاطِمَةُ إِلَى رَسُوْلِ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَسْأَلُهُ خَادِمًا، فَقَالَ لَهَا: قُوْلِيْ اَللّٰهُمَّ رَبُّ السَّمٰوٰتِ السَّبْعِ وَرَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيْمِ. وَرَبُّنَا وَرَبُّ كُلِّ شَيْءٍ، مُنْزِلُ التَّوْرَاةِ وَالإِنْجِيْلِ وَالْفُرْقَانِ فَالِقُ الْحَبِّ وَالنَّوٰى. أَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ كُلِّ شَيْءٍ أَنْتَ آخِذٌ بِنَاصِيَتِهِ أَنْتَ اْلأَوَّلُ فَلَيْسَ قَبْلَكَ شَيْءٌ وَأَنْتَ الاَخِرُ فَلَيْسَ بَعْدَكَ شَيْءٌ وَأَنْتَ الظَّاهِرُ فَلَيْسَ فَوْقَكَ شَيْءٌ وَأَنْتَ الْبَاطِنُ فَلَيْسَ دُوْنَكَ شَيْءٌ اِقْضِ عَنَّا الدَّيْنَ وَأَغْنِنَا مِنَ الْفَقْرِ (رواه أحمد ومسلم عن أبي هريرة)

Fatimah datang kepada Nabi saw meminta seorang pembantu, lalu Nabi menyuruhnya berdoa, “Ya Allah, Tuhan segala sesuatu, yang menurunkan kitab Taurat, Injil, dan Al-Qur’an, yang membelah biji-bijian. Aku berlindung kepada-Mu dari kejelekan setiap sesuatu. Engkaulah yang mengaturnya. Engkaulah Zat yang awal yang tidak ada sebelum-Mu sesuatu apa pun, Engkaulah Zat yang akhir yang tidak ada sesudah-Mu sesuatu apa pun. Engkaulah aẓ-Ẓāhir yang tidak ada sesuatu pun di atas-Mu, dan Engkaulah al-Bāṭin yang tidak ada sesuatu apa pun di bawah-Mu. Lunasilah hutang kami dan cukupilah kebutuhan kami. (Riwayat Aḥmad dan Muslim dari Abū Hurairah)

Isi Kandungan Kosakata

1. Al-Awwalu wal-Ākhiru اَلأَوَّلُ وَاْلآخِرُ (al-Ḥadīd/57: 3)

Kata al-awwal terambil dari kata āla-ya'ūlu-aulan yang berarti kembali. Kata awwal berarti yang pertama, dan ia disebut demikian karena seluruh bilangan itu kembali atau bermula darinya. Dari kata tersebut diambil kata awwala yang berarti menakwili. Kata al-awwal ini adalah salah satu dari Asmā'ullāh al-Ḥusnā. Sedangkan kata al-ākhir secara harfiah berarti yang terakhir. Darinya diambil kata akhkhara yang berarti menangguhkan, atau mengakhirkan. Kedua kata ini disebutkan secara beriringan di dua tempat dalam Al-Qur’an. Ada beberapa riwayat mengenai nama al-awwal dan al-ākhir. Imam Aḥmad meriwayatkan dari Abū Hurairah tentang doa Rasulullah ketika hendak tidur, yang di dalamnya disebutkan, “Engkaulah Yang Mahaawal, tiada sesuatu sebelum-Mu, dan Engkaulah Yang Mahaakhir, tiada sesuatu sesudah-Mu.”

2. Aẓ-Ẓāhiru wal-Bāṭinu اَلظَّاهِرُ وَالْبَاطِنُ (al-Ḥadīd/57: 3)

Kata aẓ-ẓāhir adalah isim fā‘il dari kata ẓahara-yaẓharu-ẓuhūra n yang berarti muncul, tampak, terang, dan lahir. Darinya diambil kalimat ẓahara ‘alas sirri yang berarti ia mengetahui rahasia. Dan kalimat ẓaharal-jabala berarti ia mendaki gunung. Dan dari kata ini diambil kata aẓ-ẓāhir, salah satu Asmā'ullah al-Ḥusna, yang berarti Yang Mahatampak. Allah aẓ-Ẓāhir berarti Allah Mahanyata. Dialah yang nyata keberadaan-Nya sesuai tanda-tanda kekuasaan-Nya. Dia Mahanyata dibanding segala sesuatu selain-Nya. Sedangkan kata al-bāṭin terambil dari kata baṭana-yabṭunu-baṭnan yang berarti samar dan tersembunyi. Kata baṭnun berarti bagian dalam sesuatu. Dari kata tersebut diambil kalimat baṭanal-wadiya yang berarti ia masuk ke dalam lembah. Dari kata ini diambil kata biṭānah yang berarti teman pemegang rahasia, sebagaimana dalam firman Allah, “Hai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu menjadikan teman orang-orang yang di luar kalanganmu (seagama) sebagai teman kepercayaanmu.” (Āli ‘Imrān/3: 118)

Mengenai makna nama Allah aẓ-Ẓāhir dan al-Bāṭin, Imam al-Bukhārī meriwayatkan dari Yahya, ia berkata, “Allah adalah aẓ-Ẓāhir, yang Mahanyata di atas segala sesuatu dari segi pengetahuan, dan juga al-Bāṭin, Yang Maha Tersembunyi di atas segala sesuatu dari segi pengetahuan.” Imam Aḥmad juga meriwayatkan hadis dari Abū Hurairah tentang doa Rasulullah hendak tidur, yang di dalamnya disebutkan, “Engkaulah Yang Maha Ẓāhir, tiada sesuatu di atasmu-Mu, dan Engkaulah Yang Maha Bāṭin, tiada sesuatu di bawah-Mu.”

Penelusuran

  • Pos
  • Akun
  • Baru
  • Film
  • Musik
  • Berita
  • KBBI
  • Kripto