يُنَادُوْنَهُمْ اَلَمْ نَكُنْ مَّعَكُمْۗ قَالُوْا بَلٰى وَلٰكِنَّكُمْ فَتَنْتُمْ اَنْفُسَكُمْ وَتَرَبَّصْتُمْ وَارْتَبْتُمْ وَغَرَّتْكُمُ الْاَمَانِيُّ حَتّٰى جَاۤءَ اَمْرُ اللّٰهِ وَغَرَّكُمْ بِاللّٰهِ الْغَرُوْرُ
Yunādūnahum alam nakum ma‘akum, qālū balā wa lākinnakum fatantum anfusakum wa tarabbaṣtum wartabtum wa garratkumul-amāniyyu ḥattā jā'a amrullāhi wa garrakum billāhil-garūr(u).
Orang-orang (munafik) memanggil mereka (orang-orang beriman), “Bukankah kami dahulu bersama kamu?” Mereka menjawab, “Benar, tetapi kamu mencelakakan dirimu sendiri (dengan kemunafikan), menunggu-nunggu (kebinasaan kami), meragukan (ajaran Islam), dan ditipu oleh angan-angan kosong sampai datang ketetapan Allah. (Setan) penipu memperdayakanmu (sehingga kamu lalai) terhadap Allah.
Begitu mendapati azab, orang-orang munafik memanggil orang-orang mukmin, “Bukankah kami di dunia dahulu bersama kamu?” Mereka yang beriman menjawab, “Benar, tetapi kamu selalu mencelakakan dirimu sendiri dengan melakukan perbuatan yang tidak patut dan hanya menunggu kehancuran kami dengan pengkhianatanmu, dan kamu meragukan janji Allah dan seringkali kamu ditipu oleh angan-angan kosong sampai pada akhirnya datang-lah ketetapan Allah; dan setan penipu datang memperdaya kamu tentang Allah sehingga kamu terus berada dalam keraguan.
Kemudian pada ayat ini Allah menyatakan peristiwa yang dialami orang-orang munafik di akhirat nanti, yaitu mereka berseru kepada orang-orang mukmin dan mengatakan, “Bukankah kami bersama-sama kamu semasa hi-dup di dunia?” Lalu orang-orang mukmin menjawab, “Ya benar, kita sama-sama salat, berwukuf di Arafah, berperang dan mengerjakan kewajiban-kewajiban agama lainnya, tetapi kamu berfoya-foya dengan kelezatan dan maksiat, ragu tentang hari kebangkitan, teperdaya oleh angan-angan sehing-ga kamu mengatakan bahwa dosa kamu akan diampuni Allah, karena bisikan setan yang mengatakan kepadamu, bahwa Allah Maha Pengampun, dan Dia akan memaafkan dosa-dosamu.”
Maksudnya, sebenarnya kamu hai orang-orang munafik bersama kami di dunia hanya tubuhmu yang kasar saja, padahal jiwamu tidak bersama kami, tidak mempunyai ketegasan dalam pendirian maka kamu jarang sekali me-ngingat Allah.”
1. Naqtabis نَقْتَبِسْ (al-Ḥadīd/57: 13)
Kata naqtabis adalah fi‘il muḍāri‘ dari kata iqtabasa, yang terbentuk dari kata qabasa. Kata qabasa berarti mengambil, sebagaimana dalam kalimat qabasa an-nār yang berarti ia mengambil api. Dari kata tersebut diambil kata al-qibs yang berarti pangkal atau dasar. Dan dari kata ini diambil dari kata qabas yang berarti api yang diambil dari ujung sebuah tongkat. Tampaknya, kedua kata qabasa dan kata iqtabasa yang mendapatkan tambahan dua huruf ini memiliki arti yang sama, yaitu mengambil api. Tetapi, dalam bahasa Arab, semakin banyak huruf yang digunakan, maka itu menunjukkan tekanan makna yang lebih dibanding kata yang kurang hurufnya, meskipun keduanya memiliki makna yang mirip. Ayat ini mengandung pemberitahuan dari Allah tentang kegoncangan hebat di hari Kiamat, dan tidak ada yang selamat darinya kecuali orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya.
2. Al-Amānī الأَمَانِيْ (al-Ḥadīd/57: 14)
Kata al-amānī adalah jamak dari kata umniyyah, isim maṣdar atau kata jadian dari kata manā-yamnī-manyan yang memiliki akar makna menakdirkan. Kalimat manā Allahul-khaira lahū berarti Allah menakdirkan kebaikan baginya. Kematian disebut al-manā dan al-maniyyah karena ia telah ditakdirkan waktunya. Kata umniyyah, jamaknya al-amāni, berarti bersitan dalam hati akan ditakdirkannya sesuatu yang disukainya. Kalimat tamannā al-Kitab berarti membaca Kitab Suci. Disebut demikian karena orang yang membaca Al-Qur’an bila menjumpai ayat rahmat maka ia mengharapkannya, dan bila ia menjumpai ayat tentang azab maka ia berharap dijauhkan darinya. Kata al-amāni disebutkan di tempat lain dalam Al-Qur’an dengan arti kebohongan, yaitu dalam firman Allah, “Dan di antara mereka ada yang buta huruf, tidak mengetahui al-Kitab (Taurat), kecuali bacaan-bacaan belaka..” (al-Baqarah/2: 78). Yang demikian itu karena kalimat tamannā al-qaula berarti merekayasa suatu ucapan. Dan yang dimaksud dengan kata al-amāni di sini adalah angan-angan kosong. Maksudnya, mereka itu tertipu oleh angan-angan kosong bahwa Allah akan mengampuni dosa-dosa mereka.















































