يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ ضُرِبَ مَثَلٌ فَاسْتَمِعُوْا لَهٗ ۗاِنَّ الَّذِيْنَ تَدْعُوْنَ مِنْ دُوْنِ اللّٰهِ لَنْ يَّخْلُقُوْا ذُبَابًا وَّلَوِ اجْتَمَعُوْا لَهٗ ۗوَاِنْ يَّسْلُبْهُمُ الذُّبَابُ شَيْـًٔا لَّا يَسْتَنْقِذُوْهُ مِنْهُۗ ضَعُفَ الطَّالِبُ وَالْمَطْلُوْبُ
Yā ayyuhan-nāsu ḍuriba maṡalum fastami‘ū lah(ū), innal-lażīna tad‘ūna min dūnillāhi lay yakhluqū żubābaw wa lawijtama‘ū lah(ū), wa iy yaslubhumuż-żubābu syai'al lā yastanqiżūhu minh(u), ḍa‘ufaṭ-ṭālibu wal-maṭlūb(u).
Wahai manusia, suatu perumpamaan telah dibuat. Maka, simaklah! Sesungguhnya segala yang kamu seru selain Allah sekali-kali tidak dapat menciptakan seekor lalat pun walaupun mereka bersatu untuk menciptakannya. Jika lalat itu merampas sesuatu dari mereka, mereka pun tidak akan dapat merebutnya kembali dari lalat itu. (Sama-sama) lemah yang menyembah dan yang disembah.
Allah menjelaskan bagaimana kualitas tuhan-tuhan selain Allah yang disembah oleh orang-orang kafir. Wahai manusia! Perhatikanlah dengan cermat, telah dibuat suatu perumpamaan yang harus dijadikan renungan oleh kamu. Maka dengarkanlah dengan saksama! Sesungguhnya semua tuhan selain Allah yang kamu seru dalam ritual kamu tidak dapat menciptakan seekor lalat pun, yang menunjukkan ketidakpantasan tuhan-tuhan selain Allah itu dijadikan tuhan, walaupun mereka bersatu dalam sebuah tim untuk menciptakannya. Dan jika lalat itu merampas sesuatu dari mereka, mereka tuhan-tuhan selain Allah itu tidak akan dapat merebutnya kembali dari lalat itu, karena patung-patung yang disembah itu benda mati. Sama lemahnya yang menyembah dan yang disembah, karena keduanya sama-sama makhluk Allah yang tidak mampu menciptakan apapun baik makhluk hidup maupun benda mati.
Ayat ini menyeru manusia terutama orang-orang yang mempersekutukan Allah dengan menyembah patung yang terbuat dari benda mati dan dibuat oleh mereka sendiri, agar mereka memperhatikan perumpamaan yang dibuat Allah bagi mereka, kemudian merenungkan dan memikirkannya dengan sebaik-baiknya. Apakah yang telah mereka lakukan itu sesuai dengan akal pikiran yang benar, hendaklah direnungkan kembali ayat-ayat Allah yang dibacakan itu, agar mereka mendapat petunjuk.
Perumpamaan itu ialah segala berhala yang mereka sembah itu, dengan tujuan untuk mendekatkan diri kepada Allah, dan mereka memohonkan sesuatu kepadanya, meski patung-patung itu tidak dapat menciptakan sesuatu. Begitu pula sekiranya patung itu mempunyai suatu barang, kemudian barang itu disambar oleh seekor lalat kecil, lemah dan tidak ada kekuatannya, niscaya patung-patung yang mereka sembah itu tidak akan sanggup merebut barang itu kembali dari lalat yang kecil itu.
Perumpamaan yang dikemukakan Allah dalam ayat ini, seakan-akan memperingatkan orang-orang yang menyembah patung atau benda mati itu, bahwa Tuhan yang berhak disembah ialah Tuhan Yang Maha Perkasa, Maha Pencipta, tidak ada sesuatu kekuatan pun yang dapat mengatasi kekuatan-Nya. Jika orang-orang kafir menyembah patung, berarti mereka menyembah benda mati, yang tidak tahu suatu apapun, bahkan ia tidak dapat mempertahankan apa yang dimilikinya, seandainya seekor lalat kecil yang tidak berdaya merampas kepunyaannya itu daripadanya. Apakah patung yang demikian itu layak disembah? Tindakan orang-orang musyrik itu menunjukkan kebodohannya. Alangkah kelirunya orang-orang yang menyembah patung itu, demikian pula patung yang disembah itu.
1. Yaslubhum يَسْلُبْهُمْ (al-Ḥajj/22:73)
Bentuk muḍari’ dari fi’il māḍy salaba. Akar katanya (س- ل- ب) artinya mengambil sesuatu dengan cara merampasnya (ikhtiṭaf) atau mengambil sesuatu dari orang lain dengan kekuatan (al-Qahr). Ayat ini menggambarkan betapa lemahnya sesembahan selain Allah, yang tidak mampu menciptakan makhluk yang kecil dan lemah, yang kelihatannya tidak berguna seperti lalat. Kemudian jika lalat tadi mengambil sesuatu dari manusia sedikit saja, dengan cara merampas, maka makhluk manapun tidak akan mampu merebutnya kembali dari lalat itu. Menghadapi perlakuan lalat yang kecil saja sesembahan yang berupa patung-patung itu tidak berdaya, begitu juga manusia tidak mampu, apalagi untuk persoalan yang lebih besar lagi.
2. Ḍa’ufaṭṭālibu Wal Maṭlūb ضَعُفَ الطَّالِبُ وَالْمَطْلُوْب ِ (al-Ḥajj/22:73)
Ḍa’uf a artinya lemah. Aṭ-Ṭālib artinya yang mencari, maksudnya ialah penyembah berhala. Mereka meyakini bahwa sesembahan tersebut bisa mendatangkan kemanfaatan dan menolak kemudaratan. Oleh karena itu mereka meminta kepada sesembahan tersebut. Penyembah dikatakan lemah karena ketidaktahuannya meminta sesuatu kepada sesembahan yang tidak mempunyai apa apa. Perbuatan ini jelas salah arah. Al-Maṭlūb maksudnya adalah sesembahan selain Allah. Dia lemah karena tidak mampu mengambil kembali apa yang diambil oleh lalat yang menghinggapinya dan mengambil sesuatu darinya.
Ada yang berpendapat bahwa yang dimaksud aṭ-ṭālib adalah lalat, al-Maṭlūb ialah sesembahan. Lalat adalah makhluk yang lemah. Begitu juga sesembahan. Ada yang berpendapat bahwa aṭ-ṭālib adalah sesembahan, al-maṭlūb adalah lalat. Artinya jika sesembahan itu ingin menciptakan lalat dia tidak akan mampu.






































