مَا قَدَرُوا اللّٰهَ حَقَّ قَدْرِهٖۗ اِنَّ اللّٰهَ لَقَوِيٌّ عَزِيْزٌ
Wa mā qadarullāha ḥaqqa qadrih(ī), innallāha laqawiyyun ‘azīz(un).
Mereka tidak mengagungkan Allah dengan sebenar-benarnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa.
Manusia yang menyembah tuhan selain Allah sejatinya mereka tidak mengagungkan Allah dengan sebenar-benarnya, bahkan merendahkan-Nya dengan tidak mengibadati-Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Mahakuat meskipun tidak dijadikan tuhan oleh mereka dan Mahaperkasa untuk mengalahkan tuhan-tuhan selain Dia.
Orang-orang musyrik mengaku bahwa mereka menyembah berhala atau patung itu adalah untuk mendekatkan diri kepada Allah. Tetapi pengakuan mereka itu dibantah Allah bahwa cara yang mereka lakukan itu, tidak saja menghina Allah, bahkan menganggap bahwa Allah tidak dapat langsung menerima permohonan dan mengabulkan doa hamba-hamba-Nya, sehingga perlu adanya sesuatu yang membantunya sebagai perantara.
Sungguh Allah yang berhak disembah itu Mahakuat dan Kuasa, Maha Perkasa, tidak ada sesuatu pun yang dapat mengalahkan-Nya. Dia berbuat menurut yang dikehendaki-Nya, tidak seperti patung yang disembah oleh orang-orang musyrik itu, yang tidak dapat merebut kembali, benda yang telah direbut lalat daripadanya. Allah berfirman:
اِنَّ اللّٰهَ هُوَ الرَّزَّاقُ ذُو الْقُوَّةِ الْمَتِيْنُ ٥٨
Sungguh Allah, Dialah Pemberi rezeki Yang Mempunyai Kekuatan lagi Sangat Kokoh. (aż-Żāriyāt/51: 58)
1. Yaslubhum يَسْلُبْهُمْ (al-Ḥajj/22:73)
Bentuk muḍari’ dari fi’il māḍy salaba. Akar katanya (س- ل- ب) artinya mengambil sesuatu dengan cara merampasnya (ikhtiṭaf) atau mengambil sesuatu dari orang lain dengan kekuatan (al-Qahr). Ayat ini menggambarkan betapa lemahnya sesembahan selain Allah, yang tidak mampu menciptakan makhluk yang kecil dan lemah, yang kelihatannya tidak berguna seperti lalat. Kemudian jika lalat tadi mengambil sesuatu dari manusia sedikit saja, dengan cara merampas, maka makhluk manapun tidak akan mampu merebutnya kembali dari lalat itu. Menghadapi perlakuan lalat yang kecil saja sesembahan yang berupa patung-patung itu tidak berdaya, begitu juga manusia tidak mampu, apalagi untuk persoalan yang lebih besar lagi.
2. Ḍa’ufaṭṭālibu Wal Maṭlūb ضَعُفَ الطَّالِبُ وَالْمَطْلُوْب ِ (al-Ḥajj/22:73)
Ḍa’uf a artinya lemah. Aṭ-Ṭālib artinya yang mencari, maksudnya ialah penyembah berhala. Mereka meyakini bahwa sesembahan tersebut bisa mendatangkan kemanfaatan dan menolak kemudaratan. Oleh karena itu mereka meminta kepada sesembahan tersebut. Penyembah dikatakan lemah karena ketidaktahuannya meminta sesuatu kepada sesembahan yang tidak mempunyai apa apa. Perbuatan ini jelas salah arah. Al-Maṭlūb maksudnya adalah sesembahan selain Allah. Dia lemah karena tidak mampu mengambil kembali apa yang diambil oleh lalat yang menghinggapinya dan mengambil sesuatu darinya.
Ada yang berpendapat bahwa yang dimaksud aṭ-ṭālib adalah lalat, al-Maṭlūb ialah sesembahan. Lalat adalah makhluk yang lemah. Begitu juga sesembahan. Ada yang berpendapat bahwa aṭ-ṭālib adalah sesembahan, al-maṭlūb adalah lalat. Artinya jika sesembahan itu ingin menciptakan lalat dia tidak akan mampu.










































