Geligi Animasi
Geligi Semua Satu Platform
Ayat 65 - Surat Al-Ḥajj (Haji)
الحجّ
Ayat 65 / 78 •  Surat 22 / 114 •  Halaman 340 •  Quarter Hizb 34.75 •  Juz 17 •  Manzil 4 • Madaniyah

اَلَمْ تَرَ اَنَّ اللّٰهَ سَخَّرَ لَكُمْ مَّا فِى الْاَرْضِ وَالْفُلْكَ تَجْرِيْ فِى الْبَحْرِ بِاَمْرِهٖۗ وَيُمْسِكُ السَّمَاۤءَ اَنْ تَقَعَ عَلَى الْاَرْضِ اِلَّا بِاِذْنِهٖۗ اِنَّ اللّٰهَ بِالنَّاسِ لَرَءُوْفٌ رَّحِيْمٌ

Alam tara annallāha sakhkhara lakum mā fil-arḍi wal-fulka tajrī fil-baḥri bi'amrih(ī), wa yumsikus-samā'a an taqa‘a ‘alal-arḍi illā bi'iżnih(ī), innallāha bin-nāsi lara'ūfur raḥīm(un).

Tidakkah engkau memperhatikan bahwa Allah menundukkan bagimu apa yang ada di bumi dan kapal yang berlayar di laut dengan perintah-Nya. Dia menahan (benda-benda) langit sehingga tidak jatuh ke bumi, kecuali dengan izin-Nya? Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Penyantun lagi Maha Penyayang kepada manusia.

Makna Surat Al-Hajj Ayat 65
Isi Kandungan oleh Tafsir Wajiz

Disamping mengajak Nabi untuk memperhatikan dan memikirkan proses turunnya hujan dari langit, Allah juga mengajak Nabi untuk memperhatikan kekuasaan-Nya yang lain dengan bertanya, “Tidakkah engkau, Muhammad, memperhatikan dengan nalar dan kalbu bahwa Allah menundukkan bagimu, manusia, apa yang ada di perut bumi, maupun yang di permukaannya, di darat maupun laut, berbagai jenis hewan, tumbuh-tumbuhan, dan berbagai jenis makhluk hidup bagi kepentingan kamu. Dan apakah kamu tidak memperhatikan kapal yang berlayar di lautan, terapung meskipun membawa beban yang berat menempuh jarak ribuan mil dengan mematuhi perintah-Nya, hukum alam ciptaan Allah? Dan, apakah kamu tidak memperhatikan bahwaDia, Allah, menahan benda-benda langit, matahari, bulan, bintang, dan berbagai planet agar tidak jatuh ke bumi, yang akan menghancurkan kehidupan manusia, kecuali dengan izin-Nya? Sungguh, Allah Maha Penyantun kepada seluruh makhluk, Maha Penyayang kepada manusia yang beriman dengan memasukkan mereka ke dalam surga.”

Isi Kandungan oleh Tafsir Tahlili

Di antara nikmat yang telah diberikan Allah kepada hamba-Nya ialah Dia menundukkan dan memudahkan bagi manusia untuk memanfaatkan segala yang terkandung di dalam bumi dan segala yang ada di permukaannya, sehingga dapat dimanfaatkan untuk kepentingan hidup dan kehidupan manusia. Manusia diberi pengetahuan dan kemampuan menanam dan menyuburkan tanaman, menggali barang-barang tambang yang beraneka ragam macamnya. Kemudian Allah menunjukkan cara-cara memanfaatkan semuanya itu. Allah berfirman:

وَسَخَّر َ لَكُمْ مَّا فِى السَّمٰوٰتِ وَمَا فِى الْاَرْضِ جَمِيْعًا مِّنْهُ ۗ

Dan Dia menundukkan apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi untukmu semuanya (sebagai rahmat) dari-Nya. (al-Jāṡiyah/45: 13)

Manusia telah dianugerahi Allah ilmu yang banyak. Kadang-kadang sebagian mereka menjadi angkuh dan sombong dengan ilmu yang dimilikinya itu, hendaklah manusia ingat bahwa ilmu yang diberikan itu, hanyalah sedikit bila dibandingkan dengan ilmu Allah yang belum diketahui manusia. Ilmu manusia tidak ada artinya sama sekali bila dibandingkan dengan ilmu Allah, sebagaimana firman Allah:

وَيَسْـَٔل ُوْنَكَ عَنِ الرُّوْحِۗ قُلِ الرُّوْحُ مِنْ اَمْرِ رَبِّيْ وَمَآ اُوْتِيْتُمْ مِّنَ الْعِلْمِ اِلَّا قَلِيْلًا ٨٥

Dan mereka bertanya kepadamu (Muhammad) tentang roh. Katakanlah, ”Roh itu termasuk urusan Tuhanku, sedangkan kamu diberi pengetahuan hanya sedikit.” (al-Isrā’/17: 85)

Demikianlah Allah menundukkan dan memudahkan penguasaan kapal dan laut kepada manusia. Dimudahkan kapal berlayar ke samudera, membawa manusia dan keperluan manusia ke segenap penjuru dunia. Dengan kapal itu pula manusia mencari rezeki di lautan berupa ikan, mutiara, barang tambang dan khazanah lautan berupa ikan yang tidak terhitung banyaknya.

Allah menciptakan alam semesta, yang terdiri atas ruang angkasa dan planet-planetnya yang tidak terhitung banyaknya. Semua terapung dan beredar melalui garis edar yang telah ditentukan Allah. Masing-masing planet itu mempunyai daya tarik, sehingga ia tidak jatuh berantakan, kecuali jika Allah menghendaki-Nya. Firman Allah:

اِذَا السَّمَاۤءُ انْفَطَرَتْۙ ١ وَاِذَا الْكَوَاكِبُ انْتَثَرَتْۙ ٢

Apabila langit terbelah, dan apabila bintang-bintang jatuh berserakan. (al- Infiṭār/82: 1-2)

Semuanya itu tidak dijadikan Allah dengan cara kebetulan saja, tetapi dengan maksud tertentu, dengan hukum-hukum dan ketentuan-ketentuan yang rapi dan teliti. Dengan hukum-hukum dan ketentuan-ketentuan itu manusia dapat mengambil manfaat daripadanya, mereka dapat terbang di jagat raya, naik ke planet lain, mereka dapat meramalkan keadaan cuaca. Mereka dapat berpergian dari suatu negeri ke negeri yang lain dalam waktu yang tidak lama, dan banyak lagi manfaat lain yang dapat mereka ambil dengan menggunakan ketentuan-ketentuan dan hukum-hukum Allah itu. Semuanya itu menunjukkan kasih sayang Tuhan kepada manusia.

Isi Kandungan Kosakata

1. Mukhḍarrah مُخْضَرَّةً (al-Ḥajj/22: 63)

Artinya bumi menjadi hijau. Bumi yang tadinya kering kerontang setelah turun hujan berubah menjadi hijau karena banyaknya tanaman yang tumbuh. Ini menunjukkan kesuburan tanah tersebut yang akan mendatangkan kebaikan bagi penduduk negeri. Semuanya itu semata mata karena karunia Allah. Allah kuasa untuk menghidupkan sesuatu yang mati dan sebaliknya. Inilah tanda-tanda alam yang sengaja Allah memperlihatkannya kepada manusia agar mereka sadar dan kembali kepada Allah.

2. Laṭīf- Khabīr لَطِيْفٌ خَبِيْرٌ(al-Ḥajj/2 2:63)

Laṭīf akar katanya (ل- ط - ف) menunjukkan arti lembut, halus, pelan atau kecil. Jika dikaitkan dengan benda maka pengertian “laṭīf” adalah benda yang ringan, lawan dari ṡaqil (berat). Jika dikaitkan dengan gerakan maka artinya adalah gerakan yang ringan, lembut (al-ḥarakah al-khafīfah) atau juga mengerjakan pekerjaan yang rumit atau yang kecil-kecil. Dalam pengertian ini Allah mempunyai sifat yang semacam ini. Atau Allah mempunyai sifat lembut kepada hambanya dalam mengarahkannya untuk mendapat hidayah.

Kata “khabīr” akar katanya adalah (خ- ب - ر) yang mempunyai dua arti. Pertama, pengetahuan. Kedua, halus. Dari pengertian pertama ini Allah mempunyai pengetahuan terhadap sesuatu sampai yang sekecil-kecilnya dan segala beluk beluknya (bawaṭin al-umur), termasuk didalamnya menentukan kemaslahatan setiap hamba-Nya. Pada masa kini laboratorium disebut juga dengan “mukhtabar” karena bisa mengetahui benda-benda yang kecil.

Dari dua kata tersebut (laṭīf- khabīr) sebagian ulama mengatakan bahwa Allah Mahahalus/lembut dalam memberikan rezeki kepada hamba-hamba-Nya dan Maha Mengetahui terhadap apa yang ada dalam hati mereka. Bisa juga berarti bahwa Allah Mahahalus dalam mengeluarkan tanaman dari bumi sebagai rezeki kepada hamba-hamba-Nya dan Maha Mengetahui terhadap apa yang ada dalam hati mereka, jika hujan terlambat datang.

Penelusuran

  • Pos
  • Akun
  • Baru
  • Film
  • Musik
  • Berita
  • KBBI
  • Kripto