Geligi Animasi
Geligi Semua Satu Platform
Ayat 49 - Surat Al-Ḥajj (Haji)
الحجّ
Ayat 49 / 78 •  Surat 22 / 114 •  Halaman 338 •  Quarter Hizb 34.5 •  Juz 17 •  Manzil 4 • Madaniyah

قُلْ يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اِنَّمَآ اَنَا۠ لَكُمْ نَذِيْرٌ مُّبِيْنٌ ۚ

Qul yā ayyuhan-nāsu innamā ana lakum nażīrum mubīn(un).

Katakanlah (Nabi Muhammad), “Wahai manusia, aku hanyalah sebagai pemberi peringatan yang nyata kepadamu.”

Makna Surat Al-Hajj Ayat 49
Isi Kandungan oleh Tafsir Wajiz

Orang-orang musyrik Mekah, sebagaimana disebutkan pada ayat di atas, mengolok-olok Rasulullah dengan meminta disegerakan datangnya azab. Pada ayat ini disebutkan bahwa tugas beliau adalah menyampaikan peringatan.Katakanlah olehmu, Muhammad, “Wahai manusia! Urusan menurunkan azab itu wewenang Allah. Sesungguhnya aku diutus kepadamu dan seluruh manusia hingga hari Kiamat sebagai pemberi peringatan yang nyata bahwa beriman akan mendapatkan rida Allah, sedangkan mendustakan akan mendapatkan murka-Nya”

Isi Kandungan oleh Tafsir Tahlili

Allah memerintahkan kepada Nabi Muhammad saw agar menyampaikan kepada orang-orang yang minta disegerakan datangnya azab bahwa yang menimpakan azab itu bukanlah tugas para rasul. Tugas para rasul hanyalah menyampaikan peringatan dan ancaman Allah kepada manusia, termasuk mereka sendiri. Tugas para rasul juga menyampaikan bahwa tin-dakan-tindakan yang telah dilakukan orang-orang musyrik itu telah membawa mereka ke ambang pintu azab yang diancamkan itu. Para rasul tidak berwenang menilai perbuatan hamba karena yang memberi taufik dan hidayah itu hanyalah Allah sendiri. Allah berfirman:

لَيْسَ عَلَيْكَ هُدٰىهُمْ وَلٰكِنَّ اللّٰهَ يَهْدِيْ مَنْ يَّشَاۤءُ

Bukanlah kewajibanmu (Muhammad) menjadikan mereka mendapat petunjuk, tetapi Allah-lah yang memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki. (al-Baqarah/2: 272)

Seandainya Allah berkehendak menimpakan azab yang dijanjikan itu, tentu Dia telah melakukannya, dan melakukannya itu adalah mudah bagi-Nya, karena itu janganlah sekali-kali meminta kepada rasul agar azab itu disegerakan atau ditangguhkan, karena semuanya itu adalah wewenang Allah.

Dengan adanya penyampaian ancaman dan peringatan itu, manusia yang hatinya terbuka untuk menerima petunjuk Allah, mempunyai kesempatan untuk menghindarkan diri dari azab Allah yang diancamkan itu, yaitu dengan melakukan semua yang diperintahkan Allah, menghentikan semua yang dilarang dan berusaha menghapuskan segala dosanya dengan mengerjakan amal yang saleh. Jika mereka tetap dalam kekafiran, tentulah Allah akan melaksanakan ancaman-Nya dengan menimpakan azab yang pedih kepada mereka kapan saja dikehendaki.

Isi Kandungan Kosakata

Nażīr Mubīn نَذِيْرٌ مُبِيْنٌ )al-Ḥajj/22: 49)

Nażīr, akar katanya adalah (ن- ذ- ر) artinya memberikan rasa takut. Inżar adalah pemberitahuan kepada orang lain yang bersifat menakut nakuti. Nażir berarti orang yang memberikan pemberitahuan kepada orang lain yang berupa peringatan yang bersifat menakut nakuti.

Mubīn artinya yang nyata dan jelas. Akar katanya (ب- ي- ن) yang berarti jauhnya sesuatu, nyata dan tersingkap jelas. Sesuatu yang jauh menyebabkan sesuatu itu jelas dan berbeda dari lainnya. Nażīr Mubin berarti pemberi peringatan yang jelas. Kejelasan disini terkait dengan ajaran yang dibawanya, semuanya jelas bagi orang yang diajaknya, yaitu agar beribadah hanya kepada Allah. Kebalikannya adalah basyīr atau orang yang membawa kabar gembira. Ungkapan ini ditujukan kepada mereka yang mengikuti ajaran Nabi sementara nażir bagi mereka yang mendurhakainya.

Al-Qur’an menggunakan kedua ungkapan tersebut secara beriringan (basyīr-nażīr) dalam beberapa tempat (Lih. al-Baqarah/2:119) dalam konteks tugas seorang rasul. Terkadang mendahulukan nażīr (nażīr-basyīr) seperti dalam surah al-A‘rāf/7:188, Hūd/11:2, jika ditujukan kepada orang kafir dengan harapan mereka sadar dengan membandingkan dua hal yaitu masuk neraka jika durhaka dan masuk surga jika taat. Dan seringkali Al-Qur’an hanya menggunakan nażīr saja tanpa menggunakan kata basyīr seperti dalam surah ini. Hal ini dalam upaya menekan mereka yang ingkar supaya sadar akan bahayanya kedurhakaan. Demikianlah Al-Qur’an selalu melihat konteks orang yang diajak bicara.

Penelusuran

  • Pos
  • Akun
  • Baru
  • Film
  • Musik
  • Berita
  • KBBI
  • Kripto