وَكَاَيِّنْ مِّنْ قَرْيَةٍ اَمْلَيْتُ لَهَا وَهِيَ ظَالِمَةٌ ثُمَّ اَخَذْتُهَاۚ وَاِلَيَّ الْمَصِيْرُ ࣖ
Wa ka'ayyim min qaryatin amlaitu lahā wa hiya ẓālimatun ṡumma akhażtuhā, wa ilayyal-maṣīr(u).
Berapa banyak negeri yang Aku tangguhkan (siksa)-nya, padahal (penduduk)-nya berbuat zalim, kemudian Aku siksa mereka. Hanya kepada-Ku tempat kembali (segala sesuatu).
Tantangan orang kafir agar disegerakan pemberian azab bagi me-reka dijawab Allah dengan berfirman, "Dan perhatikanlah, berapa banyak negeri yang Aku tangguhkan penghancurannya, meskipun penduduknya meminta agar azab yang dijanjikan itu disegerakan. Karena penduduknya berbuat zalim, tidak beriman, menghina, dan mengusir utusan Allah, kemudian Aku azab mereka saat mereka merasa aman dari azab-Ku. Dan hanya kepada-Kulah tempat kembali setiap orang dalam kehidupan sesudah mati, baik yang beriman maupun yang kufur.”
Allah melakukan segala sesuatu sesuai dengan kehendak dan kebijaksanaan-Nya. Dalam pada itu manusia juga harus ingat akan salah satu dari sifat-sifat Allah, yaitu Dia tidak segera mengazab hamba-hamba-Nya yang berdosa sebelum memberi kesempatan bertobat kepada mereka dengan cara beriman dan beramal saleh. Apabila kesempatan bertobat itu tidak juga digunakan oleh hamba-Nya, barulah mereka ditimpa azab yang dijanjikan itu. Karena itu berapa banyak negeri yang penduduknya berlaku zalim, setelah beberapa lama, mereka tidak bertobat, bahkan bertambah zalim maka Allah menimpakan azab kepada mereka dengan tiba-tiba dari arah yang tidak mereka ketahui. Hendaklah manusia ingat, bahwa segala sesuatu yang ada di alam semesta ini adalah kepunyaan Allah, termasuk apa yang ada di dalamnya, semuanya akan kembali kepada Allah. Di waktu kembali kepada-Nya, ditimbanglah seluruh amal perbuatan mereka, amal baik dibalas dengan surga yang penuh kenikmatan, sedang amal buruk dan perbuatan jahat akan dibalas dengan neraka yang apinya menyala-nyala.
1. Bi’r Mu’aṭṭalah بِئْرٍ مُعَطَّلَةٍ (al-Ḥajj/22:45)
Artinya sumur yang sudah ditinggalkan. Kata mu’aṭṭalah, akar katanya adalah ع- ط- ل)) menunjukkan arti kosong (khuluw-farag). Dari pengertian asal ini muncul pengertian lain seperti tidak diperhatikan, dibiarkan, dan lain sebagainya terkait dengan konteksnya. Seperti unta yang ditinggalkan dan dibiarkan begitu saja oleh pemiliknya. Firman Allah ( واذا العشار عطلت ) (at-Takwīr/81:4) artinya “Dan ketika unta-unta yang bunting ditinggalkan (tidak dipedulikan).” Sumur yang sudah tidak digunakan dan tidak dipakai lagi, juga disebut dengan bi’r mu’aṭṭalah sebagaimana pada ayat ini. Baik unta maupun sumur adalah dua kekayaan yang sangat berharga bagi orang arab atau orang yang mendiami padang pasir. Jika kedua hal tersebut sudah tidak diperhatikan lagi atau ditinggalkan, berarti pasti ada hal yang sangat menyibukkan penghuninya sehingga tidak memperdulikannya lagi, apakah mereka lari seperti pada surah at-Takwīr, atau mati seperti pada ayat ini.
2.Qaṣr Masyīd قَصْرٍ مَشِيْدٍ (Al-Hajj/22:45)
Artinya Istana yang tinggi. Kata qaṣr akar katanya adalah ق- ص- ر)) yang mempunyai dua pengertian. Pertama, tidak tercapainya sesuatu pada puncaknya. Salat yang diqasr adalah salat yang tidak disempurnakan. Seperti empat rakaat menjadi dua rakaat. Qaṣr juga lawan dari ṭūl (tinggi). At-taqṣir ialah lalai, lengah, karena tidak dikerjakan dengan sebenarnya. Kedua, tertahan. Allah menggambarkan bidadari surga yang pandangan matanya tidak diarahkan kecuali kepada suaminya sendiri dengan firman-Nya: (قاصرات الطرف ) ar-Raḥmān/55: 56. Begitu juga bidadari yang dipingit dalam rumah/kemah disebutnya sebagai (حور مقصورات فى الخيام) (ar-Raḥmān/55:72). Satu ruangan dalam mesjid, biasanya didekat mihrab, seperti kerangkeng yang diperuntukkan untuk orang penting disebut “maqṣūrah.”
Istana disebut dengan qaṣr karena bangunan istana mengepung orang yang berada didalamnya, sehingga orang yang ada didalamnya seperti tertahan.
Masyīd berakar kata (ش-ي- د) yang berarti tingginya sesuatu. Asy-Syīd الشيد adalah juga berarti benda untuk melabur dinding atau benda campuran untuk membangun. Al-Isyadah adalah mengangkat citra seseorang. Dengan demikian maka ungkapan Qaṣr Masyid bisa berarti istana yang dibangun, didirikan atau ditinggikan.
Sekali lagi qaṣr adalah tempat yang sangat berharga bagi penghuninya. Tapi dosa yang dilakukan oleh mereka menyebabkan mereka dibinasakan oleh Allah. Semua harta peninggalan mereka termasuk qaṣr ditinggal.

