۞ ذٰلِكَ وَمَنْ عَاقَبَ بِمِثْلِ مَا عُوْقِبَ بِهٖ ثُمَّ بُغِيَ عَلَيْهِ لَيَنْصُرَنَّهُ اللّٰهُ ۗاِنَّ اللّٰهَ لَعَفُوٌّ غَفُوْرٌ
Żālika wa man ‘āqaba bimiṡli mā ‘ūqiba bihī ṡumma bugiya ‘alaihi layanṣurannahullāh(u), innallāha la‘afuwwun gafūr(un).
Demikianlah, siapa yang membalas seimbang dengan penganiayaan yang telah dia derita kemudian dia dizalimi (lagi) pasti akan ditolong oleh Allah. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pemaaf lagi Maha Pengampun.
Orang beriman boleh melakukan perlawanan atau pembelaan diri jika dizalimi. Demikianlah, Allah mengizinkan kepada orang-orang beriman untuk membela diri dengan adil, dan barang siapa membalas perlakuan zalim sebanding dengan kezaliman atau penganiayaan yang pernah dia derita di masa lalu, kemudian dia dizalimi lagi, karena mempertahankan hak, pasti Allah akan menolongnya di dunia maupun di akhirat. Sungguh, Allah Maha Pemaaf kepada hamba-hamba-Nya yang memaafkan kesalahan orang lain, Maha Pengampun kepada mereka yang bertobat.
Demikianlah, Allah akan memberikan rezeki yang baik dan surga yang penuh kenikmatan kepada orang-orang yang meninggal dalam keadaan hijrah dan berjihad di jalan Allah, dalam memerangi musuh-musuh mereka.
Kemudian Allah menegaskan jaminan pertolongan-Nya kepada orang-orang yang hijrah dan berjihad, yaitu siapa di antara orang-orang yang beriman membalas siksaan orang-orang kafir, karena mereka telah diperangi, kemudian musuh-musuhnya itu memaksa mereka untuk hijrah meninggalkan kampung halaman mereka, pastilah Allah akan menolong mereka dan akan membalas perbuatan itu kembali.
Dalam pada itu Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang kepada hamba-hamba-Nya. Karena itu janganlah orang-orang yang beriman memerangi musuh-musuh mereka yang telah menyerah dan hendaklah mereka melindungi orang-orang yang minta perlindungan kepada mereka. Jika orang-orang kafir membiarkan kaum Muslimin menjalankan agamanya, tidak mengganggu dan menyakiti mereka, Allah melarang memerangi orang-orang kafir itu. Allah memerintahkan untuk memaafkan kesalahan mereka, sebagaimana Allah telah memaafkan pula kesalahan orang-orang yang beriman. Allah berfirman:
وَالَّذِ يْنَ اِذَآ اَصَابَهُمُ الْبَغْيُ هُمْ يَنْتَصِرُوْنَ ٣٩ وَجَزٰۤؤُا سَيِّئَةٍ سَيِّئَةٌ مِّثْلُهَا ۚفَمَنْ عَفَا وَاَصْلَحَ فَاَجْرُهٗ عَلَى اللّٰهِ ۗاِنَّهٗ لَا يُحِبُّ الظّٰلِمِيْنَ ٤٠
Dan (bagi) orang-orang yang apabila mereka diperlakukan dengan zalim, mereka membela diri. Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang setimpal, tetapi barang siapa memaafkan dan berbuat baik (kepada orang yang berbuat jahat) maka pahalanya dari Allah. Sungguh, Dia tidak menyukai orang-orang zalim. (asy-Syūra/42: 39-40)
1. Mudkhalan مُدْخَلاً (al-Ḥajj/22: 59)
Kata ini adalah bisa berarti maṣdar mimi (kata jadian yang dimulai dengan huruf mim) atau isim makān atau kata yang menunjukkan arti tempat yaitu tempatnya masuk. Jika menjadi maṣdar mimi maka kata ini kedudukannya jadi maf’ul muṭlaq yang gunanya untuk meneguhkan/menguatkan kata kerja sebelumnya. Maka arti ayat tersebut, “Sesungguhnya Allah akan memasukkan mereka dengan memasukkan yang sesungguhnya (ke dalam sorga) yang mereka menyukainya.” Jika menjadi isim makān maka kedudukannya menjadi isim maf’ul. Maka arti ayat tersebut ialah, “Sesungguhnya Allah akan memasukkan mereka kedalam satu tempat (sorga) yang mereka sukai.”
2. Yarḍaunah يَرْضَوْنَهُ (al-Ḥajj/22:59)
Yarḍaun ah adalah bentuk fi’il muḍari’ atau kata kerja dari “riḍa” untuk masa kini dan masa yang akan datang. Riḍa adalah lawan dari benci (sukhṭ). Maka riḍa yang didapat oleh penghuni surga adalah suatu kebahagiaan yang mereka rasakan dari waktu ke waktu dan berlangsung terus berkelanjutan (at-tajaddud al-mustamirr) selama mereka di surga. Tidak ada sedikitpun perasaan jemu atau bosan menikmati kenikmatan surga. Tidak sebagaimana kenikmatan di dunia.









































