Geligi Animasi
Geligi Semua Satu Platform
Ayat 9 - Surat Al-Ḥajj (Haji)
الحجّ
Ayat 9 / 78 •  Surat 22 / 114 •  Halaman 333 •  Quarter Hizb 34 •  Juz 17 •  Manzil 4 • Madaniyah

ثَانِيَ عِطْفِهٖ لِيُضِلَّ عَنْ سَبِيْلِ اللّٰهِ ۗ لَهٗ فِى الدُّنْيَا خِزْيٌ وَّنُذِيْقُهٗ يَوْمَ الْقِيٰمَةِ عَذَابَ الْحَرِيْقِ

Ṡāniya ‘iṭfihī liyuḍilla ‘an sabīlillāh(i), lahū fid-dun-yā khizyuw wa nużīquhū yaumal-qiyāmati ‘ażābal-ḥarīq(i).

Sambil memalingkan lehernya (dengan congkak) untuk menyesatkan manusia dari jalan Allah. Bagi dialah kehinaan di dunia dan pada hari Kiamat Kami mencicipkan kepadanya azab (neraka) yang membakar.

Makna Surat Al-Hajj Ayat 9
Isi Kandungan oleh Tafsir Wajiz

Manusia yang mengingkari Allah dengan hatinya yang gelap, sambil memalingkan lambungnya dengan congkak berusaha dengan segala cara untuk menyesatkan manusia dari jalan Allah. Dia sebenarnya mendapat kehinaan di dunia karena hidup tanpa kecerdasan emosi dan kecerdasan spiritual hingga hidupnya dibiarkan tanpa bimbingan Allah; dan pada hari Kiamat sebagai balasan atas kekufurannya, Kami berikan kepadanya rasa azab neraka yang membakar hingga kulitnya hangus, kemudian kulitnya diperbarui supaya terus bisa merasakan azab yang membakar.

Isi Kandungan oleh Tafsir Tahlili

Ayat ini menerangkan bahwa di antara manusia itu ada yang benar-benar bertindak dan berbuat melampaui batas, ada yang membantah serta mengingkari Allah dan sifat-sifat-Nya, tanpa dasar pengetahuan, tanpa argumen yang kuat dan tanpa bimbingan wahyu yang benar. Sikap mereka yang demikian itu semata-mata karena kesombongannya sehingga memalingkan muka dari manusia, yaitu membelakangi orang lain. Hati mereka sudah mati dan tertutup. Sebagaimana firman Allah:

فَاِنَّهَا لَا تَعْمَى الْاَبْصَارُ وَلٰكِنْ تَعْمَى الْقُلُوْبُ الَّتِيْ فِى الصُّدُوْرِ

Sebenarnya bukan mata itu yang buta, tetapi yang buta ialah hati yang di dalam dada. (al-Ḥajj/22: 46)

Orang yang demikian itu, jika diberi peringatan mereka tidak akan menerimanya, bahkan mereka bertambah ingkar dan sombong.

Allah berfirman:

وَاِذَا تُتْلٰى عَلَيْهِ اٰيٰتُنَا وَلّٰى مُسْتَكْبِرًا كَاَنْ لَّمْ يَسْمَعْهَا كَاَنَّ فِيْٓ اُذُنَيْهِ وَقْرًاۚ فَبَشِّرْهُ بِعَذَابٍ اَلِيْمٍ ٧

Dan apabila dibacakan kepadanya ayat-ayat Kami, dia berpaling dengan menyombongkan diri seolah-olah dia belum mendengarnya, seakan-akan ada sumbatan di kedua telinganya, maka gembirakanlah dia dengan azab yang pedih. (Luqmān/31: 7)

Orang yang buta mata hatinya dan menyombongkan dirinya, mereka itulah yang telah mengingkari Allah dan adanya Hari Kemudian itu. Maksud mereka adalah untuk menyesatkan dari jalan yang benar sehingga jauh dari Allah.

Menurut sebagian mufasir ayat ini diturunkan sebagai penegasan dan peringatan keras dari Allah kepada orang-orang yang mengingkari dan membantah-Nya, sebagaimana disebutkan pada ayat-ayat yang lalu. Pada ayat 3 dan 4 Surah ini dinyatakan bahwa pemuka-pemuka kaum musyrikin Mekah, terutama Naḍar bin Harìs, telah membantah dan mengingkari Allah, tanpa pengetahuan, serta mengikuti godaan setan. Pada ayat ini ditegaskan bahwa Naḍar bin Harìs dan kawan-kawannya, serta orang-orang yang bertingkah laku seperti mereka itu, benar-benar membantah dan mengingkari Allah. Dengan demikian ayat ini sesunguhnya memberikan peringatan dan ancaman yang keras kepada mereka, bahwa tindakan-tindakan mereka itu akan menimbulkan akibat yang sangat buruk bagi diri mereka sendiri, yaitu kehinaan di dunia dan di akhirat.

Dari ayat-ayat ini dan ayat-ayat sebelumnya dapat dipahami bahwa ada dua hal pokok yang diingkari oleh orang-orang musyrik Mekah itu. Pada ayat yang sebelumnya disebutkan bahwa mereka mengingkari dan membantah adanya hari Kiamat dan hari kebangkitan, sedang pada ayat-ayat ini mereka membantah dan mengingkari adanya Allah dan segala sifat-sifat keagungan dan kebesaran-Nya. Kedua hal ini termasuk rukun iman yang merupakan pokok-pokok yang wajib dipercayai dan diyakini. Karena itu, tindakan mereka tidak saja menimbulkan kerugian bagi diri mereka sendiri, tetapi juga menyesatkan manusia yang lain dari jalan Allah, karena perbuatan mereka itu langsung atau tidak langsung akan mempengaruhi manusia yang lain.

Mereka itu di dunia akan memperoleh kehinaan, seperti kehinaan yang dialami Abu Lahab dan istrinya, dan di akhirat akan ditimpa azab neraka yang sangat panas yang menghanguskan tubuh mereka.

Isi Kandungan Kosakata

1. Yujādilu يُجَادِلُ (al-Ḥajj/22: 8 )

Kata yujādilu diambil dari kata mujādalatan/jadlan, yang berarti perbantahan, atau perdebatan. Kata yujādilu fi’il māḍinya jādala berarti membantah, perbantahan atau mendebat.

Maksud kata yujādilu dalam ayat ini membantah tentang Allah tanpa ilmu atau petunjuk dari kitab Al-Qur’an. Pembantahan itu dilakukan dengan sikap keras kepala hanya berdasarkan hasil pengembangan nalar atau jiwa seseorang manusia.

2. Ṡāniya ‘Iṭfihi ثَانِيَ عِطْفِهِ (al-Ḥajj/22: 9)

Kata ṡāniya terambil dari akar kata ṡanā – yaṡnī – ṡanyan berarti melipat, memutar dan membelokkan, dan ‘iṭfihi dari kata ‘aṭafa – ya’ṭifu – ‘aṭfan/’uṭufan yang berarti cenderung. Kata ‘iṭfi berarti bagian samping sesuatu, atau arah ketika sampai ke pusar atau pertengahan punggung. Yang dimaksud oleh ayat ini dengan gabungan kedua kata tersebut yaitu ṡāniya ‘iṭfihi adalah bersifat angkuh, karena biasanya seseorang yang angkuh memalingkan badan/wajahnya, enggan melihat orang atau apa yang dinilainya remeh.

3. ‘Ażābal-ḥarīq عَذَابَ الْحَرِيْقِ(al- ajj/22: 9 )

Kata ‘azāb sudah dijelaskan ketika menjelaskan pengertian ‘ażāb as-sa ‘īr, yakni berarti keadaan yang memberati pundak seseorang dan digunakan untuk menyebut segala sesuatu yang menimbulkan kesulitan, seperti penjatuhan sanksi.

Kata al-ḥarīq berarti kebakaran adalah sifat musyabbahah bi isim fa’il dari ḥaraqa – yaḥruqu – ḥarqan, yang berarti membakar. Jadi yang dimaksud ‘ażābal-ḥarīq dalam ayat ini adalah ‘ażāb neraka yang membakar yang disiapkan bagi orang-orang yang angkuh.

Penelusuran

  • Pos
  • Akun
  • Baru
  • Film
  • Musik
  • Berita
  • KBBI
  • Kripto