وَلَا تَكُوْنُوْا كَالَّذِيْنَ نَسُوا اللّٰهَ فَاَنْسٰىهُمْ اَنْفُسَهُمْۗ اُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْفٰسِقُوْنَ
Wa lā takūnū kal-lażīna nasullāha fa'ansāhum anfusahum, ulā'ika humul-fāsiqūn(a).
Janganlah kamu seperti orang-orang yang melupakan Allah sehingga Dia menjadikan mereka lupa kepada diri mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang fasik.
Allah mengingatkan orang berimaan dengan berfirman, “Dan janganlah kamu, wahai orang-orang beriman seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, tidak menyadari bahwa Allah senantiasa mengawasi manusia dalam kehidupan ini sehingga Allah menjadikan mereka, karena pola hidup mereka yang hanya mencari kepuasaan, kelezatan, dan kenikmatan duniawi tanpa mempertimbangkan kebutuhan hidup sesudah mati, manusia yang lupa akan diri sendiri, yakni manusia yang tercabut dari akar kemanusiaannya. Mereka itulah, manusia yang lupa kepada Allah dan lupa kepada diri sendiri adalah orang-orang fasik, yaitu orang-orang yang bergelimang dosa dan perbuatan keji.”
Ayat ini dapat berarti khusus dan dapat pula berarti umum. Berarti khusus ialah ayat ini berhubungan dengan orang munafik dan orang-orang Yahudi Bani Naḍīr serta sikap dan tindakan mereka terhadap kaum Muslimin pada waktu turunnya ayat ini. Berarti umum ialah semua orang yang suka menyesatkan orang lain dari jalan yang benar dan orang-orang yang mau disesatkan karena teperdaya oleh rayuan dan janji-janji yang muluk-muluk dari orang yang menyesatkan.
Maksudnya, janganlah sekali-kali orang yang beriman seperti orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah melupakannya. Orang yang lupa kepada Allah, seperti orang munafik dan orang Yahudi Bani Naḍīr di masa Rasulullah saw, tidak bertakwa kepada-Nya. Mereka hanya memikirkan kehidupan dunia saja, tidak memikirkan kehidupan di akhirat. Mereka disibukkan oleh harta dan anak cucu mereka serta segala yang berhubungan dengan kesenangan duniawi. Firman Allah:
يٰٓاَيُّهَ ا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تُلْهِكُمْ اَمْوَالُكُمْ وَلَآ اَوْلَادُكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللّٰهِ ۚوَمَنْ يَّفْعَلْ ذٰلِكَ فَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْخٰسِرُوْنَ ٩
Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah harta bendamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Dan barang siapa berbuat demikian, maka mereka itulah orang-orang yang rugi. (al-Munāfiqūn/63: 9)
Kemudian diterangkan bahwa jika seseorang lupa kepada Allah, maka Allah pun melupakannya. Maksud pernyataan ‘Allah melupakan mereka’ ialah Allah tidak menyukai mereka, sehingga mereka bergelimang dalam kesesatan, makin lama mereka makin sesat, sehingga makin jauh dari jalan yang lurus, jalan yang diridai Allah. Oleh karena itu, di akhirat mereka juga dilupakan Allah, dan Allah tidak menolong dan meringankan beban penderitaan mereka. Akhirnya mereka dimasukkan ke dalam neraka, sebagai balasan perbuatan dan tindakan mereka.
Ditegaskan bahwa orang-orang seperti kaum munafik dan Yahudi Bani Naḍīr adalah orang-orang yang fasik. Mereka mengetahui mana yang baik (hak) dan mana yang batil, mana yang baik dan mana yang jahat. Namun demikian, mereka tidak melaksanakan yang benar dan baik itu, tetapi malah melaksanakan yang batil dan yang jahat.
1. Ittaqullāh (Taqwā) اِتَّقُوا اللهَ (تَقْوَى) (al-Ḥasyr/59: 18)
Ittaqullāh artinya bertakwalah kamu semua kepada Allah. Bertakwa kepada Allah banyak diperintahkan dalam Al-Qur’an, dalam bentuk fi‘il amr saja tidak kurang dari 65 kali. Pada ayat 18 ini saja dua kali disebutkan. Hal ini menunjukkan pentingnya bersikap takwa kepada Allah. Dalam bentuk isim fā‘il yaitu orang yang takwa, baik dalam bentuk marfū‘ yaitu al-muttaqūn atau dalam keadaan mansūb atau majrūr yaitu al-muttaqīn dalam Al-Qur’an disebutkan hingga 49 kali. Belum lagi dalam bentuk fi‘il māḍī dan muḍāri‘ lebih banyak lagi sampai berpuluh-puluh kali. Taqwā secara bahasa berarti menjaga diri, yaitu menjaga diri dari perbuatan dosa yang menyebabkan akan mendapat siksa dari Allah. Secara istilah taqwā berarti melaksanakan segala perintah Allah dan menghindari larangan-larangan-Nya. Pada ayat 18 surah ini, Allah memerintahkan kepada orang-orang mukmin agar bertakwa kepada Allah yang dihubungkan dengan perintah untuk memperhatikan perbuatan-perbuatan masa lalu untuk kepentingan dan perbaikan masa depan.
2. Ligad لِغَدٍ (al-Ḥasyr/59: 18)
Ligad artinya hari esok, maksudnya hari-hari yang akan datang. Gadan biasa diartikan bukrah yaitu besok hari, hari sesudah hari ini. Akan tetapi, dalam bentuk ma‘rifah, al-gad (dengan alif lām) berarti hari esok, yaitu hari yang akan datang, setelah beberapa hari, atau beberapa bulan, atau bahkan setelah beberapa tahun yang akan datang. Pada ayat 18, ligad maksudnya hari yang akan datang yaitu di akhirat. Allah memerintahkan agar setiap mukmin memperhatikan perbuatan-perbuatannya di masa lalu untuk kebaikan dan kepentingan masa depan di akhirat. Selagi bisa, mereka dianjurkan memperbaiki, menghentikan perbuatan-perbuatan dosa, dan menambah atau menggantinya dengan perbuatan baik, agar terhindar dari siksa neraka dan mendapat lebih banyak kebahagiaan di surga.












































