قَالَ اِنَّكُمْ قَوْمٌ مُّنْكَرُوْنَ
Qāla innakum qaumum munkarūn(a).
dia berkata, “Sesungguhnya kamu orang-orang yang tidak kami kenal.”
Usai mengisahkan dialog antara Nabi Ibrahim dengan para malaikat yang bertamu ke kediamannya, pada ayat-ayat berikut Allah mengisahkan pembinasaan kaum Nabi Lut. Allah menyatakan, “Maka ketika utusan yang sebelumnya bertamu ke rumah Nabi Ibrahim itu datang kepada para pengikut Lut, dia berkata, “Sesungguh-nya kamu, wahai para tamu, adalah orang yang tidak kami kenal.” (Lihat: Surah al-'Ankabut/29: 23)
Setelah para malaikat menyampaikan kabar gembira kepada Ibrahim a.s. akan anugerah Allah kepadanya berupa kelahiran seorang putra dan berita akan kehancuran kaum Luṭ yang ingkar, mereka pun meninggalkan rumah Ibrahim menuju kota Sodom, negeri tempat tinggal kaum Luṭ yang terletak di daerah Yordania, untuk melaksanakan tugas yang telah dipikulkan Allah kepada mereka.
Kedatangan mereka secara tiba-tiba ke rumahnya tidak diduga-duga sedikit pun oleh Luṭ a.s. dan ia tidak mengetahui sedikit pun siapa para tamu yang datang itu. Hal ini tergambar dalam ucapan Luṭ ketika menyambut tamunya itu, “Sesungguhnya kamu sekalian adalah orang yang tidak dikenal.” Pada firman Allah yang lain digambarkan pula kegelisahan Luṭ dan ketidaktahuannya terhadap kaumnya itu.
Allah berfirman:
وَلَمَّا ٓ اَنْ جَاۤءَتْ رُسُلُنَا لُوْطًا سِيْۤءَ بِهِمْ وَضَاقَ بِهِمْ ذَرْعًا
Dan ketika para utusan Kami (para malaikat) datang kepada Luṭ, dia merasa bersedih hati karena (kedatangan) mereka, dan (merasa) tidak mempunyai kekuatan untuk melindungi mereka. (al-’Ankabūt/29: 33)
Dari ayat dipahami bahwa sebab kekhawatiran dan kegelisahan Nabi Luṭ itu ialah kedatangan tamu-tamu itu ke rumahnya secara tiba-tiba dan tidak terduga sebelumnya. Para malaikat itu menyamar seperti laki-laki rupawan yang sangat disukai oleh kaum Luṭ yang senang mengerjakan perbuatan homoseksual. Biasanya kalau datang laki-laki seperti itu, kaum Luṭ akan datang beramai-ramai ke rumahnya dan memaksa Luṭ menyerahkan tamunya kepada mereka. Seandainya Luṭ a.s. mengetahui dengan pasti bahwa yang datang itu para malaikat, tentulah dia tidak merasa khawatir karena dia percaya bahwa para malaikat dapat mempertahankan dan membela diri dari tindakan mereka itu.
Lūṭ لُوْط (al-Ḥijr/15: 61)
Pada garis besarnya kisah Nabi Luṭ dalam Al-Qur’an hampir sama seperti yang diceritakan dalam Bibel, tanpa menyebut nama-nama orang atau tempat dengan terinci, dan beberapa peristiwa lain.
Luṭ dalam ejaan Bibel adalah Lot. Lot anak Haran dan cucu Terah lahir di Ur, Kaldea; dia adalah kemenakan Abram (Ibrahim) (Kej. 11: 27, 31). Ia menemani pamannya dalam bermigrasi dari Haran (Harran) ke Kanaan, kemudian ke Mesir. Setelah keluar meninggalkan Mesir bersama Sarah, istrinya, dan Lot, dengan membawa kekayaan yang tidak sedikit, Abraham kembali ke perkemahannya yang dulu di dekat Betel dan Ai, melalui selatan Palestina. Kekayaan mereka, terutama ternak yang bertambah besar menyebabkan kedua kerabat itu terpisah, sebab padang rumput di daerah itu tidak akan mencukupi dan terasa sempit sekali. Lot lalu memilih daerah subur di kawasan Yordania. Di distrik inilah terletak Sodom dan Gomorah, sebelah timur Laut Mati. Watak Lot yang dilukiskan keras dan menyukai kemewahan sangat berlawanan dengan watak Abraham yang lembut. Akhir hayat Lot tidak jelas. Sebelum itu, Abraham sudah menetap di dekat pohon-pohon tarbantin di Mamre, dekat Hebron .
Seperti disebutkan di atas, Al-Qur’an sedikit sekali menyebut nama orang atau tempat. Tidak seorang pun nama anggota keluarga Rasulullah atau sahabat dekatnya yang disebutkan selain Zaid. Nama Luṭ dalam Al-Qur’an disebutkan dalam 27 ayat, tanpa menyebut nama, tempat, dan pelaku, selain Luṭ sendiri dan Ibrahim. Dimulai dengan menyebutkan bahwa Allah telah memberi kearifan dan ilmu kepada Luṭ dan dimasukkan-Nya ke dalam rahmat-Nya, karena dia termasuk hamba-Nya yang saleh (al-Anbiyā’/21: 74-75). Perlu diperhatikan, bahwa Nabi Luṭ tidak termasuk kaum Sodom dan Gomorah. Oleh karena itu, dalam Qur’an Luṭ tidak disebut akhāhum seperti pada Hud, Saleh dan Syu‘aib, dengan menyebut untuk kaum ‘Ad “akhāhum Hūdan”, kaum Ṡamud “akhāhum Ṣāliḥan”, dan kaum Madyan “akhāhum Syu`aiban”. Luṭ sudah beriman kepada Ibrahim dan mengikuti ajaran dan perjuangannya. Ia tinggal di tempat itu setelah berpisah dengan pamannya, Ibrahim. Ia kemudian diutus Tuhan kepada penduduk tempat itu untuk menyampaikan pesan suci. Tetapi ia menganggap kaumnya itu seperti saudara-saudaranya sendiri (Qāf/50: 13) seperti yang selalu dilakukan para nabi.














































