وَمَا خَلَقْنَا السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَآ اِلَّا بِالْحَقِّۗ وَاِنَّ السَّاعَةَ لَاٰتِيَةٌ فَاصْفَحِ الصَّفْحَ الْجَمِيْلَ
Wa mā khalaqnas-samāwāti wal-arḍa wa mā bainahumā illā bil-ḥaqq(i), wa innas-sā‘ata la'ātiyatun faṣfaḥiṣ-ṣafḥal-jamīl(a).
Kami tidak menciptakan langit dan bumi serta apa yang ada di antara keduanya, melainkan dengan benar. Sesungguhnya kiamat pasti akan datang. Maka, maafkanlah (mereka) dengan cara yang baik.
Usai menceritakan kisah beberapa kaum yang durhaka kepada para rasul, melalui ayat ini Allah kembali menegaskan tentang penciptaan langit dan bumi. Allah menyatakan, “Dan Kami tidak menciptakan langit dengan aneka bintang dan planet yang menghiasinya dan tidak pula kami ciptakan bumi dengan aneka makhluk di permukaannya maupun di perutnya, serta apa yang ada di antara keduanya, yakni antara langit dan bumi, baik yang tampak maupun yang tidak tampak, yang diketahui maupun tidak diketahui oleh manusia, melainkan dengan kebenaran. Kami ciptakan itu semua sebagai bukti-bukti kekuasaan Kami agar manusia mau beriman. Dan sungguh, Kiamat yang menjadi saat ketika semua manusia dimintai pertanggungjawaban atas amalnya, pasti akan datang. Tidak ada keraguan sedikit pun tentangnya. Maka maafkanlah kaummu yang enggan beriman, wahai Nabi Muhammad, atas kecaman, gangguan, dan pendustaan mereka kepadamu. Maafkanlah mereka dengan cara yang baik.”
Ayat ini menerangkan bahwa Allah menciptakan semua yang ada di langit dan di bumi ini, bukan untuk berbuat aniaya dan zalim kepada seluruh penduduk atau makhluk, seperti yang dilakukan terhadap umat dahulu yang durhaka. Allah menciptakan benda-benda tersebut dengan maksud dan tujuannya, sesuai dengan pengetahuan dan kasih sayang Allah kepada makhluk-Nya. Demikian pula kisah-kisah umat yang dahulu disampaikan agar dijadikan iktibar, tamsil, dan ibarat bagi orang-orang yang mau percaya kepada kekuasaan dan kebesaran Allah.
Kemudian Allah swt menegaskan bahwa hari kiamat itu pasti datang, tidak ada keraguan sedikit pun, karena pada waktu itulah Allah menyem-purnakan balasannya kepada manusia sesuai dengan perbuatan yang telah mereka lakukan. Perbuatan baik dibalas dengan surga, sedang perbuatan buruk dibalas dengan azab neraka.
Allah memperingatkan bahwa jika manusia tidak mau beriman kepada Allah dan Nabi Muhammad, serta tidak mau mengambil pelajaran dan pengalaman yang telah dialami umat-umat yang dahulu, maka Rasul diperintahkan untuk berpaling dari mereka, dan memperlihatkan sikap yang baik, budi pekerti yang tinggi, serta memaafkan tindak-tanduk mereka yang tidak wajar terhadapnya.
Ayat ini menerangkan sikap-sikap yang harus dimiliki oleh seorang dai khususnya dan seluruh kaum Muslimin pada umumnya dalam menyampai-kan agama Allah dan menghadapi orang-orang yang durhaka. Kaum Muslimin hanya berkewajiban menyampaikan agama Allah, dan tidak diharuskan untuk memaksa dan menjadikan mereka (orang-orang durhaka) beriman, yang menjadikan iman dan kafirnya seseorang hanyalah Allah.
Aṣḥābul Aikah اَصْحَابُ اْلأَيْكَةِ (al-Ḥijr/15: 78)
Berbicara tentang Aṣḥābul Aikah tentu tidak bisa lepas dari pembicaraan tentang Syu‘aib dan Madyan. Mengenai arti aikah para mufasir umumnya mengartikannya dengan “hutan,” ada pula yang mengartikan “lembah, wadi.” Al-Mu’jam al-Mufahras li Alfāẓ al-Qur’ānil-Karīm mengartikan kata aikah sebagai pohon belukar. Daerah ini terletak di Madyan, tempat Nabi Syu‘aib diutus. Aṣḥābul Aikah ialah suatu masyarakat Nabi Syu‘aib yang tinggal di daerah yang berpepohonan lebat. Kedua kata ini dalam Al-Qur’an terdapat dalam Surah al-Ḥijr/15: 78, asy-Syu’arā’/26: 176, Ṣād/38: 13 dan Qāf/50: 14. Dalam Surah al-Ḥijr/15: 78 mereka dilukiskan sebagai orang-orang zalim dan durjana. Ayat yang agak terinci mengenai ini terdapat dalam asy-Syu’āra’/26: 176-191.
Dalam ayat-ayat ini disebutkan bahwa para penghuni hutan itu telah mendustakan para nabi mereka, termasuk Nabi Syu‘aib, yang memperkenal-kan diri kepada mereka tanpa mengharapkan imbalan, mengajak bertakwa kepada Allah dan mau menaatinya. Mereka adalah masyarakat pedagang yang suka mengecoh. Syu‘aib mengingatkan mereka agar jangan bertindak merugikan orang lain, mengecoh dalam berdagang, memalsukan dagangan, dan mempermainkan timbangan dan sukatan. Akan tetapi, mereka berbalik menuduh Syu‘aib sudah kena sihir, pendusta, dan tidak berbeda dengan mereka, manusia biasa. Dia ditantang agar membuktikan kenabiannya dengan menjatuhkan kepingan-kepingan dari langit, seperti halnya dengan Nabi Muhammad yang menghadapi tantangan Quraisy (al-Isrā’/17: 92). Para penghuni hutan itu kemudian mengalami bencana yang membinasakan mereka. (Lihat juga kosakata “Syu‘aib” dan “Madyan”).
Aṣḥābul al-Ḥijr اَصْحَابُ الْحِجْرِ (al-Ḥijr/15: 80)
Penduduk Hijr (Aṣḥābul al-Ḥijr) ialah kaum Ṡamud—penerus peradaban kaum ‘Ad. Mereka masih bersaudara sepupu, dan dari satu ras yang sama. Kisah mereka juga bertalian erat dengan tradisi Arab. Tentang Nabi Saleh, menurut beberapa mufasir dan genealogi adalah anak Obeid anak Asif anak Maseh anak Obeid anak Hażir anak Ṡamud, dan Ṡamud anak ‘Abir (saudara Aram), anak Sam, anak Nuh. Nabi Saleh ditolak dan didustakan oleh kaumnya sendiri, kaum Ṡamud. Sekalipun dalam ayat disebutkan dalam bentuk jamak, al-mursalīn (para rasul), para mufasir umumnya mengatakan, bahwa bila salah seorang nabi didustakan, berarti juga mendustakan semua nabi, karena risalah yang mereka bawa semua sama, yaitu tauhid yang berlaku untuk semua bangsa dan zaman. Kaum Ṡamud sudah diberi peringatan dengan tanda-tanda dari Allah, tetapi oleh mereka diabaikan dan ditentang dan ditantang. Mereka sangat sombong, karena merasa sebagai golongan kaya dan pandai. Sosok tubuh dan perawakan mereka tinggi-tinggi, dan mereka terkenal mahir dalam membangun rumah. Mereka memahat gunung-gunung menjadi tempat tinggal, yang menurut anggapan mereka cukup aman. Tetapi tiba-tiba suatu pagi datang ledakan dahsyat merenggut mereka semua, termasuk semua yang mereka kerjakan tak ada artinya lagi.
Itulah kisah kaum Ṡamud, yang lengkapnya terangkum dalam 5 ayat di atas dan dalam al-A‘rāf/7: 73-79. Sebelum itu, Allah telah memberi peringatan kepada kaum pendahulunya:
وَاذْكُرُوْٓا اِذْ جَعَلَكُمْ خُلَفَاۤءَ مِنْۢ بَعْدِ عَادٍ وَّبَوَّاَكُمْ فِى الْاَرْضِ تَتَّخِذُوْنَ مِنْ سُهُوْلِهَا قُصُوْرًا وَّتَنْحِتُوْن َ الْجِبَالَ بُيُوْتًا ۚفَاذْكُرُوْٓا اٰلَاۤءَ اللّٰهِ وَلَا تَعْثَوْا فِى الْاَرْضِ مُفْسِدِيْنَ ٧٤
“Dan ingatlah tatkala Ia menjadikan kamu para khalifah (pengganti) sesudah ‘Ad, dan menempatkan kamu di bumi dan di tanah datar kamu mendirikan istana-istana dan benteng-benteng, dan gunung-gunung kamu pahat menjadi rumah-rumah. Ingatlah akan karunia Allah. Janganlah sekali-kali kamu membuat kerusakan di bumi.” (al-A‘rāf/7: 74)
Ayat ini dapat ditempatkan sebagai pengantar untuk memasuki kisah tentang kehidupan dan peradaban kaum Ṡamud, sesudah kaum `Ad. Kaum Ṡamud sebagai kabilah Arab purba atau al-’Arab al-āribah, keturunan Ya’rub bin Qaiān di Arab bagian selatansebelum Nabi Ibrahimadalah penerus kebudayaan dan peradaban kaum ‘Ad yang sudah punah lebih dulu. Mereka masih punya hubungan keluarga. Keduanya dari ras yang sama. Kaum `Ad merupakan eponim moyang mereka yang bernama ‘Ad bin ‘Adi bin Sam bin Nuh. Sedang Ṡamud nama kabilah dari eponim leluhur mereka yang bernama Ṡamud bin ‘Amir bin Aram bin Sam bin Nuh. Masih ada lagi versi lain yang tidak begitu penting dan sedikit berbeda. Akan tetapi, Al-Qur’an memang tidak pernah merinci silsilah orang yang disebutkan namanya, karena kehadiran mereka disebut hanya sebagai tamsil.
Tempat dan masa mereka terpisah jauh. Kaum ‘Ad di Arab bagian selatan, sedang daerah Ṡamud di utara antara timur Semenanjung Arab dengan Suria (Hijaz-Syam), di sebelah utara Medinah, atau di barat-daya ujung jazirah Arab sampai ke Wadi al-Qura dan sekitarnya yang sangat luas dan subur. Tempat dan kebudayaan daerah ini oleh penulis-penulis Eropa biasa disebut Nabateans, yang dalam sebutan Arab Nabat atau Anbat dan ibu kotanya Batra’ (Petra).
Daerah Hijr yang berarti “daerah berbatu-batu” merupakan sebuah lembah yang terletak di antara Medinah dengan Syam, dan ditandai oleh Jabal Hijr, sekitar 250 km. utara Medinah. Tempat ini cukup dikenal, karena kafilah haji dari Syam melalui daerah ini. Kota tua di barat daya Yordania di Laut Merah ke arah Arab Saudi itu, membujur dari timur ke barat di Wadi Musa. Dikenal juga dengan nama "Petræ" (Petra) dalam bahasa Yunani, yang berarti "batu" atau al-Batra’ dalam bahasa Arab, sebuah kota tua kaum Edom dan Nabat yang puing-puingnya masih ditemukan di barat laut Yordania. Sisa-sisa bangunan dari batu dan prasasti-prasasti yang punya arti penting dalam sejarah masih ada di tempat ini. Dalam perjalanan ekspedisi ke Tabuk melawan kekuatan Romawi yang hendak mengadakan serangan ke Medinah dari Suria pada tahun 9 Hijri, Nabi Muhammad berhasil menye-berangi bekas-bekas situs arkelogi tanah Ṡamud. Dalam peta, daerah yang disebut Hijr ini berada di utara kota Medinah, ke arah tenggara Madian (Madyan), tempat Nabi Syu‘aib, tak jauh dari Teluk ‘Aqabah. Kota ini juga disebut Madā’in Sālihkota-kota Nabi Saleh. Bekas-bekas reruntuhannya masih sering dikunjungi orang termasuk para orientalis.
Mengenai inskripsi-inskripsi Ṡamud di Hijr itu, Abdullah Yusuf Ali menyebutkan bahwa C. M. Doughty mengadakan perjalanan ke barat laut Jazirah Arab dan ke Najd pada tahun 1880-an, seperti dilukiskan dalam Arabia Deserta, bukunya paling terkenal mengenai buku-buku perjalanan ke jazirah Arab. Ia mengadakan perjalanan melalui jalur kafilah haji yang lama (Darb al-Hajj) bersama-sama dengan sebuah iring-iringan jamaah haji dari Damsyik sampai ke Mada’in Saleh. Dalam sejarah agama, ia meninggal-kan tanda-tanda bekas reruntuhan lokasi kaum Ṡamud yang kepada mereka diutus Nabi Saleh dan unta betinanya sebagai mukjizat. Ia melukiskan sangat terinci secara pandangan mata pengalamannya mengenai Mada’in Saleh dan Mabrak an-Nāqah (tempat unta betina Nabi Saleh menderum atau berlutut).
Secara umum hasil studi tersebut barangkali dapat diringkaskan: Patung dan arsitektur yang ditemukan di situ sama dengan yang ada di monumen-monumen Nabatea di Petra. Inskripsi-inskripsi di Petra tak ada yang bertarikh, tetapi di Mada’in Saleh ada beberapa di antaranya. Di Mada’in barangkali terdapat 100 buah ruang batu pahat patung, di antaranya terdapat tulang belulang dan sisa-sisa manusia, yang memperlihatkan bahwa orang-orang Nabatea itu sudah mengenal pembalseman, dan kain linen yang dipakai sama jenisnya dengan yang dipakai di Mesir kuno. Kuburan-kuburan dipersembahkan kepada keluarga-keluarga ternama, dan nama raja-raja Nabatea masing-masing bergelar “yang mencintai rakyatnya”. Ada pilar-pilar besar yang bersisi rata, dan gambar-gambar binatang empat kaki, burung elang dan burung-burung lain. Di samping ruang-ruang patung itu, ada sebuah Ruang Sidang atau Ruang Dewan (Liwan), berukuran 25 x 27 x 13 kaki. Ini barangkali sebuah kuil. Dewa-dewa yang disembah, yang kita kenal nama-namanya dari sumber Nabatea yang lain—Dusares, Martaba, Mana, Keis dan Hubal, Lat, Manat dan Hubal juga dikenal karena kaitannya dengan berhala-berhala kaum musyrik pada zaman jahiliah…
Rentang waktu yang terdapat pada inskripsi-inskripsi itu dari tahun 3 Pra-Masehi sampai 79 Masehi. Dalam kurun waktu yang singkat selama 82 tahun itu dapat dilihat beberapa perkembangan palaeografi Semit. Tulisan-tulisan itu dari tahun ke tahun makin bersambung-sambung. Di sini terlihat adanya suatu titik temu tulisan-tulisan Armenia Lama, Ibrani Persegi, Palmyra (Tadmur), Sinai, Kufi dan Naskh.
Kaum Ṡamud adalah orang-orang prasejarah, dan mereka menempati lokasi-lokasi yang kemudian ditempati oleh orang-orang Nabatea dan yang lain. Tempat bersimpuhnya unta betina Nabi Saleh (Mabrak an-Nāqah) dan “sumur unta” (Bi’ir an-Nāqah), dan sejumlah nama setempat telah mengabadikan kenangan kepada orang-orang jazirah Arab purba dan nabi mereka, Nabi Saleh. Ia diutus kepada kaum Ṡamud penyembah berhala, yang ahli bangunan dan pemuja kemewahan, karena hidup mereka makmur. Kekayaan mereka terdiri dari ternak, kebun-kebun kurma dan pertanian yang subur serta mata air yang melimpah, tetapi mereka sombong dan Nabi Saleh dikatakan hanya mau mencari imbalan (asy-Syu’arā’/26: 141-145), seperti yang juga dikatakan para nabi sebelumnya. Nabi Saleh mengatakan, bahwa sebagai seorang rasul ia mengajak kaumnya untuk taat kepada Allah dan mematuhi hukum yang berlaku. Diingatkannya bahwa mereka tidak akan selamanya dalam kemewahan dan kenikmatan hidup dan jangan terpengaruh oleh mereka yang melakukan kejahatan melampaui batas (asy-Syu’arā’/26: 146-151). Jangan membuat kerusakan di bumi dan mencemarkan segala lambang suci. Tetapi mereka menuduh Nabi Saleh tukang sihir; tak lebih ia hanya manusia biasa, dan mereka meminta bukti tentang kenabiannya. Bahkan, sebagai lambangnya unta betina sengaja mereka bantai. Kemudian mereka pun merasakan azab Tuhan (asy-Syu’arā’/26: 152-159).
Akibat peringatan itu datang juga. Suatu pagi mereka dikejutkan oleh suatu ledakan dahsyat, dan mereka tersungkur mati dalam timbunan rumah-rumah mereka sendiri. Mereka ditelan oleh angin ribut dan gempa bumi (al-A‘rāf/7: 78; al-Ḥijr/15: 81-84)
Kaum Ṡamud telah mewarisi kaum ‘Ad yang sudah punah lebih dulu. Situs Iram yang disebutkan dalam Al-Qur’an (al-Fajr/89:6-7), ibu kota kaum ‘Ad itu, dalam November 1991 telah ditemukan oleh sebuah misi penggalian yang dipimpin oleh Prof. Juris Zurin, arkeolog dari Southwest Missouri State University, Amerika Serikat. Dengan didukung oleh jasa satelit, misi ini berhasil menguak reruntuhan kota itu. Letaknya di daerah Gofar, bagian selatan kerajaan Oman. Misi Zurin itu menyebut kota Iram ini sebagai Ubar. Sesudah tiga bulan mengadakan penggalian, Februari tahun berikutnya usaha ini berhasil menemukan tembok dari batu bersusun berbentuk segi delapan yang diyakini sebagai menara kastil.
Ibu kota purbakala kaum ‘Ad di Arab bagian selatan, dengan kaum ‘Ad yang pernah menguasai peradaban yang tinggi, kemudian mati setelah mereka tetap menentang hukum Tuhan. Kota ini dibanggakan karena bangunan-bangunannya yang menjulang tinggi. “Pada zamannya dulu, Ubar (Iram) memang dikenal sebagai kota yang memiliki menara-menara tinggi,” kata Prof. Zurin.
Di kota Iram itu terdapat pilar-pilar yang tinggi (al-Fajr/89: 7). Ada juga yang menafsirkan "dengan sosok tubuh yang tinggi," karena kaum ‘Ad memang ras yang bersosok tinggi.
Dalam insipkripsi Sarjon yang bertarikh tahun 715 P.M (Pra-Masehi), daerah kabilah Ṡamud ini terletak di sebelah timur Semenanjung Arab. Nama Ṡamud terdapat juga dalam tulisan-tulisan Aristoteles, Ptolemaeus dan yang lain dengan sebutan Thamudenes atau Thamudaei, menurut ejaan Inggris. Ada beberapa nama kota mereka disebutkan seperti Domantha dan Hegra. Barangkali nama kedua tempat ini dalam sebutan Arab masing-masing Dumat al-Jandal dan Hijr.















































