Geligi Animasi
Geligi Semua Satu Platform
Ayat 136 - Surat Āli ‘Imrān (Keluarga Imran)
اٰل عمرٰن
Ayat 136 / 200 •  Surat 3 / 114 •  Halaman 67 •  Quarter Hizb 7.5 •  Juz 4 •  Manzil 1 • Madaniyah

اُولٰۤىِٕكَ جَزَاۤؤُهُمْ مَّغْفِرَةٌ مِّنْ رَّبِّهِمْ وَجَنّٰتٌ تَجْرِيْ مِنْ تَحْتِهَا الْاَنْهٰرُ خٰلِدِيْنَ فِيْهَا ۗ وَنِعْمَ اَجْرُ الْعٰمِلِيْنَۗ

Ulā'ika jazā'uhum magfiratum mir rabbihim wa jannātun tajrī min taḥtihal-anhāru khālidīna fīhā, wa ni‘ma ajrul-‘āmilīn(a).

Mereka itu balasannya adalah ampunan dari Tuhan mereka dan surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Mereka kekal di dalamnya. (Itulah) sebaik-baik pahala bagi orang-orang yang mengerjakan (amal-amal saleh).

Makna Surat Ali ‘Imran Ayat 136
Isi Kandungan oleh Tafsir Wajiz

Balasan bagi mereka ialah ampunan dari Tuhan mereka dan surga-surga dengan penuh kenikmatan, keindahan dan kedamaian. Salah satu gambaran keindahan surga ialah di bawahnya mengalir sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Dan itulah sebaik-baik pahala bagi orang-orang yang beramal saleh.

Isi Kandungan oleh Tafsir Tahlili

Demikianlah lima sifat di antara sifat-sifat orang yang bertakwa kepada Allah yang harus dimiliki oleh setiap Muslim. Setiap Muslim hendaknya berusaha agar terwujud di dalam dirinya kelima sifat itu dengan sempurna karena dengan memiliki sifat-sifat itu dia akan menjadi Muslim yang dapat memberi manfaat kepada dirinya sendiri dan dapat pula memberi manfaat kepada orang lain dan kepada masyarakat, nusa dan bangsanya.

Orang yang memiliki sifat-sifat itu akan dibalas Allah dengan mengampuni dosanya dan menempatkannya di akhirat kelak di dalam surga. Mereka kekal di dalamnya dan memang itulah ganjaran yang sebaik-baiknya bagi setiap orang yang beramal baik dan berusaha untuk memperbaiki dirinya, masyarakat dan umatnya.

Isi Kandungan Kosakata

Kāẓimīn كَاظِمِيْنَ (Āli ‘Imrān/3:134)

Kāẓim berasal dari kata kaẓm yang berarti “menahan sesuatu agar tidak lepas”. Kaẓamal-ba‘īra berarti “menahan unta agar tidak lari”. Kaẓm al-gaiẓ berarti “menahan amarah dan tidak melampiaskannya”. Kata kaẓim tanpa menyebut gaiẓ menunjukkan dua makna, yaitu menahan marah sebagaimana di dalam firman Allah, “Dan kedua matanya menjadi putih karena kesedihan dan dia adalah seorang yang menahan amarahnya (terhadap anak-anaknya)” (Yūsuf/12:84) dan menunjuk arti menahan kesedihan sebagaimana di dalam firman Allah, “…Jadilah mukanya hitam pekat sedang dia amat menahan sedih” (az-Zukhruf/43:17). Kata al-kaẓimīn pada ayat di atas dalam bentuk isim fa’il yang mempunyai arti bahwa menahan amarah tersebut sudah menjadi sifat yang menetap pada diri mereka. Tetapi, adakalanya kata kaẓim berarti sama dengan makẓum, yaitu kesal dan marah, menahan marah termasuk perbuatan ihsan yang disukai Allah.

Penelusuran

  • Pos
  • Akun
  • Baru
  • Film
  • Musik
  • Berita
  • KBBI
  • Kripto