اِنَّمَا ذٰلِكُمُ الشَّيْطٰنُ يُخَوِّفُ اَوْلِيَاۤءَهٗۖ فَلَا تَخَافُوْهُمْ وَخَافُوْنِ اِنْ كُنْتُمْ مُّؤْمِنِيْنَ
Innamā żālikumusy-syaiṭānu yukhawwifu auliyā'ah(ū), falā takhāfūhum wa khāfūni in kuntum mu'minīn(a).
Sesungguhnya mereka hanyalah setan yang menakut-nakuti (kamu) dengan teman-teman setianya.136) Oleh karena itu, janganlah takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku, jika kamu orang-orang mukmin.
Ketahuilah, wahai kaum mukmin, sesungguhnya mereka hanyalah setan yang berusaha untuk menakut-nakuti kamu dengan teman-teman setianya menebarkan rasa takut dalam hati orang-orang beriman, karena itu janganlah kalian takut kepada mereka dan terpengaruh oleh ucapan mereka, tetapi takutlah kepada-Ku Yang Mahakuasa lagi Mahaperkasa, yang memiliki kekuatan tak terkalahkan, jika kamu orang-orang beriman dan yakin akan pertolongan-Ku.
Musuh-musuh yang munafik yang berusaha menakut-nakuti orang-orang mukmin merupakan setan yang mengajak teman-temannya agar jangan ikut berperang dan menakut-nakuti Muslimin dengan menyatakan bahwa jumlah musuh amat banyak dan mempunyai senjata lengkap. Allah memperingatkan agar para mujahidin itu jangan terpengaruh dan jangan ikut mereka, tetapi takutlah kepada Allah dan bersiaplah untuk berperang bersama Rasulullah saw jika kamu sekalian benar-benar beriman.
Yastabsyirūn يَسْتَبْشِرُوْ نَ (Āli ‘Imrān/3: 170)
Kata yastabsyirūn berasal dari kata kerja basyara-yabsyiru atau basyira-yabsyaru, yang artinya “senang” atau “menjadi gembira”. Dengan demikian yastabsyirūn maknanya adalah “mereka bergembira”. Pada mulanya akar kata dari kalimat ini (b-sy-r/ ب- ش- ر) yang artinya “munculnya sesuatu dengan baik dan mudah”. Kata yang berasal dari akar kata yang sama adalah al-basyrah artinya “kulit manusia”, sedangkan manusia disebut al-basyar. Al-bisyra artinya gembira atau bahagia, karena kegembiraan ini memancar pada kulit dan bersinar di wajah orang yang gembira sehingga kegembiraan disebut al-bisyarah, karena membuat wajah orang yang mendapat berita gembira, cerah berseri-seri dan menarik. Lawan bisyarah adalah niẓarah yaitu “kabar buruk” atau “peringatan” (Ibnu Faris). Dalam kaitan dengan ayat ini, yastabsyirūn menunjukkan pada perasaan yang ada pada para syuhada (pahlawan) yang telah gugur itu, yaitu kegembiraan yang berkaitan dengan teman-teman sejawat mereka yang akan menyusul. Artinya mereka mengetahui bahwa teman-teman mereka kelak akan pula menyusul menjadi pahlawan. Pada sisi lain, penjelasan ini menunjukkan bahwa mereka mempunyai pengetahuan tentang keadaan teman-teman tersebut, sekaligus membuktikan bahwasanya ada kehidupan di alam barzakh yang merupakan persinggahan sementara, sambil menunggu kedatangan hari akhir, yang merupakan awal dari kehidupan akhirat. Kata ini kemudian terulang pada ayat berikutnya, dan ini menunjukkan adanya kegembiraan yang mereka nikmati. Selain itu, pengulangan ini juga merupakan isyarat bahwa kegembiraan itu mencakup diri mereka, teman-teman sejawat, dan siapa pun yang mukmin, walau selain mereka dan teman sejawat mereka.






































