اِنَّهُمْ لَنْ يُّغْنُوْا عَنْكَ مِنَ اللّٰهِ شَيْـًٔا ۗوَاِنَّ الظّٰلِمِيْنَ بَعْضُهُمْ اَوْلِيَاۤءُ بَعْضٍۚ وَاللّٰهُ وَلِيُّ الْمُتَّقِيْنَ
Innahum lay yugnū ‘anka minallāhi syai'ā(n), wa innaẓ-ẓālimīna ba‘ḍuhum auliyā'u ba‘ḍ(in), wallāhu waliyyul-muttaqīn(a).
Sesungguhnya mereka sekali-kali tidak akan dapat menghindarkan engkau sedikit pun dari (azab) Allah. Sesungguhnya orang-orang zalim itu sebagian mereka menjadi pelindung bagi sebagian yang lain. Adapun Allah adalah pelindung orang-orang bertakwa.
Sungguh, mereka yang kafir dan tidak mengikuti kebenaran itu tidak akan dapat menghindarkan engkau, wahai Nabi Muhammad, sedikit pun dari azab Allah. Dan sungguh, orang-orang yang zalim itu sebagian mereka menjadi pelindung atas sebagian yang lain dalam melakukan perbuatan dosa, sedangkan Allah pelindung bagi orang-orang yang bertakwa.
Pada ayat ini Allah menjelaskan bahwa orang-orang musyrik tidak mengetahui syariat Allah dan tidak mengakui keesaan-Nya. Karenanya mereka tidak akan dapat menolak atau menghindari azab Allah yang ditimpakan kepada mereka di akhirat.
Kemudian diterangkan bahwa orang-orang musyrik itu saling menolong antara yang satu dengan yang lain dalam melakukan kemungkaran dan kemaksiatan. Ditegaskan bahwa tipu muslihat mereka dijalankan dengan bersekongkol untuk merintangi dan merusak agama Islam dan memecah belah kaum Muslimin. Hal seperti ini dapat mereka lakukan selama hidup di dunia saja, sedangkan di akhirat nanti hal itu tidak dapat mereka lakukan. Pada hari itu, seseorang tidak dapat menolong orang lain dan tidak dapat menanggung dosa orang lain; tiap-tiap orang bertanggung jawab terhadap perbuatannya sendiri-sendiri.
Pada akhir ayat, Allah menegaskan bahwa Dia pelindung orang yang bertakwa. Takwa yang mereka lakukan untuk mencari keridaan Allah itu dibalas oleh-Nya dengan pahala yang berlipat ganda di akhirat.
1. Syarī‘atun شَرِيْعَةٌ (al-Jāṡiyah/45: 18)
Kata syir‘ah atau syarī‘ah mempunyai arti sesuatu yang dijelaskan oleh Allah. Ungkapan syara‘as-sunnah artinya Nabi Muhammad menjelaskan sunnahnya. Ungkapan syara‘a juga berarti dekat, jelas dan muncul. Kata syurra‘an pada ayat 163 Surah al-A‘rāf berarti ikan-ikan bermunculan pada hari Sabat. Pada mulanya kedua kata ini (syir‘ah dan syari‘ah) berarti tempat untuk menuju sumber air yang tidak pernah berhenti dan orang yang datang ketempat tersebut tidak perlu alat. Ungkapan syara‘a-yasyra‘u artinya meminum air langsung dengan mulutnya. Dari pengertian tersebut maka ungkapan syari‘ah berarti seperangkat aturan dalam agama. Dinamakan demikian karena dari situlah manusia akan menuju kepada rahmat dari Allah, sumber kebaikan yang tidak pernah habis.
2. Ijtaraḥū اجْتَرَحُوْا (al-Jāṡiyah/45: 21)
Ijtaraḥū terambil dari kata (jīm-rā'-ḥā') artinya berkisar pada dua hal yaitu: al-kasb (berusaha) dan syaqqul jild atau merobek kulit (melukai). Hewan pemburu seperti anjing disebut al-jawāriḥ karena melukai binatang buruannya. Ungkapan ijtaraḥus-sayyi'āti lebih tepat menggunakan arti pertama yaitu melakukan perbuatan jelek, karena dia melakukannya dengan “jariḥah” yaitu anggota badan yang biasa melakukan sesuatu. Sedangkan kata “as-Sayyi'āti” adalah bentuk jamak dari “sayyi'ah” yaitu kejelekan yang akan menjelekkan orang yang melakukannya. Akar katanya as-sū′. Kemaluan seseorang disebut juga as-sau′ah. Semua dosa baik kecil maupun besar dinamakan as-sū′. Yang dimaksud dengan as-sayyi'āti pada ayat ini adalah perbuatan syirik atau kufur terhadap Allah.







































