مّٰكِثِيْنَ فِيْهِ اَبَدًاۙ
Mākiṡīna fīhi abadā(n).
Mereka kekal di dalamnya untuk selama-lamanya.
Mereka kekal di dalamnya, yakni di dalam surga, untuk selama-lamanya.
Pahala yang besar itu tidak lain adalah surga yang mereka tempati untuk selama-lamanya, mereka tidak akan pindah atau dipindahkan dari surga itu, sesuai dengan janji Allah swt kepada mereka.
Firman Allah swt:
وَتِلْكَ الْجَنَّةُ الَّتِيْٓ اُوْرِثْتُمُوْ هَا بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُوْنَ ٧٢
Dan itulah surga yang diwariskan kepada kamu disebabkan amal perbuatan yang telah kamu kerjakan. (az-Zukhruf/43: 72)
Bākhi’ Nafsaka بَاخِعٌ نَفْسَكَ (al-Kahf/18: 6)
Bākhi’ nafsaka artinya orang yang menyiksa atau menyengsarakan diri. Ayat 6 Surah al-Kahf ini dimulai dengan la’alla (ﻟﻌﻞ) yaitu:أداة التمني suatu kata yang biasa digunakan pada kalimat bentuk impian atau harapan. Tetapi la’alla dalam ayat ini dimaksudkan sebagai kata tanya yang bersifat inkari yang mengandung pengertian an-nahyu atau larangan. Maka ﻓﻠﻌﻠﻚ ﺑﺎخع ﻧﻔﺴﻚ artinya secara bebas ialah: Maka apakah kamu –mudah-mudahan tidak- akan menyiksa atau mencelakakan dirimu? Nabi memang sangat bersedih dan kecewa berat melihat orang-orang Quraisy tidak mau menerima ajaran dan dakwahnya, padahal keadaan mereka sudah sangat rusak, suka membunuh, berzina, minum minuman keras, bertindak kasar dan jahat, sama sekali tidak pernah menyayangi orang lemah, suka melakukan wa’dul banāt yaitu mengubur hidup-hidup anak mereka yang lahir perempuan, dan begitulah adat Jahiliah. Akan tetapi, mengapa mereka menolak petunjuk agama yang baik untuk beriman dan beramal saleh. Dalam hal ini, Allah kembali mengingatkan Nabi, bahwa tugas nabi dan rasul hanyalah menyampaikan dakwah, bukan memberi hidayah kepada mereka. Apabila Nabi sudah menyampaikan dakwahnya dan menjelaskannya dengan baik, maka tugasnya sudah selesai.
















































