قَالَ رَبِّ اِنِّيْ لَآ اَمْلِكُ اِلَّا نَفْسِيْ وَاَخِيْ فَافْرُقْ بَيْنَنَا وَبَيْنَ الْقَوْمِ الْفٰسِقِيْنَ
Qāla rabbi innī lā amliku illā nafsī wa akhī fafruq bainanā wa bainal-qaumil-fāsiqīn(a).
Dia (Musa) berkata, “Ya Tuhanku, aku tidak mempunyai kekuasaan apa pun, kecuali atas diriku sendiri dan saudaraku. Oleh sebab itu, pisahkanlah antara kami dan kaum yang fasik itu.”
Mendengar penolakan dari kaumnya, dia, Musa, mengadu kepada Allah dan berkata, “Ya Tuhanku, aku hanya dapat menguasai diriku sendiri dan saudaraku, Harun, dan aku tidak mampu mengajak kaumku untuk menaati perintah-Mu. Oleh karena itu, hendaknya Engkau pisahkan antara kami yang selalu taat pada-Mu dengan orang-orang yang fasik yang tidak mau mendengarkan ketetapan-Mu itu.”
Setelah ajakan Nabi Musa tidak ditaati oleh kaumnya, bahkan mereka menolaknya, maka Nabi Musa menyatakan keluhannya kepada Allah bahwa ia tidak dapat menguasai kaumnya. Karenanya Musa a.s. mohon kepada Allah agar Musa dan suadaranya di satu pihak dan kaumnya di pihak yang lain dipisahkan dan mohon kepada Allah agar memberikan keputusan yang adil. Maka apabila kaumnya yang fasik itu akan disiksa, hendaklah Nabi Musa dan saudara-saudaranya diselamatkan dari siksaan itu.
Al-Jabbār اَلْجَبَّارْ (al-Mā’idah/5: 22)
Al-jabbār terambil dari kata al-jabr artinya “yang kuat”, “yang suka memaksa”, karena orang yang kuat selalu memaksa orang lain untuk melakukan apa yang diinginkannya. Sedangkan al-jabbār adalah “orang-orang yang bersifat suka memaksa, baik karena ketinggian kedudukannya atau kesombongannya”. Kata ini hanya digunakan untuk mencela para penguasa yang zalim karena mereka menolak kebenaran dan tidak percaya pada kebenaran itu. Dalam ayat ini, Musa menghimbau Bani Israil untuk memerangi orang-orang Kan’an dengan lebih dahulu mengingatkan mereka bahwa semua kenikmatan yang diberikan oleh Allah adalah untuk menyiapkan mental menerima perintah tersebut, demi mencapai kemenangan yang dijanjikan Allah, jika mereka benar-benar berperang dengan tulus ikhlas dan tidak lari dari peperangan. Orang-orang Israil menolak perintah Musa dengan alasan takut kepada orang-orang jabbārīn dari suku Kanaan. Mereka baru mau masuk ke daerah tersebut jika orang-orang jabbārīn, penguasa zalim itu, telah pergi. Ini menunjukkan pembangkangan Bani Israil terhadap perintah Allah dan Nabi Musa.













































