Geligi Animasi
Geligi Semua Satu Platform
Ayat 26 - Surat Al-Mā'idah (Hidangan)
الماۤئدة
Ayat 26 / 120 •  Surat 5 / 114 •  Halaman 112 •  Quarter Hizb 11.75 •  Juz 6 •  Manzil 2 • Madaniyah

قَالَ فَاِنَّهَا مُحَرَّمَةٌ عَلَيْهِمْ اَرْبَعِيْنَ سَنَةً ۚيَتِيْهُوْنَ فِى الْاَرْضِۗ فَلَا تَأْسَ عَلَى الْقَوْمِ الْفٰسِقِيْنَ ࣖ

Qāla fa innahā muḥarramatun ‘alaihim arba‘īna sanah(tan), yatīhūna fil-arḍ(i), falā ta'sa ‘alal qaumil-fāsiqīn(a).

(Allah) berfirman, “(Jika demikian,) sesungguhnya (negeri) itu terlarang buat mereka selama empat puluh tahun. (Selama itu) mereka akan mengembara kebingungan di bumi. Maka, janganlah engkau (Musa) bersedih atas (nasib) kaum yang fasik itu.”

Makna Surat Al-Ma'idah Ayat 26
Isi Kandungan oleh Tafsir Wajiz

Setelah menerima pengaduan Nabi Musa, Allah berfirman, “Jika memang demikian sikap mereka, maka negeri atau daerah Kana’an, yang sekarang dikenal dengan daerah Gurun Sinai sampai tepi Sungai Yordan, itu terlarang buat mereka, dan mereka tidak akan memasukinya selama empat puluh tahun. Selanjutnya, selama kurun waktu yang panjang itu, sebagai hukumannya mereka akan mengembara kebingungan, karena tidak memiliki tempat yang tetap di bumi sekitar Kana’an. Maka janganlah engkau, hai Musa, bersedih hati karena memikirkan nasib orang-orang yang fasik itu.”

Isi Kandungan oleh Tafsir Tahlili

Doa Nabi Musa itu dikabulkan oleh Allah dan Allah menyatakan bahwa sesungguhnya tanah suci itu diharamkan bagi mereka selama empat puluh tahun. Karena kedurhakaan itu, mereka tidak dapat memasuki tanah suci dan tidak dapat mendiaminya selama empat puluh tahun. Selama masa itu mereka selalu berada dalam keadaan kebingungan, tidak mengetahui arah dan tujuan. Sesudah itu Allah menganjurkan kepada Nabi Musa agar tidak merasa sedih atas musibah/siksa yang menimpa kaumnya yang fasik itu, karena bagi mereka akan merupakan pelajaran dan pengalaman.

Menurut pendapat kebanyakan ahli tafsir, bahwa Nabi Musa dan Nabi Harun berada di padang gurun bersama-sama kaum Bani lsrail, tetapi padang itu bagi Nabi Musa dan Nabi Harun merupakan tempat istirahat dan menambah ketinggian derajat mereka. Sedangkan bagi kaum Yahudi yang ingkar itu merupakan siksaan yang sangat berat. Setelah selesai peristiwa di padang pasir Paran yang tandus Nabi Musa dan Nabi Harun wafat. Kemurnian fitrah orang-orang Bani Israil itu telah dirusak oleh kesesatan, perbudakan, penindasan dan paksaan raja-raja Mesir, hingga mereka sesat, pengecut, dan penakut. Hal itu telah mendarah daging pada diri mereka. Karenanya pada waktu Musa a.s. membawa mereka ke arah kebenaran, keberanian dan kebahagiaan, mereka tetap bersifat pengecut.

Isi Kandungan Kosakata

Al-Jabbār اَلْجَبَّارْ (al-Mā’idah/5: 22)

Al-jabbār terambil dari kata al-jabr artinya “yang kuat”, “yang suka memaksa”, karena orang yang kuat selalu memaksa orang lain untuk melakukan apa yang diinginkannya. Sedangkan al-jabbār adalah “orang-orang yang bersifat suka memaksa, baik karena ketinggian kedudukannya atau kesombongannya”. Kata ini hanya digunakan untuk mencela para penguasa yang zalim karena mereka menolak kebenaran dan tidak percaya pada kebenaran itu. Dalam ayat ini, Musa menghimbau Bani Israil untuk memerangi orang-orang Kan’an dengan lebih dahulu mengingatkan mereka bahwa semua kenikmatan yang diberikan oleh Allah adalah untuk menyiapkan mental menerima perintah tersebut, demi mencapai kemenangan yang dijanjikan Allah, jika mereka benar-benar berperang dengan tulus ikhlas dan tidak lari dari peperangan. Orang-orang Israil menolak perintah Musa dengan alasan takut kepada orang-orang jabbārīn dari suku Kanaan. Mereka baru mau masuk ke daerah tersebut jika orang-orang jabbārīn, penguasa zalim itu, telah pergi. Ini menunjukkan pembangkangan Bani Israil terhadap perintah Allah dan Nabi Musa.

Penelusuran

  • Pos
  • Akun
  • Baru
  • Film
  • Musik
  • Berita
  • KBBI
  • Kripto