Geligi Animasi
Geligi Semua Satu Platform
Ayat 6 - Surat Al-Mumtaḥanah (Wanita Yang Diuji)
الممتحنة
Ayat 6 / 13 •  Surat 60 / 114 •  Halaman 550 •  Quarter Hizb 55.5 •  Juz 28 •  Manzil 7 • Madaniyah

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِيْهِمْ اُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَنْ كَانَ يَرْجُوا اللّٰهَ وَالْيَوْمَ الْاٰخِرَۗ وَمَنْ يَّتَوَلَّ فَاِنَّ اللّٰهَ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيْدُ ࣖ

Laqad kāna lakum fīhim uswatun ḥasanatul liman kāna yarjullāha wal-yaumal-ākhir(a), wa may yatawalla fa'innallāha huwal-ganiyyul-ḥamīd(u).

Sungguh pada mereka itu (Ibrahim dan umatnya) benar-benar terdapat suri teladan yang baik bagimu, (yaitu) bagi orang yang mengharap (pahala) Allah dan (keselamatan pada) hari Kemudian. Siapa yang berpaling, sesungguhnya Allah, Dialah Yang Maha Kaya lagi Maha Terpuji.

Makna Surat Al-Mumtahanah Ayat 6
Isi Kandungan oleh Tafsir Wajiz

Dari kisah Nabi Ibrahim itu, Allah menyatakan bahwa sungguh pada mereka itu, Ibrahim dan umatnya yang beriman, terdapat suri teladan yang baik bagi kamu, berkenaan dengan sikap beragama, ketegasan, dan kekhusyukan dalam berdoa bagi orang-orang yang berharap kepada Allah, karena Allah tempat memohon dan bergantung seluruh makhluk, dan berharap mendapat keselamatan pada hari akhir, karena kebahagiaan sejati bukan di dunia, tetapi di akhirat ketika selamat dari azab Allah. Dan barang siapa berpaling dari Allah dengan menjauh dan menyimpang dari ajaran-Nya, maka sesungguhnya Allah, Dialah Yang Mahakaya, tidak bertambah keagungan-Nya dengan ketaatan hamba dan tidak berkurang keagungan-Nya dengan kekufuran seluruh makhluk, Maha Terpuji, sifat dan perbuatan-Nya.

Isi Kandungan oleh Tafsir Tahlili

Ayat ini mengulang perintah untuk menjadikan Nabi Ibrahim dan orang-orang yang beriman besertanya sebagai teladan yang baik dengan maksud agar perintah itu diperhatikan oleh orang-orang yang beriman. Hal ini terutama ditujukan bagi orang yang yakin akan bertemu dengan Allah di akhirat, dan mengharapkan pahala serta balasan surga sebagai tempat yang nikmat.

Orang yang tidak mengikuti perintah Allah, dan tidak mengambil teladan dari orang-orang yang saleh, maka hendaklah mereka ketahui bahwa Allah sedikit pun tidak memerlukannya. Allah Maha Terpuji di langit dan di bumi, dan Dia tidak memerlukan bantuan makhluk-Nya dalam melaksanakan kehendak-Nya. Allah berfirman:

وَقَالَ مُوْسٰٓى اِنْ تَكْفُرُوْٓا اَنْتُمْ وَمَنْ فِى الْاَرْضِ جَمِيْعًا ۙفَاِنَّ اللّٰهَ لَغَنِيٌّ حَمِيْدٌ ٨

Dan Musa berkata, “Jika kamu dan orang yang ada di bumi semuanya mengingkari (nikmat Allah), maka sesungguhnya Allah Mahakaya, Maha Terpuji. (Ibrāhīm/14: 8)

Isi Kandungan Kosakata

Al-Bagḍ’ الْبَغْضَاءُ (al-Mumtaḥanah/60: 4)

Al-Bagḍā' berasal dari kata al-bugḍ (bagaḍa-yabgaḍu) yang berarti menjauhnya jiwa dari sesuatu yang tidak disenangi atau membencinya. Dari kata ini juga lahir makna efek tidak senang yaitu rasa marah. Kata ini antonim dari kata al-ḥubb yang berarti menyukai sesuatu. At-Tabāguḍ artinya saling membenci. Lafal al-bagḍā’ terulang dalam Al-Qur’an sebanyak 5 kali, empat kali disandingkan dengan lafal al-‘adāwah (permusuhan), dan sekali disebut menyendiri (Āli ‘Imrān/3: 118). Kebencian dan permusuhan memang dua hal yang tidak bisa dipisahkan.

Dalam konteks ayat ini, Allah menjelaskan tentang sikap Nabi Ibrahim dan orang-orang yang beriman bersamanya yang patut untuk dijadikan uswah (teladan). Suri teladan itu adalah ketegasan Nabi Ibrahim terhadap kaumnya yang enggan beriman dengan mengatakan, “Sesungguhnya kami tanpa keraguan sedikit pun menyatakan berlepas diri dari apa yang kamu sembah selain Allah karena itulah yang menjadi sebab berpisahnya kami dengan kamu.” Kalau dahulu perselisihan dan perbedaan masih terpendam dalam hati masing-masing, maka kini hal tersebut demikian kuat dan nyata akibat penolakan mereka menyembah Allah. Permusuhan dan kebencian ini akan tetap terpatri dalam hati sampai kaum kafir beriman dan menyembah Allah semata.

Penelusuran

  • Pos
  • Akun
  • Baru
  • Film
  • Musik
  • Berita
  • KBBI
  • Kripto