رَبَّنَا لَا تَجْعَلْنَا فِتْنَةً لِّلَّذِيْنَ كَفَرُوْا وَاغْفِرْ لَنَا رَبَّنَاۚ اِنَّكَ اَنْتَ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُ
Rabbanā lā taj‘alnā fitnatal lil-lażīna kafarū wagfir lanā rabbanā, innaka antal-‘azīzul-ḥakīm(u).
Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan kami (sasaran) fitnah bagi orang-orang kafir. Ampunilah kami, ya Tuhan kami. Sesungguhnya Engkau Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”
“Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan kami, orang-orang beriman, menjadi sasaran fitnah bagi orang-orang kafir, karena keluguan kami. Dan ampunilah kami, seluruh dosa dan kekhilafan kami agar jiwa kami bersih, aib kami tertutup, dan hidup kami bahagia. Ya Tuhan kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Mahaperkasa, menyadarkan dan mengubah jalan hidup orang-orang berdosa; Maha bijaksana, menghadapi perilaku hamba yang lalai.
Sebelum Nabi Ibrahim berpisah dengan kaumnya yang tidak mau menerima seruannya, ia berdoa kepada Allah dengan hati yang tunduk dan berserah diri kepada-Nya. Dalam doanya ia berkata, “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan kami (sasaran) fitnah bagi orang-orang kafir.”
Dengan perkataan lain, arti ayat ini ialah Nabi Ibrahim memohon agar Allah tidak memenangkan orang kafir atas orang beriman. Hal itu akan memberi kesempatan kepada orang kafir untuk memfitnah orang beriman. Kemenangan itu juga bisa menimbulkan keyakinan pada orang kafir bahwa mereka berada di jalan yang benar sedangkan orang beriman berada di jalan yang salah.
Di akhir ayat, Nabi Ibrahim berdoa, “Wahai Tuhan kami, ampunilah dan maafkanlah dosa kami sehingga perbuatan dosa itu seakan-akan tidak pernah kami kerjakan. Engkaulah tempat kami berlindung. Tuntutan-Mu sangat keras. Engkau melakukan dan menciptakan segala sesuatu sesuai dengan sifat, guna, dan faedahnya.”
Al-Bagḍ’ الْبَغْضَاءُ (al-Mumtaḥanah/60: 4)
Al-Bagḍā' berasal dari kata al-bugḍ (bagaḍa-yabgaḍu) yang berarti menjauhnya jiwa dari sesuatu yang tidak disenangi atau membencinya. Dari kata ini juga lahir makna efek tidak senang yaitu rasa marah. Kata ini antonim dari kata al-ḥubb yang berarti menyukai sesuatu. At-Tabāguḍ artinya saling membenci. Lafal al-bagḍā’ terulang dalam Al-Qur’an sebanyak 5 kali, empat kali disandingkan dengan lafal al-‘adāwah (permusuhan), dan sekali disebut menyendiri (Āli ‘Imrān/3: 118). Kebencian dan permusuhan memang dua hal yang tidak bisa dipisahkan.
Dalam konteks ayat ini, Allah menjelaskan tentang sikap Nabi Ibrahim dan orang-orang yang beriman bersamanya yang patut untuk dijadikan uswah (teladan). Suri teladan itu adalah ketegasan Nabi Ibrahim terhadap kaumnya yang enggan beriman dengan mengatakan, “Sesungguhnya kami tanpa keraguan sedikit pun menyatakan berlepas diri dari apa yang kamu sembah selain Allah karena itulah yang menjadi sebab berpisahnya kami dengan kamu.” Kalau dahulu perselisihan dan perbedaan masih terpendam dalam hati masing-masing, maka kini hal tersebut demikian kuat dan nyata akibat penolakan mereka menyembah Allah. Permusuhan dan kebencian ini akan tetap terpatri dalam hati sampai kaum kafir beriman dan menyembah Allah semata.













































