وَلَنْ يُّؤَخِّرَ اللّٰهُ نَفْسًا اِذَا جَاۤءَ اَجَلُهَاۗ وَاللّٰهُ خَبِيْرٌۢ بِمَا تَعْمَلُوْنَ ࣖ
Wa lay yu'akhkhirallāhu nafsan iżā jā'a ajaluhā, wallāhu khabīrum bimā ta‘malūn(a).
Allah tidak akan menunda (kematian) seseorang apabila waktu kematiannya telah datang. Allah Maha Teliti terhadap apa yang kamu kerjakan.
Dan Allah tidak akan menunda kematian seseorang apabila waktu kematiannya telah datang dengan memperpanjang hidupnya. Dan Allah Mahateliti dengan cermat tentang apa yang kamu kerjakan.
Ayat ini menegaskan bahwa Allah tidak akan menunda kematian seseorang apabila telah sampai ajalnya. Oleh karena itu, bersiap-siaplah untuk menghadapi maut itu. Kumpulkanlah sebanyak-banyaknya bekal berupa amal saleh yang akan dibawa dan yang bermanfaat di akhirat nanti.
Firman Allah:
فَاَمَّا مَنْ ثَقُلَتْ مَوَازِينُهٗۙ ٦ فَهُوَ فِيْ عِيْشَةٍ رَّاضِيَةٍۗ ٧ وَاَمَّا مَنْ خَفَّتْ مَوَازِيْنُهٗۙ ٨ فَاُمُّهٗ هَاوِيَةٌ ۗ ٩ وَمَآ اَدْرٰىكَ مَا هِيَهْۗ ١٠ نَارٌ حَامِيَةٌ ࣖ ١١
Maka adapun orang yang berat timbangan (kebaikan)nya, maka dia berada dalam kehidupan yang memuaskan (senang). Dan adapun orang yang ringan timbangan (kebaikan)nya, maka tempat kembalinya adalah neraka Hawiyah. Dan tahukah kamu apakah neraka Hawiyah itu? (Yaitu) api yang sangat panas. (al-Qāri‘ah/101: 6-11)
Ayat yang kesebelas ini ditutup dengan penegasan bahwa Allah itu Maha Mengetahui apa yang diperbuat hamba-Nya. Semua itu akan dibalas di hari kemudian, sesuai dengan amal perbuatannya. Kalau baik dimasukkan ke dalam surga, dan kalau jahat akan dimasukkan ke dalam neraka.
Lā Tulhikum لَا تُلْهِكُمْ (al-Munāfiqūn/63: 9)
Lafal lā tulhikum terdiri dari dua kata, yaitu lā dan tulhikum. Yang pertama, lā, merupakan kata yang menunjukkan ingkar atau untuk menyatakan tidak. Sedang yang kedua, tulhikum, artinya melengahkan kamu sekalian. Kata kerja ini disebutkan lebih dulu dengan tujuan untuk menekankan keharusan meninggalkan kelengahan dalam segala bentuknya, yang secara khusus disebut bahwa yang harus dihindari adalah harta dan anak. Didahulukannya penyebutan harta karena inilah yang paling besar peranannya dalam kelengahan seseorang dari zikir kepada Allah. Kelengahan itu dimulai dengan kesibukan dalam memikirkan bagaimana memperolehnya, kesibukan untuk memperolehnya, kemudian kebanggaan karena telah memperolehnya, dan diakhiri dengan kesibukan dalam menikmatinya. Anak-anak juga berpotensi untuk kelengahan seseorang dari zikir kepada Allah, bila kecintaan kepada mereka melebihi batas kewajaran. Bahkan bercengkerama dengan mereka secara berlebihan juga dapat melengahkan dari zikir kepada-Nya.














































