Geligi Animasi
Geligi Semua Satu Platform
Ayat 3 - Surat Al-Munāfiqūn (Orang-Orang Munafik)
المنٰفقون
Ayat 3 / 11 •  Surat 63 / 114 •  Halaman 554 •  Quarter Hizb 56 •  Juz 28 •  Manzil 7 • Madaniyah

ذٰلِكَ بِاَنَّهُمْ اٰمَنُوْا ثُمَّ كَفَرُوْا فَطُبِعَ عَلٰى قُلُوْبِهِمْ فَهُمْ لَا يَفْقَهُوْنَ

Żālika bi'annahum āmanū ṡumma kafarū faṭubi‘a ‘alā qulūbihim fahum lā yafqahūn(a).

Yang demikian itu karena sesungguhnya mereka telah beriman, kemudian kufur. Maka, hati mereka dikunci sehingga tidak dapat mengerti.

Makna Surat Al-Munafiqun Ayat 3
Isi Kandungan oleh Tafsir Wajiz

Orang-orang munafik melakukan perbuatan keji yang demikian itu karena sesungguhnya mereka telah mengaku beriman secara lisan, kemudian menjadi kafir, karena iman mereka hanya di mulut; maka hati mereka dikunci oleh diri mereka sendiri sehingga mereka tidak dapat mengerti pentingnya iman dan iman pun tidak akan pernah masuk ke dalam hati mereka karena terkunci.

Isi Kandungan oleh Tafsir Tahlili

Pada ayat ini, Allah menerangkan bahwa perbuatan jahat dan hina orang-orang munafik itu adalah karena mereka itu menampakkan iman pada lahiriahnya, kemudian mereka kafir dan ingkar dalam batinnya. Mereka itu tadinya memang beriman, lalu mereka kafir dan menyembunyikan kekafirannya yang menyebabkan hati mereka dikunci mati sehingga tidak dapat lagi memahami dan mengetahui mana yang baik, mana yang buruk, dan sebagainya. Akhirnya mereka itu tidak ada bedanya dengan orang-orang yang bisu, tuli, dan buta, sebagaimana disebutkan di dalam firman Allah:

وَمَثَلُ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا كَمَثَلِ الَّذِيْ يَنْعِقُ بِمَا لَا يَسْمَعُ اِلَّا دُعَاۤءً وَّنِدَاۤءً ۗ صُمٌّ ۢ بُكْمٌ عُمْيٌ فَهُمْ لَا يَعْقِلُوْنَ ١٧١

Dan perumpamaan bagi (penyeru) orang yang kafir adalah seperti (penggembala) yang meneriaki (binatang) yang tidak mendengar selain panggilan dan teriakan. (Mereka) tuli, bisu, dan buta, maka mereka tidak mengerti. (al-Baqarah/2: 171)

Isi Kandungan Kosakata

Khusyubun-Musannadah خُشُبٌ مُسَنَّدَةٌ (al-Munāfiqūn/63: 4)

Khusyubum-musannadah terdiri dari dua kata, yaitu khusyub dan musannadah. Yang pertama, khusyub, merupakan bentuk jamak dari kata khasyabah, yang artinya kayu. Bentuk jamak yang seperti ini hanya dipergunakan bila yang dimaksud adalah kayu yang jumlahnya sangat banyak sekali. Sedang jamak yang biasanya dipergunakan dan untuk menunjuk jumlah yang tidak sangat banyak adalah kata akhsyāb. Sebagian orang mengatakan bahwa khusyub merupakan jamak dari akhsyāb, yang merupakan bentuk jamak dari khasyabah. Dengan demikian, khusyub merupakan bentuk jamak dari jamak. Pemakaian kata ini pada ayat di atas untuk menggambarkan keadaan kaum munafik pada saat tersebut, yaitu bahwa jumlah mereka sangat banyak sekali. Sedang kata kedua, yaitu musannadah, merupakan bentuk isim maf‘ūl dari kata kerja asnada-yusnidu, yang artinya bersandar. Dengan demikian, musannadah artinya yang disandarkan.

Istilah khusyubun-musannadah, yang artinya kayu-kayu yang tersandar, pada ayat ini untuk menggambarkan bahwa orang munafik yang ada di Medinah itu sangat banyak. Namun demikian, mereka dinilai tidak memiliki daya hidup, karena hanya bersandar pada pendapat pimpinannya saja. Mereka tidak memiliki pijakan atau keyakinan yang kukuh, bagaikan kayu yang tidak berakar dan menancap dengan teguh di tanah.

Penelusuran

  • Pos
  • Akun
  • Baru
  • Film
  • Musik
  • Berita
  • KBBI
  • Kripto