Geligi Animasi
Geligi Semua Satu Platform
Ayat 2 - Surat Al-Munāfiqūn (Orang-Orang Munafik)
المنٰفقون
Ayat 2 / 11 •  Surat 63 / 114 •  Halaman 554 •  Quarter Hizb 56 •  Juz 28 •  Manzil 7 • Madaniyah

اِتَّخَذُوْٓا اَيْمَانَهُمْ جُنَّةً فَصَدُّوْا عَنْ سَبِيْلِ اللّٰهِ ۗاِنَّهُمْ سَاۤءَ مَا كَانُوْا يَعْمَلُوْنَ

Ittakhażū aimānahum junnatan faṣaddū ‘an sabīlillāh(i), innahum sā'a mā kānū ya‘malūn(a).

Mereka menjadikan sumpah-sumpah mereka sebagai perisai717) lalu mereka menghalang-halangi (orang lain) dari jalan Allah. Sesungguhnya apa yang selalu mereka kerjakan itu sangatlah buruk.

Makna Surat Al-Munafiqun Ayat 2
Isi Kandungan oleh Tafsir Wajiz

Ayat ini menjelaskan salah satu sifat orang munafik. Mereka menjadikan sumpah-sumpah mereka di hadapan Nabi dan orang-orang beriman sebagai perisai, yaitu mereka mengaku beriman hanya untuk menjaga agar diri mereka tidak dibunuh atau ditawan dan harta mereka tidak dirampas, ketika terjadi perang antara orang-orang Islam dengan orang-orang kafir. Setelah keadaan aman, lalu mereka menghalang-halangi masyarakat dari jalan Allah, yaitu dari beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Sungguh, betapa buruknya apa yang telah mereka kerjakan, pura-pura beriman untuk menyelamatkan diri, tetapi berusaha menghalangi masyarakat agar tidak beriman.

Isi Kandungan oleh Tafsir Tahlili

Pada ayat ini, Allah menerangkan bahwa dalam menguatkan pengakuannya yang palsu itu, orang-orang munafik itu berani bersumpah, tetapi hal itu hanya sebagai perisai untuk menyelamatkan diri dari hukuman bunuh, penahanan, atau pengambilan harta benda mereka sebagai ganīmah, sebagaimana hukuman yang dijatuhkan kepada orang-orang kafir. Qatādah berkata, “Setiap akan dijatuhi hukuman terhadap orang-orang munafik atas perbuatannya, mereka mengemukakan sumpah palsu untuk menyelamatkan jiwa, darah, dan harta benda mereka.” Tindakan mereka tidak terbatas dengan hal itu saja. Mereka juga menghalang-halangi manusia untuk masuk dan menganut agama Islam.

Ayat ini ditutup dengan satu ketegasan bahwa perbuatan orang-orang munafik itu adalah perbuatan yang paling jahat. Mereka lebih suka memilih kekafiran daripada iman, dan menampakkan apa yang berbeda dalam hatinya. Di dunia mereka akan kecewa dan di akhirat akan menyesal. Mereka akan dihina di depan khalayak ramai dengan menyatakan kemunafikan mereka kepada orang-orang mukmin di dunia ini. Sedangkan di akhirat, mereka akan dimasukkan ke dalam neraka Jahanam. Sejalan dengan ayat ini firman Allah:

اِنَّ الْمُنٰفِقِيْن َ فِى الدَّرْكِ الْاَسْفَلِ مِنَ النَّارِۚ وَلَنْ تَجِدَ لَهُمْ نَصِيْرًاۙ ١٤٥

Sungguh, orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka. Dan kamu tidak akan mendapat seorang penolong pun bagi mereka. (an-Nisā’/4: 145)

Firman Allah:

وَعَدَ اللّٰهُ الْمُنٰفِقِيْن َ وَالْمُنٰفِقٰت ِ وَالْكُفَّارَ نَارَ جَهَنَّمَ خٰلِدِيْنَ فِيْهَاۗ هِيَ حَسْبُهُمْ ۚوَلَعَنَهُمُ اللّٰهُ ۚوَلَهُمْ عَذَابٌ مُّقِيْمٌۙ ٦٨

Allah menjanjikan (mengancam) orang-orang munafik laki-laki dan perempuan dan orang-orang kafir dengan neraka Jahanam. Mereka kekal di dalamnya. Cukuplah (neraka) itu bagi mereka. Allah melaknat mereka; dan mereka mendapat azab yang kekal. (at-Taubah/9: 68)

Isi Kandungan Kosakata

Khusyubun-Musannadah خُشُبٌ مُسَنَّدَةٌ (al-Munāfiqūn/63: 4)

Khusyubum-musannadah terdiri dari dua kata, yaitu khusyub dan musannadah. Yang pertama, khusyub, merupakan bentuk jamak dari kata khasyabah, yang artinya kayu. Bentuk jamak yang seperti ini hanya dipergunakan bila yang dimaksud adalah kayu yang jumlahnya sangat banyak sekali. Sedang jamak yang biasanya dipergunakan dan untuk menunjuk jumlah yang tidak sangat banyak adalah kata akhsyāb. Sebagian orang mengatakan bahwa khusyub merupakan jamak dari akhsyāb, yang merupakan bentuk jamak dari khasyabah. Dengan demikian, khusyub merupakan bentuk jamak dari jamak. Pemakaian kata ini pada ayat di atas untuk menggambarkan keadaan kaum munafik pada saat tersebut, yaitu bahwa jumlah mereka sangat banyak sekali. Sedang kata kedua, yaitu musannadah, merupakan bentuk isim maf‘ūl dari kata kerja asnada-yusnidu, yang artinya bersandar. Dengan demikian, musannadah artinya yang disandarkan.

Istilah khusyubun-musannadah, yang artinya kayu-kayu yang tersandar, pada ayat ini untuk menggambarkan bahwa orang munafik yang ada di Medinah itu sangat banyak. Namun demikian, mereka dinilai tidak memiliki daya hidup, karena hanya bersandar pada pendapat pimpinannya saja. Mereka tidak memiliki pijakan atau keyakinan yang kukuh, bagaikan kayu yang tidak berakar dan menancap dengan teguh di tanah.

Penelusuran

  • Pos
  • Akun
  • Baru
  • Film
  • Musik
  • Berita
  • KBBI
  • Kripto