وَيْلٌ يَّوْمَىِٕذٍ لِّلْمُكَذِّبِيْنَ
Wailuy yauma'iżil lil-mukażżibīn(a).
Celakalah pada hari itu para pendusta (kebenaran).
35-37. Bagi yang mendustakan azab Allah tersebut, maka ayat ini menguraikan tentang kepastian datangnya azab tersebut. Inilah hari yaitu hari Kiamat, saat mereka tidak dapat berbicara pada waktu dan tempat-tempat tertentu, dan tidak diizinkan kepada mereka mengemukakan alasan agar mereka dimaafkan. Celakalah pada hari itu, bagi mereka yang mendustakan kebenaran.
Dalam ayat ini, Allah mengulangi lagi ancaman-Nya bahwa kecelakaan besar di hari itu bagi orang yang mendustakan. Sebab rasul telah mengajak mereka supaya beriman dan mengancam dengan memperingatkan mereka dengan akan datangnya azab yang mereka hadapi itu. Sayang mereka tidak mau menerima dan mendengarkan ajakan itu.
1. Bi Syararin بِشَرَرٍ (al-Mursalāt/77: 32)
Secara kebahasaan kata bi syarar terdiri dari dua kata, yaitu kata bi yang berarti dengan dan kata syarar yang berarti percikan-percikan api atau bunga api. Dalam konteks ayat ini, kata bi syarar bermakna pemberitahuan bahwa neraka itu menyemburkan percikan-percikan api yang dahsyat bagaikan bunga api yang sebesar dan setinggi istana.
2. Jimālatun جِمَالَتٌ (al-Mursalāt/77: 33)
Secara kebahasaan kata jimālat berarti unta-unta. Dalam konteks ayat ini, Allah mendiskripsikan dahsyatnya api neraka yang percikan-percikan apinya seolah-olah menyerupai unta-unta kuning yang beriring-iringan.
3. Wail وَيْل (al-Mursalāt/77: 40)
Secara kebahasaan kata wail merupakan kata jamid (kata yang tak terderivikasikan) yang berarti celakalah atau masuklah neraka wail. Dalam konteks ayat ini, pada hari Kiamat orang-orang yang mendustakan kebenaran misi kenabian Muhammad saw pasti celaka dan dimasukkan ke dalam neraka wail.










































