يَوْمَ يُكْشَفُ عَنْ سَاقٍ وَّيُدْعَوْنَ اِلَى السُّجُوْدِ فَلَا يَسْتَطِيْعُوْنَۙ
Yauma yuksyafu ‘an sāqiw wa yud‘auna ilas-sujūdi falā yastaṭī‘ūn(a).
(Ingatlah) pada hari ketika betis disingkapkan (yakni huru-hara di hari Kiamat) dan mereka diseru untuk bersujud. Namun, mereka tidak mampu.
Setelah tidak ditemukan lagi alasan atas anggapan mereka, ini berarti sikap mereka itu semata-mata sebagai bentuk pembangkangan terhadap Allah dan Rasul-Nya. lngatlah pada hari ketika betis disingkapkan, yaitu menggambarkan keadaan orang yang sedang ketakutan yang hendak lari karena hebatnya huru-hara hari Kiamat dan mereka diseru untuk bersujud. maka mereka tidak mampu.
Ayat ini menyatakan kepada orang-orang kafir Mekah bahwa jika mereka mempunyai penjamin kebenaran perkataan mereka bahwa mereka pasti akan masuk surga seperti orang-orang mukmin masuk surga, maka cobalah datangkan saksi atau penjamin itu nanti pada hari Kiamat. Pada hari itu, semua orang dalam keadaan ketakutan dan sedang berusaha lari dari ketakutan itu. Pada hari itu mereka diminta sujud untuk menguji keimanan mereka padahal mereka tidak sanggup lagi sujud, karena persendian tulang-tulang mereka telah lemah, karena azab telah meliputi mereka dari atas dan bawah, serta dari samping kanan dan kiri. Hari yang seperti itu pasti datang dan huru-hara seperti yang dimaksudkan itu pasti terjadi. Pada saat itu, tiada satu pun tempat berlindung kecuali Allah, Tuhan Yang Mahakuasa.
1. Tadrusūn تَدْرُسُوْنَ (al-Qalam/68: 37)
Tadrusūn berarti mempelajari atau meneliti sesuatu guna diambil manfaatnya. Dalam konteks ayat ini, tadrusūn adalah membahas dan mendiskusikan kitab suci untuk mengambil informasi dan pesan-pesan yang dikandungnya. Pertanyaan menyangkut adanya kitab suci yang mereka baca dan pelajari merupakan sindiran terhadap orang-orang musyrik Mekah karena seandainya mereka memiliki kitab suci, mereka juga tidak bisa membacanya karena kebanyakan dari mereka buta huruf.
2. Takhayyarūn تَخَيَّرُوْنَ (al-Qalam/68: 38)
Takhayyarūn berasal dari kata al-khair, yaitu segala sesuatu yang diinginkan. Akar katanya adalah “kha-ya-ra” yang artinya menyenangi atau cenderung. Al-Khair adalah lawan dari asy-syar yaitu kejahatan. Dari sini muncul kata khayyara yang berarti memilih. Ayat ini mempertanyakan kepada orang-orang musyrik Mekah apakah mereka memiliki kitab suci yang di dalamnya mereka bisa atau boleh memilih secara sungguh-sungguh apa yang mereka sukai. Juga dijelaskan tentang ganjaran yang diancamkan Allah kepada mereka.














































