اَمْ لَهُمْ شُرَكَاۤءُۚ فَلْيَأْتُوْا بِشُرَكَاۤىِٕهِمْ اِنْ كَانُوْا صٰدِقِيْنَ
Am lahum syurakā'(u), falya'tū bisyurakā'ihim in kānū ṣādiqīn(a).
Atau, apakah mereka mempunyai sekutu-sekutu? Kalau begitu, hendaklah mereka mendatangkan sekutu-sekutunya jika mereka orang-orang benar.
Atau apakah mungkin mereka mempunyai sekutu-sekutu? Kalau begitu hendaklah mereka mendatangkan sekutu-sekutunya jika mereka orang-orang yang benar dalam ucapan mereka bahwa mereka akan memperoleh sama bahkan lebih dari perolehan kaum muslim.
Dalam ayat ini, kembali Nabi Muhammad diperintahkan untuk menanyakan kepada orang-orang kafir itu apakah mereka mempunyai sekutu-sekutu yang dapat menjamin kebenaran perkataan yang mereka ucapkan. Jika ada, cobalah kemukakan atau mendatangkannya untuk membuktikan jaminan mereka.
Yang dimaksud dengan “sekutu-sekutu” mereka dalam ayat ini ialah semua yang mereka sembah selain Allah, seperti patung Lāta, ‘Uzzā, Manāh, dan sebagainya. Juga termasuk di dalamnya orang-orang yang mereka hormati, dan pemuka-pemuka agama mereka.
Dengan pertanyaan terakhir ini, orang-orang kafir Mekah bertambah diam dan bungkam karena ternyata tuhan-tuhan yang mereka sembah selain Allah, para ahli sastra mereka yang terkenal, seperti al-Walīd bin al-Mugīrah, dan lain-lain tidak sanggup mengemukakan atau mendatangkannya.
1. Tadrusūn تَدْرُسُوْنَ (al-Qalam/68: 37)
Tadrusūn berarti mempelajari atau meneliti sesuatu guna diambil manfaatnya. Dalam konteks ayat ini, tadrusūn adalah membahas dan mendiskusikan kitab suci untuk mengambil informasi dan pesan-pesan yang dikandungnya. Pertanyaan menyangkut adanya kitab suci yang mereka baca dan pelajari merupakan sindiran terhadap orang-orang musyrik Mekah karena seandainya mereka memiliki kitab suci, mereka juga tidak bisa membacanya karena kebanyakan dari mereka buta huruf.
2. Takhayyarūn تَخَيَّرُوْنَ (al-Qalam/68: 38)
Takhayyarūn berasal dari kata al-khair, yaitu segala sesuatu yang diinginkan. Akar katanya adalah “kha-ya-ra” yang artinya menyenangi atau cenderung. Al-Khair adalah lawan dari asy-syar yaitu kejahatan. Dari sini muncul kata khayyara yang berarti memilih. Ayat ini mempertanyakan kepada orang-orang musyrik Mekah apakah mereka memiliki kitab suci yang di dalamnya mereka bisa atau boleh memilih secara sungguh-sungguh apa yang mereka sukai. Juga dijelaskan tentang ganjaran yang diancamkan Allah kepada mereka.

















































