فَسَتُبْصِرُ وَيُبْصِرُوْنَۙ
Fasatubṣiru wa yubṣirūn(a).
Kelak engkau akan melihat dan mereka (orang-orang kafir) pun akan melihat,
Maka kelak engkau wahai Nabi Muhammad akan melihat dan me-ngetahui, dan mereka yaitu orang-orang kafir itu pun akan melihat dan mengetahui ketika telah jelas kebenaran pada hari Kiamat,
Kedua ayat ini merupakan peringatan kepada kaum musyrikin dan menyatakan dengan pasti bahwa mereka benar-benar dalam keadaan sesat, karena tidak berapa lama lagi akan kelihatan kebenaran ajaran agama yang dibawa Nabi Muhammad saw. Akan kelihatan kekuatan Islam dan kelemahan kaum musyrikin itu. Kaum Muslimin akan mengalahkan mereka, dan agama Islam menjadi ajaran yang tersebar luas.
Dengan keterangan ini jelaslah bahwa Nabi Muhammad saw tidak gila, tetapi orang-orang kafir yang menolak kebenaran dan terus menerus mengikuti hawa nafsu itulah yang kehilangan akal sehat. Hal ini justru berbahaya bagi mereka karena sikap dan pendirian yang salah ini akan membawa kehancuran dan kehinaan bagi mereka. Di dunia mereka akan kehilangan pengaruh dan kekuasaan seperti terjadi pada beberapa kali peperangan dengan orang Islam yaitu pada Perang Badar, Perang Uhud, dan Perang Khandaq. Di akhirat mereka pasti akan menyesali kesesatan mereka karena akan mendapat siksa yang pedih karena penolakan mereka pada dakwah Nabi Muhammad saw.
Pada hari Kiamat, semua perbuatan manusia dihisab, ditimbang, dan diperlihatkan kepada masing-masing mereka. Di saat itu, kaum musyrikin melihat dengan nyata, siapakah di antara mereka yang benar, apakah Rasul yang mereka tuduh gila ataukah mereka sendiri? Di sini tampak dengan jelas bahwa Nabi Muhammad saw adalah yang benar, sedangkan mereka dilemparkan ke dalam neraka Jahanam. Firman Allah:
سَيَعْلَمُ وْنَ غَدًا مَّنِ الْكَذَّابُ الْاَشِرُ ٢٦
Kelak mereka akan mengetahui siapa yang sebenarnya sangat pendusta (dan) sombong itu. (al-Qamar/54: 26)
1. Al-Qalam الْقَلَمُ (al-Qalam/68: 1)
Al-Qalam bisa berarti pena tertentu atau alat tulis apa pun termasuk komputer. Ada yang berpendapat bahwa al-qalam bermakna pena tertentu seperti pena yang digunakan oleh para malaikat untuk menulis takdir baik dan buruk manusia serta segala kejadian yang tercatat dalam Lauḥ Maḥfūz atau pena yang digunakan oleh para sahabat untuk menuliskan Al-Qur’an dan pena yang digunakan untuk menuliskan amal baik dan buruknya manusia. Namun pendapat ulama yang mengatakan bahwa yang dimaksud dengan pena adalah alat tulis apa pun termasuk komputer adalah pendapat yang lebih tepat karena sejalan dengan kata perintah iqra‘ (bacalah). Allah seakan bersumpah dengan manfaat dan kebaikan yang diperoleh dari tulisan. Hal ini mengisyaratkan anjuran untuk membaca karena banyak manfaat yang diperoleh dengan membaca dengan syarat membacanya disertai dengan bismirabbik (dengan nama Tuhanmu) dan mencapai keridaan Allah.
2. Gaira Mamnūn غَيْرَ مَمْنُوْنٍ (al-Qalam/68: 3)
Gaira mamnūn artinya tidak pernah terputus. Asal katanya al-mann, yang berarti putus atau menyebut-nyebut pemberian sehingga menyinggung perasaan orang yang diberi. Jika al-mann dimaknai dengan kata putus, maka pemberian ganjaran Allah akan berlangsung terus menerus tanpa henti. Jika al-mann dimaknai dengan makna kedua (menyebut-nyebut pemberian sehingga menyinggung perasaan orang yang diberi), maka kata ini hanya tertuju kepada Nabi, kendati sangat banyak anugerah Allah kepada beliau, tetapi tidak disebut-sebut dalam bentuk merendahkan posisi Nabi atau menyakiti hati beliau.
















































