وَنَبِّئْهُمْ اَنَّ الْمَاۤءَ قِسْمَةٌ ۢ بَيْنَهُمْۚ كُلُّ شِرْبٍ مُّحْتَضَرٌ
Wa nabbi'hum annal-mā'a qismatum bainahum, kullu syirbim muḥtaḍar(un).
Beri tahulah mereka bahwa air itu dibagi di antara mereka (dengan unta betina itu). Setiap pihak berhak mendapat giliran minum.
Wahai Nabi Saleh, dan beritahukanlah kepada mereka, yaitu kaum Samud, bahwa air sumur yang menjadi sumber minum mereka itu dibagi di antara mereka dengan unta betina itu; setiap orang berhak mendapat giliran minum dan hanya bisa mengambil jatah sesuai giliran tersebut.
Allah memerintahkan Nabi Saleh supaya memberitahukan kepada kaumnya tentang pembagian air sumur antara mereka dan unta, yaitu sehari untuk unta betina dan sehari untuk mereka. Masing-masing datang menurut gilirannya untuk mengambil air sumur itu.
1. Asyir اَشِرٌ (al-Qamar/54: 25)
Asyir artinya sombong. Ibnu Fāris mengartikannya sebagai keras kepala, suka tergesa-gesa, dan mengingkari kenikmatan. Sedangkan menurut al-Aṣfahānī, asyir bermakna lebih dari hanya sekadar mengingkari nikmat Allah. Ayat ini menggambarkan sikap Kaum Ṡamūd yang menolak mengikuti risalah Nabi Saleh, karena menganggap Nabi Saleh tidak memiliki kelebihan dan keistimewaan dibandingkan dengan mereka bahkan mereka menganggap Nabi Saleh itu sombong.
2. Al-Muḥtaẓir الْمُحْتَظِر (al-Qamar/54: 31)
Al-Muḥtaẓir artinya kandang ternak. Berasal dari kata al-ḥaẓru, artinya mencegah dan melarang. Wal-ḥiẓar artinya kandang ternak, sedangkan al-muḥtaẓir adalah orang yang bekerja di kandang ternak atau pemilik kandang ternak itu sendiri. Ayat ini menjelaskan bagaimana azab Allah berupa suara yang dahsyat yang menggelegar dan menghantam kaum Ṡamūd sehingga mereka binasa bagaikan rumput kering yang dikumpulkan oleh pemilik kandang ternak.














































