وَلَقَدْ يَسَّرْنَا الْقُرْاٰنَ لِلذِّكْرِ فَهَلْ مِنْ مُّدَّكِرٍ ࣖ
Wa laqad yassarnal-qur'āna liż-żikri fahal mim muddakir(in).
Sungguh, Kami benar-benar telah memudahkan Al-Qur’an sebagai pelajaran. Maka, adakah orang yang mau mengambil pelajaran?
Allah menuturkan kisah ini untuk mengingatkan betapa besar nikmat-Nya kepada manusia. Allah ingin agar manusia mau mengambil dari kisah itu pelajaran bagi kehidupannya. Dan sungguh, telah Kami mudahkan Al-Qur’an untuk dijadikan peringatan, maka adakah orang yang secara sungguh-sungguh mau mengambil pelajaran darinya sehingga Allah melimpahkan karunia dan membantunya memahami isinya?
Tafsir ayat ini sebagaimana yang telah diterangkan pada ayat 32 surah ini yang selalu dijadikan penutup dari masing-masing empat kisah tersebut (yaitu kisah kaum Nuh, kisah kaum ‘Ād, kisah kaum Ṡamūd dan kisah kaum Lut).
Allah juga kembali menegaskan bahwa Al-Qur’an mudah difahami dan diambil sebagai peringatan karena Allah menyampaikan contoh yang gamblang di dalamnya, karena itu manusia seharusnya mengimaninya dalam menjalankan ajaran-ajaran yang terdapat di dalamnya supaya mereka bahagia di dunia dan di akhirat.
1. Fatamārau فَتَمَارَوْا (al-Qamar/54: 36)
Fatamārau artinya meragukan, asal katanya al-miryah yaitu ragu-ragu dalam suatu persoalan. Bermakna lebih khusus daripada syakk. Ayat ini menjelaskan bagaimana azab yang menimpa kaum Nabi Lut membinasakan mereka padahal Allah telah memberi peringatan, namun mereka meragukan peringatan tersebut sehingga azab benar-benar menimpa.
2. Faṭamasnā فَطَمَسْنَا (al-Qamar/54: 37)
Faṭamsnā artinya membutakan. Berasal dari aṭ-ṭamsu, artinya menghilangkan bekas-bekasnya. Arti faṭamasnā adalah menghilangkan penglihatan seperti menghilangkan bekas-bekas atau sisa-sisa dari sesuatu. Ayat ini menggambarkan hukum Allah atas orang-orang yang durhaka kepada nabinya, yaitu Nabi Lut, bahkan mereka ingin melakukan hubungan sodomi dengan tamu-tamu Nabi Lut, sehingga Allah membutakan mata mereka.









































