كَذَّبَتْ عَادٌ فَكَيْفَ كَانَ عَذَابِيْ وَنُذُرِ
Każżabat ‘ādun fa kaifa kāna ‘ażābī wa nużur(i).
(Kaum) ‘Ad pun telah mendustakan (rasul mereka). Maka, betapa dahsyatnya azab dan peringatan-Ku!
Sebagaimana kaum Nabi Nuh, kaum ‘Ad pun mengingkari dakwah nabi mereka, Nabi Hud. Kaum ‘Ad pun telah mendustakan Nabi Hud yang telah Kami utus kepada mereka. Kami binasakan mereka, maka lihatlah betapa dahsyatnya azab-Ku dan peringatan-Ku yang telah Kusampaikan melalui rasul-rasul-Ku.
Dalam ayat ini Allah menyatakan bahwa kaum ‘Ād memandang nabi mereka dan risalah yang ia bawa untuk mereka adalah bohong. Kepada kaum yang mendustakan para rasul itu, Allah telah menyampaikan peringatan dan menurunkan azab yang sangat dahsyat. Hal tersebut hendaknya dijadikan iktibar oleh orang-orang yang datang kemudian.
1. Rīḥan Ṣarṣaran رِيْحًا صَرْصَرًا (al-Qamar/54:19)
Rīḥ ṣarṣar artinya angin yang sangat kencang, asal katanya aṣ-ṣarru, artinya kencang, kuat. Dari kata ini timbul kata al-iṣrar yang berarti tekad yang membaja dan kata ṣarṣar yang artinya sangat kencang. Dalam ayat ini Allah menghembuskan angin yang sangat kencang kepada kaum ‘Ād sebagai hukuman atas kedurhakaan mereka kepada Allah dan rasul-Nya.
2. Yaumi Naḥsin يَوْمِ نَحْسٍ (al-Qamar/54: 19)
Yaumi naḥsin artinya hari yang sial, berasal dari kata an-naḥsu yang berarti memerahnya ufuk, sehingga menjadi seperti api yang menyala tanpa asap. Kata ini kemudian digunakan dalam arti lawan kata dari kebahagiaan atau sial. Kata naḥs disebutkan dalam Al-Qur’an satu kali dalam bentuk tunggal (al-Qamar/54: 19) dan satu kali disebutkan dalam bentuk jama‘ (Fuṣṣilat/41: 16). Ayat ini tidak bisa dijadikan dalil untuk menyatakan bahwa Al-Qur’an mengakui adanya hari sial. Kesialan pada ayat di atas khusus terjadi pada saat terjadinya angin yang bertiup terus menerus menimpa kaum ‘Ād yang mengakibatkan kebinasaan mereka. Allah juga menyebutkan hari bahagia yang penuh berkah pada (ad-Dukhān /44:3) dan (al-Qadr/97:3).
3. Munqa‘ir مُنْقَعِر (al-Qamar/54 : 20)
Munqa‘ir artinya bagian yang terdalam dari satu lubang, seperti dasar sumur. Kata al-munqa‘ir dalam ayat ini mengisyaratkan bahwa mereka benar-benar tewas tidak bisa bangkit lagi, seperti pohon kurma yang tumbang, tercabut mulai dari akarnya sehingga tidak ada lagi bekas-bekasnya. Kata al-munqa‘ir hanya disebutkan satu kali dalam Al-Qur’an yaitu dalam ayat ini.
















































