يَوْمَ يَكُوْنُ النَّاسُ كَالْفَرَاشِ الْمَبْثُوْثِۙ
Yauma yakūnun-nāsu kal-farāsyil-mabṡūṡ(i).
Pada hari itu manusia seperti laron yang beterbangan
Allah menggambarkan dahsyatnya hari kiamat melalui dua hal, yaitu keadaan manusia dan gunung-gunung. Pada hari kiamat itu manusia seperti laron yang beterbangan. Mereka berlarian tidak tentu arah, kacau balau, dan tidak lagi menghiraukan sekelilingnya.
Karena sangat sulit mengetahui hakikat al-qāri‘ah, maka dalam ayat ini Allah menjelaskan waktu kedatangannya. Ketika itu, keadaan manusia bagaikan laron yang beterbangan di sekeliling lampu pada malam hari. Penyerupaan ini adalah untuk menggambarkan keadaan manusia yang kebingungan dan tidak menentu arah tujuannya.
Manusia pada hari yang dahsyat itu bertebaran di mana-mana, bingung, dan tidak tahu ke mana akan dituju, apa yang akan dikerjakan, dan untuk apa mereka dikumpulkan di sana. Kondisi ini tidak ubahnya seperti anai-anai yang tidak berketentuan arahnya. Dalam ayat lain, Allah berfirman:
كَاَنَّه ُمْ جَرَادٌ مُّنْتَشِرٌۙ
Se akan-akan mereka belalang yang beterbangan. (al-Qamar/54 : 7)
Al-Qāri‘ah الْقَارِعَة (al-Qāri‘ah/101: 1)
Kata al-qāri‘ah terambil dari kata qara‘a-yaqra‘u-qar‘an, yang berarti mengetuk. Kata al-qāri‘ah juga diartikan sebagai suatu yang keras mengetuk sehingga memekakkan telinga. Hal ini terjadi pada awal terjadinya hari Kiamat, karena suara menggelegar yang diakibatkan oleh kehancuran alam raya sedemikian keras, sehingga bagaikan mengetuk lalu memekakkan telinga, bahkan hati dan pikiran manusia. Oleh sebab itu, nama hari Kiamat, salah satunya dinamai al-qāri‘ah dan sebagai salah satu nama surah dalam Al-Qur’an.
Kata al-qāri‘ah disebutkan 4 kali dalam Al-Qur’an dan 3 kali dari kata-kata tersebut terdapat pada Surah al-Qāri‘ah dan 1 kali dalam Surah al-Ḥāqqah ayat 4. Ada pula disebutkan dalam bentuk nakirah yaitu qāri‘ah (tanpa alif lām) disebutkan hanya 1 kali yaitu pada Surah ar-Ra‘d ayat 31.













































