Geligi Animasi
Geligi Semua Satu Platform
Ayat 8 - Surat Al-Qaṣaṣ (Kisah-Kisah)
القصص
Ayat 8 / 88 •  Surat 28 / 114 •  Halaman 386 •  Quarter Hizb 39.25 •  Juz 20 •  Manzil 5 • Makkiyah

فَالْتَقَطَهٗٓ اٰلُ فِرْعَوْنَ لِيَكُوْنَ لَهُمْ عَدُوًّا وَّحَزَنًاۗ اِنَّ فِرْعَوْنَ وَهَامٰنَ وَجُنُوْدَهُمَا كَانُوْا خٰطِـِٕيْنَ

Faltaqaṭahū ālu fir‘auna liyakūna lahum ‘aduwwaw wa ḥazanā(n), inna fir‘auna wa hāmāna wa junūdahumā kānū khāṭi'īn(a).

Kemudian, keluarga Firʻaun memungutnya agar (kelak) dia menjadi musuh dan (penyebab) kesedihan bagi mereka. Sesungguhnya Firʻaun, Haman, dan bala tentaranya adalah orang-orang salah.

Makna Surat Al-Qasas Ayat 8
Isi Kandungan oleh Tafsir Wajiz

Berdasarkan wahyu yang berupa ilham tersebut, maka ibu Musa menghanyutkannya di sungai dan setelah mengapung beberapa saat dia dipungut oleh keluarga Fir'aun agar pada akhirnya kelak dia yakni Musa yang dipungut itu menjadi musuh karena menantang ajaran Fir’aun, dan menjadi sumber dan penyebab kesedihan bagi mereka yakni Fir’aun dan rezimnya, karena dialah akan menghancurkan mereka. Sungguh, Fir’aun dan Haman bersama bala tentaranya dan pendukung-pendukungnya adalah orang-orang bersalah dan berdosa karena berencana melakukan itu dengan sengaja dan disertai kebulatan tekad.

Isi Kandungan oleh Tafsir Tahlili

Pada ayat ini dijelaskan bagaimana ibu Musa melaksanakan ilham yang diterimanya karena ia yakin apa yang dijanjikan Allah kepadanya pasti terjadi. Setelah bayi Musa dibungkus badannya dan dimasukkan ke dalam peti, Musa dihanyutkan ke sungai Nil dan arus sungai membawanya ke arah istana Fir‘aun yang dibangun di tepi sungai itu.

Salah seorang keluarga Fir‘aun melihat peti itu terapung-apung dibawa arus sungai dan segera mengambil dan membawanya kepada istri Fir‘aun. Setelah dibuka, ia sangat terkejut ketika melihat bahwa isi peti itu adalah seorang bayi. Saat itu juga timbul kasih sayang istri Fir‘aun kepada bayi itu. Dengan cepat dibawanya bayi itu kepada Fir‘aun. Tanpa ragu-ragu Fir‘aun memerintahkan supaya bayi itu dibunuh karena takut kalau ia keturunan Bani Israil. Akan tetapi, istri Fir‘aun membujuknya agar tidak membunuh bayi itu, dan mengangkatnya sebagai anak dengan harapan kelak anak itu akan berjasa kepada Fir‘aun dan kerajaannya. Akhirnya Fir‘aun mengizinkan anak itu diasuh dan dipelihara oleh istrinya, tanpa menyadari bahwa Allah menghendaki kejadian ini.

Allah menghendaki apabila anak itu dewasa nanti, ia akan menjadi musuh Fir‘aun yang paling besar dan akan menumbangkan kekuasaannya, bukan menjadi anak yang akan berjasa dan berbakti kepadanya. Demikianlah Allah menakdirkan keruntuhan kekuasaan Fir‘aun, sebagai balasan atas kesombongan, kezaliman, dan kekejamannya terhadap Bani Israil. Sesungguhnya Fir‘aun, Hāmān, dan tentaranya telah berbuat kesalahan besar dengan melakukan kekejaman itu. Sudah sewajarnya Allah menghancurkan kekuasaan Fir‘aun itu dengan perantaraan seorang keturunan Bani Israil yang dihinakannya.

Isi Kandungan Kosakata

1. Fil Yammi فِى الْيَمِّ (al-Qaṣaṣ/28: 7)

Term ini terdiri dari dua kata, yaitu fī dan al-yamm. Kata pertama merupakan ḥarf jarr atau preposisi (kata depan) yang berarti di atau pada. Sedang kata kedua, secara bahasa maknanya samudra atau lautan yang sangat besar dan luas. Penggunaan kata al-yamm ini dimaksudkan untuk menunjuk sungai Nil yang memang sangat panjang dan luas. Sungai ini dinilai sebagai sungai terpanjang di dunia. Panjangnya mencapai sekitar 6.700 km. Sungai ini memanjang dari Afrika bagian tengah sampai ke Laut Tengah, dan melewati beberapa negara, yaitu Tanzania, Rwanda, Burundi, Kenya, Zaire, Uganda, Ethiopia, Sudan, dan Mesir.

Pemilihan kata ini dengan makna sungai Nil untuk mengisyaratkan betapa luas dan besar sungai yang menjadi tempat Musa dilemparkan atau dihanyutkan, sehingga nasibnya sulit untuk diramalkan. Hal itu juga dimaksudkan untuk menunjukkan betapa besar tawakal atau pasrahnya si ibu kepada Allah, sehingga rela melemparkan anaknya ke sungai yang sangat panjang dan deras arusnya itu.

2. Fārigan فَارِغًا (al-Qaṣaṣ/28:10)

Kata fārigan terambil dari kata faraga-yafragu, yang artinya kosong setelah sebelumnya penuh. Makna demikian digunakan baik dalam arti material maupun immaterial. Suatu gelas yang tadinya penuh dengan air, kemudian menjadi kosong setelah airnya diminum atau tumpah. Demikian pula hati manusia, pada saat menghadapi suatu masalah merasakan kegelisahan dan kekhawatiran, kemudian menjadi tenang dan lega, kosong dari kerisauan karena persoalannya telah dapat diatasi. Kedua keadaan itu dapat digambarkan dengan kata yang berakar dari faraga. Kata ini dipergunakan pada ayat ini untuk menunjukkan perasaan hati ibu Musa setelah mengetahui bahwa putranya, Musa, ternyata selamat karena diambil istri Fir‘aun dan diangkat sebagai anaknya.

3. Yakfulūnahu يَكْفُلُوْنَهُ (al-Qaṣaṣ/28:12)

Kata yakfulūna berasal dari kata kerja kafala-yakfulu, yang artinya memelihara dengan tekun dan penuh kasih sayang, yaitu sikap yang selalu ditunjukkan oleh seorang ibu yang merawat anak kandungnya. Kata ini dipergunakan dan dipilih pada ayat ini untuk menunjukkan pemeliharaan yang baik dan penuh kasih sayang, sebagaimana yang selalu dilakukan oleh seorang ibu kepada anaknya. Makna demikian sangat sesuai karena perempuan yang ditunjuk untuk menyusui Musa memang ibu kandungnya sendiri. Oleh karena itu, tidak berlebihan bila saudara Musa mengemukakan permohonannya kepada istri Fir‘aun dengan kata tersebut.

Penelusuran

  • Pos
  • Akun
  • Baru
  • Film
  • Musik
  • Berita
  • KBBI
  • Kripto