وَلَمَّا بَلَغَ اَشُدَّهٗ وَاسْتَوٰىٓ اٰتَيْنٰهُ حُكْمًا وَّعِلْمًاۗ وَكَذٰلِكَ نَجْزِى الْمُحْسِنِيْنَ
Wa lammā balaga asyuddahū wastawā ātaināhu ḥukmaw wa ‘ilmā(n), wa każālika najzil-muḥsinīn(a).
Setelah dia (Musa) dewasa dan sempurna akalnya, Kami menganugerahkan kepadanya hikmah dan pengetahuan. Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat kebajikan.
Janji Allah untuk menjadikan Musa sebagai salah seorang rasul dari kalangan bani lsrail itu benar. Dan kisahnya bermula dari setelah Musa dewasa dan sempurna jasmani dan akalnya, Kami anugerahkan kepadanya hikmah yakni kenabian, kearifan, amal ilmiah dan pengetahuan yakni ilmu amaliah. Dan demikianlah, sebagaimana Kami telah memberi balasan kepada Musa atas ketaatannya, Kami juga akan memberi balasan kepada orang-orang yang selalu berbuat baik.
Pada ayat-ayat ini diterangkan bahwa setelah dewasa, Allah mengaruniakan kepada Musa ilmu dan hikmah karena ketaatan dan kepatuhannya kepada Tuhan serta kesabarannya menghadapi berbagai cobaan. Sudah sewajarnyalah bila Musa mengetahui dari ibunya bagaimana ia sampai dapat tinggal di istana keluarga raja Fir‘aun, padahal ia hanya anak orang biasa dari Bani Israil yang selalu dihina dan diperhamba oleh Fir‘aun dan kaumnya. Hal ini akan menimbulkan simpati Musa kepada Bani Israil walaupun Fir‘aun telah berjasa mendidik dan mengasuhnya semenjak kecil sampai menjadi seorang laki-laki dewasa yang sehat wal afiat, baik fisik maupun mentalnya.
Rasa simpati kepada kerabat dan kaumnya adalah naluri yang tidak dapat dipisahkan dari jiwa seseorang, apalagi dari diri Musa yang setiap hari melihat Bani Israil ditindas dan dianiaya oleh orang-orang Qibṭi penduduk negeri Mesir. Akan tetapi, berkat kesabaran yang dimilikinya, sebagai karunia Allah, ia dapat menahan hatinya sampai Allah memberikan jalan baginya untuk mengangkat kaumnya dari lembah kehinaan dan penderitaan. Karena kesabaran, kebaikan budi dan tingkah laku, serta kepatuhannya menjalankan ajaran agama, Musa dikaruniai Allah ilmu dan hikmah sebagai persiapan untuk diangkat menjadi rasul. Ia diutus untuk menyampaikan risalah Allah kepada kaumnya dan Fir‘aun yang sangat sombong, takabur, dan mengangkat dirinya sebagai tuhan.
1. Faqaḍā ‘Alaihi فَقَضَي عَلَيْهِ (al-Qaṣaṣ/28: 15)
Kata ini terdiri dari empat unsur, yaitu fa’ sebagai konjungsi dengan arti ‘maka’, qaḍā sebagai kata kerja dengan arti ‘melakukan’ atau ‘mematikan’, ‘alā sebagai preposisi (kata depan) dengan arti ‘atas’, dan hi sebagai kata ganti dengan arti ‘nya’. Ada dua alasan kata qaḍā dengan arti mematikan dipilih pada ayat ini, dan bukan kata qatala (membunuh). Pertama, Musa memang tidak berniat untuk membunuh ketika meninju orang tersebut. Ia hanya ingin membela orang teraniaya yang meminta pertolongan kepadanya, yang ternyata berasal dari kaumnya. Kedua, Musa dikenal sebagai pemuda yang gagah dan kuat tenaganya, di samping dikenal pula sebagai orang yang tegas dan keras sikapnya. Karena kuatnya tenaga yang dimiliki, maka tinjunya juga sangat keras, dan orang yang ditinju tidak kuat menahannya, hingga akhirnya mati, walaupun Musa tidak bermaksud untuk membunuhnya.
2. Lagawiyyun Mubīn لَغَوِيٌّ مُبِيْنٌ (al-Qaṣaṣ/28: 18)
Kata ini terdiri dari tiga unsur, yaitu la sebagai kata penguat, gawiyyun sebagai kata yang disifati, dan mubīn sebagai sifat. Gawiyyun berarti sesat. Yang dimaksud di sini adalah seseorang yang melakukan tindakan yang tidak benar, tidak memakai dasar pemikiran yang tepat sebagai alasan dari perbuatannya, dan tidak mempunyai pandangan jauh ke depan tentang apa akibat dari perbuatannya. Kata ini untuk mengkritik atau mencela orang yang telah ditolong Musa. Dikatakan demikian, karena orang itu berani bertengkar dan berkelahi dengan orang yang lebih kuat darinya, yang merupakan penduduk asli Mesir, memiliki banyak teman, dan pasti akan dibela Fir‘aun. Dengan makna inilah kata sesat yang dimaksud dalam ayat ini, dan bukannya dalam arti kedurhakaan atau dosa. Sebab bila maknanya dosa, maka Musa pasti tidak akan mau menolongnya.















































